"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Seni Menghadapi Kelemahan



“Mama,” panggilku. Aku memanggil mama di depan layar 16 inchi. Mata mama sudah tertutup saat itu, tapi mama masih secantik waktu menemaniku ambil rapot lima belas tahun lalu.

Covid 2020 sudah membawanya pergi. Tapi aku terjebak di kamar, tanpa bisa mengantarnya pergi. Terjebak di sakit yang sama. Saat itu, aku tidak bisa menangis. Entah karena begitu terkejut atau karena ada yang menahanku untuk menangis.

Baru setelah itu, tahun 2023, tangisku ini seperti cicilan rumah yang tiba-tiba bengkak.

Dua dan Satu, Tempat Bernama Rapuh

Setelah absen di pengabenan mama, aku jadi tak tahu apa itu sedih. Aku tidak bisa menangis meski aku ingin. Pun, ingin tertawa tidak bisa. Aku hanya sanggup senyum dan lebih banyak mendengarkan daripada bicara.

“Kau ingin pulang?” tanya suami, “aku bisa ambil cuti kalau mau.” Aku menggeleng.

“Ngapain pulang sekarang, toh mama sudah nggak ada. Sudah diaben,” sahutku. Lantas melanjutkan, melipat baju yang hangat di depanku.

Dua bulan setelahnya, aku bisa merasa lebih tenang. Setidaknya itu pikiranku. Aku bisa normal kembali, bisa bercerita dan tertawa dengan perkumpulan emak wali murid sekolah anak. Begitu hingga bulan November 2023.

Papa, dilarikan ke rumah sakit. Kabar itu kuterima dari kakakku. Tri. Tubuhnya drop dan ada indikasi komplikasi diabetesnya. Tapi, tidak seperti mama, kali ini aku bisa dua minggu sekali menengok papa di Banyuwangi. Bisa saling menelepon selama di RS meski berjarak.

Tapi tak berselang lama, dua minggu kemudian bapak berpulang. Sehari setelah kepulanganku dari menengoknya. Lagi-lagi aku tidak bisa menangis. Hanya bengong dan gemetar memencet nomor speed dial dua. Suamiku.

Ketika memandikan jenazah papa dan memakaikan kamen (pakaian ibadah umat Hindu), di situlah aku tahu selama ini aku pura-pura kuat. Kesedihan itu tidak hilang, hanya bersembunyi dan ditekan. Hujan tirun di hanya di atas wajah papa yang dingin. Bentuknya bukan lagi tetesan, tapi geromis.

Dua dan satu, tempat di mana kerapuhan terjadi. Dua kematian dan satu kerapuhan yang terlambat.

Ingatan yang Tertindih di atas Kehilangan

Tidak banyak yang kulakukan untuk merespon kehilanganku. Aku hanya berusaha melakukan aktifitas sehari-hari. Mengingat ada anak dan juga suami yang perlu kuperhatikan. Tapi apa sedih itu masih? Tentu, ia masih ada.

Kesedihan itu keluar di malam setelah semua terlelap. “Kenapa tak kau berdoa saja?” sisi-sisi diriku bertanya-tanya. “Berdoa pun kesedihan tetap ada di sana. Menetap,” responku padanya.

“Mengapa kau begitu pasif mengatasi kesedihanmu,” keluh sisi lainnya. Aku tidak pasif, apa kau lihat betapa berusahanya aku bekerja agar semua tampak baik, jawabku dalam hati pada sisi itu.

Sampai suatu pagi aku terbangun setelah memimpikan pamanku. Alm, Pak Yan. Seorang maestro pahat patung.

“Pak Yan Darlun sedang duduk bersila dengan pakaian favoritnya. Memandang sebuah kayu hitam.”

“Apa Gek lupa masa kecil di tukad (sungai)?” tanyanya.

“Memang, tiyang ngapain Pak Yan?” tanyaku balik. Rasanya seperti ada di masa lampau, di mana aku sering duduk menemani beliau memperhatikan kayu-kayunya.

“Ingat gimana Gek, duduk jongkok di depan rumput-rumput itu,” jawabnya.

Setelah mimpi itu, aku tak ingat lagi. Adegan-adegan semuanya terasa vivid. Tak jelas. Bahkan ketika kuberusaha mengingatnya.

Siang itu aku keluar ke taman belakang. Hanya untuk melepaskan lelah urusan domestik sejak pagi. Panas mulai terik barangkali jam hampir menyentuh angka sepuluh. Meski kutaktahu pasti.

Di bawah kakiku ada sebuah gulma. Bulat berwarna merah muda. Kepalanya mirip kancing. Daunnya masih seperti menutup. Gulma itu barangkali yang dimaksud Pak Yan. Kebiasaan lama yang kutinggalkan karena aneh. Tak waras.

“Halo, aku Dinda. Kamu gulma apa?” tanyaku. Meski tak ada jawaban. Aku tetap berjongkok di sana. Bercerita ngalor ngidul. Mengenang mama, papa dan Pak Yan.

“Sudah waktunya menjemur baju. Nanti kita cerita lagi ya,” kataku. Sebelum kupergi, kuabadikan gulma itu.

Barangkali Pak Yan memintaku untuk tidak merasa aneh dengan caraku. Memintaku menghargai setiap cara-cara baik merilis emosi. Barangkali juga itu yang sering beliau bilang “ada sebuah seni untuk melipat rapuh”.

Aku memasukkan ponselku ke saku. Lalu, meninggalkan bunga mimosa pudica itu di belakang. Dengan kesedihan yang menetap, tapi dengan berat yang berbeda.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *