Prediksi Perbedaan Penentuan 1 Ramadan 2026
Berdasarkan prediksi dari seorang peneliti utama di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Thomas Djamaluddin, terdapat kemungkinan perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadan tahun 2026. Hal ini menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat, khususnya bagi umat Islam di Indonesia.
Kriteria Penentuan Awal Ramadan
Menurut Prof Thomas, posisi hilal pada tanggal 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar organisasi Islam. Kriteria tersebut adalah tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Namun, kriteria ini berbeda dengan yang digunakan oleh Turki, yang memungkinkan penghitungan lebih awal.
Kemungkinan perbedaan ini bisa menyebabkan adanya perbedaan tanggal antara pemerintah dan ormas Islam seperti Muhammadiyah. Misalnya, pemerintah memprediksi bahwa 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026, sementara Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 18 Februari.
Perbedaan Pendekatan Antara Pemerintah dan Muhammadiyah
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menetapkan tanggal pasti 1 Ramadan setelah melakukan sidang isbat. Sidang ini melibatkan berbagai pihak, termasuk MUI, perwakilan ormas Islam, dan para ahli. Data hisab serta laporan rukyat (pemantauan hilal) akan dipadukan untuk menentukan kepastian.
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini mengandalkan perhitungan astronomis tanpa harus melihat hilal secara langsung. Menurut pandangan Muhammadiyah, bulan baru dianggap sudah masuk apabila telah memenuhi tiga kriteria wujudul hilal secara kumulatif.
Perbedaan Kriteria dan Potensi Konflik
Perbedaan kriteria visibilitas hilal sering kali menjadi penyebab perbedaan penentuan awal Ramadan. Pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menetapkan bahwa hilal dinyatakan sah jika ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Namun, dalam kondisi tertentu, Muhammadiyah dapat menetapkan besoknya sudah masuk Ramadan karena bulan sudah wujud, meskipun kriteria MABIMS belum terpenuhi. Sementara itu, pemerintah akan menetapkan besoknya belum masuk Ramadan karena hilal belum memenuhi syarat visibilitas.
Kemungkinan Perbedaan Satu Hari
Perbedaan metode ini merupakan hal yang lumrah dan sering terjadi di Indonesia. Hal ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan satu hari dalam mengawali ibadah puasa di tengah masyarakat. Meskipun demikian, perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, karena tujuan utamanya adalah menjaga kesatuan dan harmoni dalam masyarakat.











