Teror yang Menimpa Aktivis dan Influencer di Indonesia
Beberapa tokoh publik di Indonesia, termasuk aktivis dan influencer, kini menjadi korban teror dalam berbagai bentuk. Mereka adalah Iqbal Damanik dari Greenpeace, Virdian Aurellio, Sherly Annavita, DJ Donny, dan Yama Carlos. Teror yang mereka alami mencakup ancaman fisik maupun digital, serta tindakan yang menunjukkan ketidaknyamanan dan rasa takut.
Bentuk-Bentuk Teror yang Dialami
Teror yang diterima oleh para aktivis dan influencer ini bervariasi. Beberapa di antaranya menerima kiriman bangkai ayam tanpa pembungkus, telur busuk, hingga bom molotov yang dilemparkan ke rumah mereka. Selain itu, mobil mereka juga dicoret-coret, nomor telepon pribadi diretas, hingga adanya pengiriman barang COD palsu dengan nilai mencapai jutaan rupiah.
Bahkan, beberapa dari mereka mengalami perusakan kendaraan. Contohnya, Sherly Annavita mengaku kendaraannya dicoret-coret oleh orang tak dikenal. Ia juga menerima kiriman telur busuk dengan pesan agar tidak memanfaatkan bencana di Aceh.
Sementara itu, Yama Carlos mengatakan bahwa dirinya mendapat ancaman melalui nomor tak dikenal untuk menghapus kontennya selama seminggu terakhir. Istrinya juga mendapatkan pesanan fiktif dengan metode COD. Yama menduga hal ini terjadi karena ia membuat konten yang mengkritik pemerintah.
Pengalaman Pribadi dari Iqbal Damanik dan DJ Donny
Iqbal Damanik, manajer kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, menerima kiriman bangkai ayam tanpa pembungkus pada hari Selasa (30/12/2025). Di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas dengan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.
DJ Donny juga mengalami dua kali teror. Pertama, ia menerima paket potongan bangkai ayam beserta tulisan bernada intimidasi. Kedua, dua orang tak dikenal melemparkan bom molotov ke arah rumahnya pada Rabu (31/12/2025) dini hari.
Teror yang Mengancam Keluarga
Yama Carlos menyebut bahwa pelaku teror tidak hanya menargetkan dirinya, tetapi juga keluarganya. Salah satu contohnya adalah ibu dari temannya, AB, yang diketahui nomornya diretas dan diancam agar Yama menghapus 12 konten di akun TikTok-nya. Bahkan, nomor ponsel istrinya dan nenek dari anak laki-lakinya juga menjadi sasaran.
Konten yang Diduga Memicu Teror
Menurut Yama, konten yang diduga menjadi pemicu teror adalah video parodi seorang pejabat negara tengah menghadapi bencana Sumatra. Meskipun video tersebut tidak menyebutkan nama atau pihak tertentu, ia mengaku hanya ada satu konten yang bersifat ekspresi personal dalam bentuk satir.
Belum Berniat Melaporkan ke Polisi
Meskipun mengalami teror, Yama belum berniat melaporkannya ke aparat kepolisian. Ia mengungkapkan keraguan terhadap proses laporan yang akan dilakukan. Menurutnya, meskipun laporan masyarakat akan diterima, proses lanjutan sering kali membutuhkan berbagai kelengkapan dan bukti.
“[…] saya pengen lapor, jujur, tapi pertanyaan lanjutannya apakah setelah saya melapor laporan saya akan diproses. […] Semua orang juga tahulah, laporan yang bakal diproses itu kan pasti butuh kelengkapan-kelengkapan, belum alat-alat buktinya atau melengkapi hal-hal yang lain,” ujar Yama.
Kesimpulan
Teror yang dialami oleh para aktivis dan influencer ini menunjukkan adanya ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Meski demikian, banyak dari mereka masih ragu untuk melaporkannya ke institusi yang bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan pentingnya perlindungan bagi para tokoh yang kritis terhadap pemerintah dan isu-isu sosial.











