Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang
Dalam kisah ini, kita diajak untuk melihat bagaimana seseorang bisa mempertahankan janji seumur hidupnya. Nyonya Tan, seorang wanita dengan keteguhan hati yang luar biasa, menjaga pohon delima di halamannya sebagai simbol dari perjuangan dan cinta yang tak pernah padam.
Sejarah dimulai sekitar dua puluh tahun yang lalu. Saat itu, desa Moyung masih dikenal dengan suasana yang damai dan sederhana. Di tengah kehidupan yang terasa tenang, muncul sebuah berita yang menggemparkan warga setempat. Seorang laki-laki bernama Kun Fa ditangkap karena diduga menggelapkan uang. Ia adalah calon suami dari Nyonya Tan, yang saat itu masih muda dan penuh harapan.
Pada masa itu, banyak hal yang berubah. Rumah-rumah kecil yang dulunya menjadi tempat tinggal penduduk kini telah digantikan oleh bangunan modern. Jembatan kayu yang dahulu menjadi tempat berkumpul pasangan kekasih juga lenyap. Bahkan kedai mie tempat mereka merayakan ulang tahun Tan pun sudah tidak ada lagi. Namun, satu hal yang tetap bertahan adalah pohon delima yang tumbuh di dekat rumah Nyonya Tan.
Kehidupan yang Berlalu
Kini, langit masih tampak berkabut meskipun hujan telah berhenti. Jalanan yang basah mulai ramai seperti biasa. Setiap hari, orang-orang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Namun, bagi Nyonya Tan, waktu terasa begitu lambat. Ia duduk dengan tenang di bawah pohon delima yang sedang berbunga. Kedua tangannya memegang buku diary bersampul marun, yang menjadi teman setianya sejak Kun Fa ditahan.
Di waktu-waktu senggang, ia membaca dan menulis dalam buku tersebut. Meski tidak seberapa sering seperti dulu, buku itu tetap menjadi penghiburan baginya. Di dalamnya, ia mencatat kapan bunga-bunga delima muncul dan jumlah bunga yang gugur setiap sore. Ia juga mencatat berapa buah delima yang dipetik dan memperkirakan kapan buah itu akan matang.
Pertanyaan yang Tidak Pernah Terjawab
Beberapa kali, orang-orang mencoba mengajaknya menikah. Salah satunya adalah seorang laki-laki gemuk yang menawarkan toko perhiasannya jika Tan bersedia menjadi istri keduanya. Namun, ia lebih memilih hidup sendiri daripada melupakan bayangan Kun Fa. Baginya, cinta bukanlah sesuatu yang bisa diganti dengan uang atau status sosial.
Meski hanya bisa bertemu seminggu sekali selama 30 menit, Kun Fa tetap menjadi bagian dari kehidupan Nyonya Tan. Setiap malam, ia duduk di ruang tamu sambil minum teh dan berbicara tentang apa saja. Kebiasaan ini membuat orang-orang menghakimi Nyonya Tan. Mereka menganggapnya bodoh dan gila karena membuang waktu untuk seorang laki-laki yang tidak pernah bisa ia miliki.
Keputusan yang Tidak Mudah
Suatu hari, datanglah orang asing dengan dua pengawal pribadi. Mereka membawa surat jual-beli dan menawarkan harga sangat fantastis. Namun, Nyonya Tan menolak. Yang ia inginkan adalah agar pohon delima yang tumbuh di samping rumahnya tetap hidup. Baginya, pohon itu adalah simbol dari janji yang pernah dibuatnya.
Saat itu, Kun Fa menanyakan apakah ia merasa dirinya menghalangi. Wajahnya yang kini tirus dan tua membuat Nyonya Tan sadar bahwa laki-laki itu telah berubah. Dulu, ia menyukai lesung pipi dan senyum jenaka yang terpancar dari wajahnya. Kini, ia hanya bisa melihat seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah abu-abu yang kumal.
Janji yang Tak Pernah Pergi
Nyonya Tan akhirnya menjawab pertanyaan Kun Fa dengan tenang. Ia menyatakan bahwa ia tidak bisa meninggalkannya atau menikah dengan laki-laki lain. Ia juga tidak ingin menjual rumah itu karena ingin merawat pohon delima selama Kun Fa masih ingin makan buah delima.
Petugas penjara memberi kode bahwa waktu berkunjung hampir habis. Nyonya Tan membalikkan badannya dan berjalan mendekati Kun Fa. Suaranya pelan, namun jelas terdengar di telinga laki-laki itu.
“Kamu melakukan perbuatan keji agar saya bisa membayar biaya rumah sakit. Kemudian ayah saya sembuh dan masih sehat sampai sekarang. Saya bukan hanya ingin menepati janji yang dulu kita ucapkan bersama, tetapi lebih dari itu, saya merasa berhutang kepada kamu.”
Setelah itu, Kun Fa harus pergi. Nyonya Tan hanya bisa memandang tubuh jangkung dalam jubah abu-abu itu berlalu. Laki-laki itu menoleh ke belakang dengan wajah getir. Ia tidak menyangka bahwa Tan akan seperti ini.
Harapan yang Masih Ada
Di sore yang lain, Nyonya Tan kembali duduk di bawah pohon delima yang sedang berbunga. Kedua tangannya menggenggam buku diary bersampul marun yang mulai lusuh. Ia menulis berapa banyak bunga yang jatuh ke tanah hari ini dan jumlah delima yang bergantung di ranting-ranting.
Tepat 17 hari dari sekarang, Kun Fa akan menyelesaikan masa hukumannya. Dan saat itu, dua buah delima akan matang dan siap dibawanya menjemput laki-laki itu.











