"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Ini kisah fiksi yang melampaui batas teks



Fiksi adalah cerita rekaan yang dibuat oleh pengarang. Bisa berupa novel, cerita pendek, atau bahkan balada dalam puisi. Namun, yang paling umum terkait dengan kata “fiksi” adalah kisah prosa yang panjang dan mengisi halaman sekitar 200-an halaman dengan ukuran kertas A5 (14,8 x 21 sentimeter). Dengan demikian, fiksi sering kali dianggap sebagai novel.

Pada awalnya, fiksi muncul dalam bentuk teks. Jika teks tersebut terwadahi dalam buku (narasi panjang yang koheren) dan wujud buku itu juga termasuk gulungan kertas, maka fiksi yang pertama diakui sebagai novel adalah Genji Monogatari (源氏物語) atau versi Inggrisnya The Tale of Genji (Kisah Genji). Penulisnya adalah Murasaki Shikibu (紫式部), seorang wanita bangsawan Jepang dari klan Fujiwara. Ia diperkirakan menyelesaikan proses penulisannya pada awal abad ke-11.

Penyusunan mahakarya ini terjadi selama Periode Heian (794 – 1185). Murasaki Shikibu, karena kecerdasannya, diberi panggilan dari Istana Kekaisaran sekitar tahun 1005 atau 1006 untuk menjadi tutor dan pendamping Permaisuri Shōshi, istri Kaisar Ichijō (berkuasa pada 986 – 1011). Mayoritas sejarawan sepakat bahwa naskah ini selesai seluruhnya pada tahun 1010 atau paling lambat 1021.

Sementara itu, jika yang dimaksud adalah fiksi berbentuk buku modern setelah penemuan mesin cetak dari Johannes Gutenberg (1398 – 3 Februari 1468) sekitar 1400-an di Jerman, para ahli sejarah lebih memperhatikan Don Quixote atau lengkapnya El Ingenioso Hidalgo Don Quijote de la Mancha (Sang Bangsawan Cerdik Don Quixote dari Mancha).

Novel klasik Spanyol karya Miguel de Cervantes (29 September 1547 – 22 April 1616) ini diterbitkan dalam dua jilid pada tahun 1605 dan 1615. Para ahli sejarah mengakui bahwa novel ini merupakan “novel modern pertama” karena struktur plot, pengembangan karakter, dan penggunaan bahasa yang menjadi standar bagi buku fiksi hingga saat ini.

Edisi orisinal Don Quixote, yaitu Jilid I pada 1605 dan Jilid II pada 1615, hadir berkat inisiatif Juan de la Cuesta (lahir ? – meninggal 1627). Dia tersohor sebagai tokoh sejarah yang bergerak di bidang percetakan dan berbasis di Madrid pada masa Zaman Keemasan Spanyol (Spanish Golden Age). Ketersohoran Juan de la Cuesta terkait dengan keterlibatannya sebagai pihak yang mencetak dua jilid adikarya Miguel de Cervantes itu pada performanya sebagai buku cetakan edisi pertama.

Edisi orisinal Don Quixote itu adalah teks murni tanpa ilustrasi adegan baik di sampul maupun di halaman dalam. Sampulnya hanya berupa teks (tipografi) yang menginformasikan judul novel, nama penulis, dan seputar penerbitnya. Tidak ada ilustrasi adegan di dalam (interior).

Ilustrasi terkenal karya Gustave Doré (6 Januari 1832 – 23 Januari 1883), antara lain Don Quixote kurus dengan kincir angin atau Don Quixote menunggangi Rocinante (kuda tua, kurus, dan kikuk), baru ada setelah penerbitan ulang pada 1863. Sekitar 47 tahun setelah Sang Novelis Miguel de Cervantes wafat.



Pionir Komik

Gagasan bahwa komik bermula dari ilustrator yang menorehkan ilustrasi gambar untuk membantu memberikan arah imajinasi dari untaian kata yang tersaji dalam teks novel, merupakan salah satu akar utama perkembangan komik. Sebelum komik modern populer, buku-buku fiksi atau cerita kerap menyertakan ilustrasi untuk mendeskripsikan adegan penting dalam perjalanan narasi. Ilustrasi itu menjadi pendamping teks yang mendukung bayangan imajinatif dari khalayak audiens seputar karakter dan latar tempat.

Di samping buku fiksi, ilustrasi berupa karikatur tentang permasalahan sosial dan politik juga menghiasi surat-surat kabar mulai abad ke-19. Ada sertaan teks pendek atau dialog. Boleh terbilang, para ilustrator yang mempercantik wajah koran-koran pada masa itu merupakan para perintis komik strip yang selanjutnya mengalami evolusi menjadi buku komik.

Dari sempadan menjadi ilustrasi yang mendampingi teks, kemudian muncul gagasan tentang gabungan ilustrasi dan teks secara sekuensial (berurutan). Ini tentu dapat menciptakan narasi yang lebih hidup daripada ilustrasi tunggal.

Adalah fiksi komik berbentuk buku pertama kali, Histoire de Mr. Vieux Bois (Kisah Tuan Vieux Bois) yang proses pembuatannya pada 1827 dan penerbitan perdananya sebagai buku pada 1837. Kreatornya, Rodolphe Töpffer (31 Januari 1799 – 8 Juni 1846), seorang guru, penulis, pelukis, kartunis, dan karikaturis Swiss. Orang banyak yang mengenang kepiawaiannya berkat buku-buku bergambarnya.

Littérature en estampes atau literatur grafis. Ini boleh terbilang sebagai komik Eropa paling awal. Dia adalah Bapak Komik Strip dan seniman komik pertama dalam sejarah. Plus pelopor novel grafis modern.

Histoire de Mr. Vieux Bois yang diterbitkan di Jenewa, Swiss, pada mulanya sudah dalam bentuk buku (atau album litografi). Terdiri atas rangkaian gambar berurutan dengan teknik autograph (variasi litografi). Teks berada di bawah tiap gambar. Edisi 1837 hadir dengan 92 halaman. Fiksi komik ini sebenarnya telah memasuki proses kreatif pada 1827. Mulanya sekadar untuk hiburan pribadi dan teman-teman Rodolphe Töpffer. Kemudian atas desakan sastrawan Johann Wolfgang von Goethe (28 Agustus 1749 – 22 Maret 1832) pada akhirnya menemukan realisasi penerbitannya pada 1837 (lima tahun setelah Goethe wafat).

Karakter protagonis dalam komik Histoire de Mr. Vieux Bois (1837), sesuai dengan judulnya adalah Mr. Vieux Bois. Kemudian hadir versi adaptasi tidak resmi (pirated edition) yang terbit dalam bahasa Inggris di London (1841) dan New York (1842) dengan judul The Adventures of Mr. Obadiah Oldbuck (Petualangan Tuan Obadiah Oldbuck). Konon versi Inggris ini berdasarkan salinan bajakan inferior terbitan Gabriel Aubert di Paris pada 1939.

Dalam versi bajakan itu, sebagian besar gambar mengalami pengubahan dari tangan seniman anonim dan pencetakannya secara terbalik sehingga membingungkan khalayak audiens. Setelah mengetahui pembajakan tersebut, Rodolphe Töpffer mengirim salinan asli ke Penerbit Tilt & Bogue dan meminta perilisan versinya. Namun sayang, versi bajakan sudah telanjur beredar. Kendati begitu, reprint versi Inggris di New York pada 1842 itu tercatat dalam sejarah sebagai buku komik pertama yang terbit di Amerika Serikat.

Fiksi komik ini, dengan karakter protagonis Mr. Vieux Bois versi asli dan Mr. Obadiah Oldbuck versi bajakan, mengisahkan liku-liku kehidupan asmara seorang lelaki yang namanya tercantum dalam judul kedua versi tersebut. Kisah tentang petualangan komedi episodik seorang lelaki yang berikhtiar menggapai cinta sejatinya.

Jalinan kisah fiksi komik ini mengguratkan pelbagai usaha konyol, upaya mengatasi rintangan, hingga ketidakmampuan karakter protagonis berkelit menghindari keputusasaannya. Di ujung narasi, hati sang wanita pujaan pun akhirnya meleleh juga dan akhirnya keduanya bersepakat untuk menikah.

Demikian fokus cerita yang tersaji. Di proses perjalanan alur ada sentuhan komedi situasi yang kacau. Ada libatan konflik dengan biarawan, ketika dalam penyamarannya sebagai tukang giling. Dan, lelaki itu pun konon mengubur para biarawan hingga setinggi leher. Tapi, ending manis, menjadi semacam imbalan yang sesuai.

Perkembangan ilustrasi (cikal bakal komik) semakin subur dengan pemunculan majalah-majalah pulp fiction, yaitu publikasi fiksi yang populer di Amerika Serikat pada awal 1900-an sampai 1950-an. Majalah tersebut tercetak pada kertas bubur (pulp) dengan tepi kasar untuk menekan biaya produksi. Hadir dengan hidangan cerita aksi, misteri, fiksi ilmiah, petualangan, koboi, fantasi, dan romansa yang sensasional dan dramatis.

Majalah-majalah pulp fiction tersebut sangat bergantung pada ilustrasi guna memikat khalayak audiens. Ukuran biasanya 7 x 10 inci, tebal, sampulnya dengan ilustrasi mencolok dan dramatis. Puncak popularitasnya pada 1920-an hingga 1930-an. Membesarkan genre cerita populer dan mengumpankan inspirasi bagi film, televisi, dan buku komik modern.

Majalah-majalah itu merupakan ajang bagi banyak penulis populer saat itu untuk membangkitkan kariernya hingga ke puncak tangga ketenaran, seperti Raymond Thornton Chandler (23 Juli 1888 – 26 Maret 1959). Pada usia 44 tahun (1932), dia menjadi penulis fiksi detektif setelah pekerjaan sebagai eksekutif sebuah perusahaan minyak terpaksa lepas dari tangannya saat dunia mengalami guncangan Depresi Ekonomi Besar.

Begitu pula dengan Howard Phillips Lovecraft (20 Agustus 1890 – 15 Maret 1937). Dia tersohor sebagai penulis horor, fantasi, dan fiksi ilmiah, terutama subgenre yang menurut penilaian banyak orang tergolong pada fiksi aneh. Konsep estetis dan filosofisnya adalah horor kosmis (cosmicism). Kehidupan tidak dapat dipahami akal manusia. Dan, alam semesta senantiasa berseteru dengan kepentingan umat manusia.

Era majalah pulp fiction kemudian beralih ke era buku saku (paperback) dan televisi pada 1950-an. Era tersebut memantik penciptaan budaya penceritaan visual sebelum tiba giliran bagi format komik strip bergaya Yellow Kid memainkan kiprah dominasinya. Tata letak horizontal, panel tunggal atau sekuensial, visual ramai/karikatur, ada balon kata (balloon words). Gaya ini memanjakan humor sosial dengan karakter utama Mickey, mengenakan baju tidur kebesaran dengan latar gang kumuh di New York.

William Erwin Eisner (6 Maret 1917 – 3 Januari 2005), salah seorang pelopor komik modern, memandang komik sebagai seni sekuensial (sequential art). Ia mengintegrasikan empat elemen, yaitu desain, gambar, karikatur, dan teks. Kreator ingin menyusun secara kronologis cerita melalui gambar, baru kemudian menambahkan teks.

Ternyata evolusi teks menjadi komik (tanpa meninggalkan dan hanya memperingkas tampilan teks), salah satunya memang berangkat dari tradisi pemberian kelengkapan ilustrasi adegan baik di sampul maupun pagina dalam buku fiksi novel pada kisaran paruh belakangan abad ke-19.



Film dan Televisi

Setelah bergerak dari teks menuju ke komik, fiksi naratif pun melanjutkan perjalanan kisahnya ke film. Teknologi gambar bergerak baru memulai tarikh penemuannya pada akhir abad ke-19. Inisiasi Lumière Bersaudara, yaitu Auguste Marie Louis Nicolas Lumière (19 Oktober 1862 – 10 April 1954) dan Louis Jean Lumière (5 Oktober 1864 – 6 Juni 1948), yang memutar film kepada publik dengan menggunakan Cinématographe pada 28 Desember 1895 mendapat pengakuan para sejarawan sebagai tonggak historis perfilman yang utama.

Meskipun demikian, perkembangan film sebagai media narasi fiksi melalui teknik penyuntingan pada realitanya baru menemukan perkembangan optimal setelah tahun 1900-an. Film-film awal Lumière Bersaudara, seperti La Sortie de l’usine Lumière à Lyon (Pintu Keluar Pabrik Lumière di Lyon) kebanyakan berdurasi kurang dari satu menit. Terdiri atas satu shot, tidak ada langkah penyuntingan, dan hanya mengetengahkan kejadian nyata atau aktual. Adapun kamera diletakkan pada satu posisi. Tidak berubah. Fokus utama pada keajaiban dan kemukzizatan teknologi gambar yang bergerak.

Kemudian pelopor sinema Prancis Marie-Georges-Jean Méliès (8 Desember 1861 – 21 Januari 1938) memopulerkan film cerita fiksi fantasi dan sains pada awal abad ke-20. Karya paling ikoniknya Le Voyage dans la Lune (Perjalanan ke Bulan) produksi 1902. Menghadirkan efek khusus inovatif dan roket menabrak mata bulan.

Selanjutnya pada 1904, Marie-Georges-Jean Méliès merilis film Le Voyage à travers l’impossible (Perjalanan Melalui Hal yang Mustahil). Petualangan fantastis perjalanan ke matahari dengan teknologi panggung yang canggih. Setahun sebelumnya (1903), hadir The Kingdom of Fairies (Kerajaan Peri) yang menonjolkan visual fantasi dan makhluk ajaib.

The Conquest of the Pole (Penaklukan Kutub) pada 1912, salah satu film terpanjang garapannya yang menawarkan pesona petualangan.

Méliès juga terkenal dengan kepiawaiannya mengawinkan teknik sulap dengan sinema. Menciptakan efek khusus seperti stop-motion, membuat objek fisik seolah bergerak sendiri dengan cara pemfotoan frame demi frame. Kemudian dissolves, transisi satu adegan memudar (fade out) secara bertahap, dan adegan selanjutnya muncul (fade in). Berikut time-lapse, mempercepat gerakan objek, mempersingkat waktu narasi yang lama.

Pada 1900 – 1910, mulai timbul kesadaran dari para pembuat film, sejumlah adegan (shot) dapat menjadi sambungan dalam bercerita. Wanita sutradara Prancis Alice Ida Antoinette Guy-Blaché atau lebih akrab dengan Alice Guy-Blaché (1 Juli 1873 – 24 Maret 1968) sering menerima singgahan anggapan bahwa dirinya merupakan pembuat film pertama yang secara sistematis mulai mengembangkan narasi fiksi.

Alice Guy-Blaché dari 1896 hingga 1906 masih merupakan satu-satunya wanita sutradara film. Dia melakukan eksperimen dengan penggunaan sistem suara Chronophone Gaumont, dengan pewarnaan, pemilihan pemeran antar-ras, dan efek khusus.

Pada tahun 1912, Alice Guy-Blaché membuat film A Fool and His Money (Orang Bodoh dan Uangnya) sebagai film pertama yang semua pemerannya keturunan Afrika-Amerika. Dewasa ini film tersebut masih terdokumentasi dengan baik di National Center for Film and Video Preservation di American Film Institute berkat keunggulan signifikansi kesejarahan dan estetikanya.

Perkembangan teknik penyuntingan pun maju dengan pesat. Para pembuat film, terutama di Amerika dan Eropa mulai melirik pemanfaatan cross-cutting (penyuntingan silang) atau paralel. Memotong bolak-balik dua atau lebih adegan yang terjadi bersamaan di lokasi berbeda. Untuk mengonstruksi ketegangan, memperlihatkan aksi simultan, atau menghadirkan komparasi tematis/ironi. Kerap untuk adegan aksi atau telepon guna menaikkan intensitas dan mempercepat tempo narasi.

Berbagai jenis teknik penyuntingan mewarnai perkembangan pembuatan film pada era selanjutnya. Ada penyuntingan kontinuitas (continuity editing). Untuk memoles pergeseran adegan terasa lebih halus dan tidak menyebabkan kebingungan khalayak audiens saat menontonnya.

Termasuk di dalamnya shot-reverse-shot (dialog). Dua karakter difilmkan terpisah dari sudut berlawanan. Biasanya dengan over-the-shoulder, kamera terletak di belakang bahu satu karakter untuk merekam karakter lain. Menunjukkan hubungan spasial dan memosisikan audiens seolah berada dalam dialog.

Termasuk pula di dalamnya teknik penyuntingan close up, bidikan jarak dekat. Memperbesar subjek karakter, dari bahu ke atas, sebagai upaya mengoptimalkan dampak emosional. Dan, menonjolkan ekspresi wajah. Serta, mempertampakkan rincian penting. Krusial dalam membentuk keintiman, fokus pada detail narasi.

Ada lagi pengembangan teknik penyuntingan eyeline match, merelasikan dua bidikan (shot) secara berurutan. Bidikan pertama mempertontonkan karakter melihat sesuatu di luar (maksudnya off-screen). Bidikan kedua menunjukkan orang atau benda berdasarkan sudut pandang yang berkesesuaian. Teknik ini merawat kontinuitas dan meyakinkan khalayak audiens tentang arah pandang berikut apa yang sedang menjadi amatan dari karakter.

Kemudian dalam perkembangannya, penggunaan close up tidak hanya untuk detail emosi karakter, tetapi juga untuk menegaskan intensitas dramatis. Ini yang dinamakan penyuntingan ekspresif. Pada saat pemanfaatan close up tuju pada momen kunci dari narasi suatu film, teknik ini dapat meningkatkan efek intensitas dramatis atau ketegangan yang mendapat aksentuasi penonjolan ketegangan secara drastis momen-momen rentan (vulnerability) atau penentuan nasib karakter.

Sementara itu, untuk fiksi pertama dalam bentuk sinema televisi yang mendapat realisasi penyiaran yang tersaji secara luas, yaitu The Queen’s Messenger (Utusan Sang Ratu) pada 11 September 1928 di Stasiun TV Schenectady, New York. Drama ini semula merupakan drama radio yang mengalami pengadaptasian untuk tayangan televisi yang menyiarkan paduan gambar bergerak dengan suara.

Naskah drama radio ini merupakan karya dramawan keturunan Irlandia John Hartley Manners (10 Agustus 1870 – 19 Desember 1928). Penayangan sinema televisi berdurasi 20 menit tersebut menggunakan teknologi mekanis awal. Pada saat itu, hanya memungkinkan kamera menangkap gambar kepala para pemeran karakter. Sementara itu, suara dikirim secara terpisah dari gambar.

Di Britania Raya, drama televisi yang pertama mengalami pentransmisian, yaitu adaptasi dari The Man with the Flower in His Mouth (Lelaki dengan Bunga di Mulutnya) karya penulis, novelis, dramawan Italia Luigi Pirandello (28 Juni 1867 – 10 Desember 1936).

Penayangan film televisi ini berlangsung saat John Logie Baird (13 Agustus 1888 – 14 Juni 1946), bekerja sama dengan British Broadcasting Corporation (BBC) untuk menayangkan drama tersebut sebagai bagian dari eksperimen penyiaran televisi publik pada 14 Juli 1930. Penayangan itu menjadi bagian dari siaran eksperimental BBC memanfaatkan sistem televisi mekanik 30-baris hasil temuan pengembangannya.

Film televisi The Man with the Flower in His Mouth mendapat pengakuan para sejarawan sebagai drama televisi pertama yang mendapatkan realisasi penyiaran di Britania Raya. Bahkan, tergolong salah satu yang paling awal di seantero jagat. Siaran itu dilangsungkan di studio dan bengkel Baird di 133 Long Acre, London. Film ini berdurasi 25 – 30 menit. Dalam film ini, penyiaran suara dan gambar berlangsung secara bersamaan (simultan).

John Logie Baird adalah insinyur dan penemu asal Skotlandia dan menjadi terkenal sebagai orang pertama di Eropa yang mendemonstrasikan sistem televisi dapat beroperasi. Dalam perjalanan waktu selanjutnya, dia juga tercatat dalam sejarah pertelevisian dunia sebagai penemu sistem televisi warna pertama yang mendemonstrasikan kepada publik. Serta, juga penemu tabung gambar televisi warna elektronik pertama yang praktis penggunaannya.

Untuk film utuh pertama di televisi, bukan penyiaran langsung (live) drama, yaitu The Crooked Circle (Lingkaran Bengkok) pada 10 Maret 1933. Sementara itu, pada 11 Februari 1938, BBC menyiarkan film fiksi ilmiah pertama untuk publik. Hasil adaptasi dari drama R.U.R. (Rossum’s Universal Robots) karya penulis Ceko, Karel Čapek (9 Januari 1890 – 25 Desember 1938).

Penggalan adaptasi dengan durasi 35 menit itu disiarkan langsung dari Studio Alexandra Palace milik BBC. Drama ini mengambil latar belakang waktu di masa depan. Para robot organik bangkit melawan majikan manusia mereka. Drama ini mengintroduksi kata “robot” (dengan transkripsi fonetis atau cara pengucapannya menurut International Phonetic Alphabet [ˈro.bɔt] atau [ˈro.bot]) ke dalam bahasa Inggris.



Fenomena Chat Fiction

Abad ke-21 ini tidak lepas dari adanya fenomena chat fiction (fiksi percakapan) yang sangat terkait mesra dengan perubahan cara membaca fiksi di era internet. Fenomena penyajian cerita dalam bentuk percakapan pesan instan di aplikasi seperti Hooked atau Wattpad yang menunjukkan adanya pergeseran ke arah kebiasaan pengonsumsian cerita yang lebih cepat, visual, dan interaktif.

Fenomena fiksi percakapan antara lain hadir secara global pada tahun 2015 dengan adanya launching aplikasi Hooked. Format ini selanjutnya menemukan bentuk pengembangannya secara pesat di Indonesia berseiring jalan dengan kepopuleran Alternate Universe (AU) di media sosial, terutama Twitter/X. Demikian pula dengan Wattpad, yang mulai menunjukkan taring keramaiannya pada periode 2018 – 2020.

Pada September 2015, pasangan Prerna Gupta (lahir 1981 atau 1982, lulusan Ekonomi Stanford University pada 2004) dan Parag Chordia (tanggal lahir tidak tersedia secara publik, pemilik Ph.D. dari Stanford University) menciptakan aplikasi Hooked. Mereka menemukan fakta di lapangan, kebanyakan remaja lebih menyenangi membaca cerita berformat teks yang ringkas daripada bentuk konvensional cerita panjang.

Hooked ini pada 2017 menempati puncak popularitas pada tangga aplikasi gratis di Apple App Store.

Adapun kemunculan perkembangan chat fiction di Indonesia berlangsung pada kisaran 2018 – 2020. Untuk pengadopsian awal, kendatipun Wattpad telah populer sebelumnya, gaya penulisan fiksi percakapan yang berupa bentuk tangkapan layar chat atau format chat story mulai merebak pada bilangan warsa 2018. Fenomena ini menemukan ledakan eksistensinya di Tanah Air dalam bentuk Alternate Universe (AU) di Twitter (X).

Para penggemar membuat fan fiction, cerita berdasarkan idola (terutama K-Pop) memakai format percakapan dan selanjutnya mengalami penyatuan menjadi utas (thread). Sumber penulisan fan fiction dapat berlandaskan karakter latar. Dapat pula dari alur cerita dari suatu karya, seperti buku, film, serial televisi, video gim, atau idola riil. Tujuannya, untuk mengembangkan cerita orisinal, mengisi kekurangan kanon (canon) atau materi cerita, karakter, latar hasil penetapan dari pencipta genuine (buku, film, gim). Atau, guna menghadirkan dunia alternatif.

Di samping Twitter (X), aplikasi semacam Wattpad dan Fizzo pun mulai menganalisasi fitur chat fiction untuk memikat minat kalangan pembaca muda. Fiksi percakapan menerima penggambaran dirinya sebagai fiksi yang cocok bagi generasi Snapchat. Mereka begitu nyaman menyambut tawaran pengalaman membaca yang cepat, ada dukungan fitur visualnya, dan ada sensasi serasa mengintip atau mengikuti pembicaraan atau percakapan orang lain.

Chat fiction berada dalam rengkuh rancangan untuk khalayak audiens modern yang terbiasa dengan konsumsi konten cepat di telepon pintar (smartphone). Betul-betul beradaptasi secara optimal dengan gaya hidup digital (fast paced). Dengan format berupa percakapan singkat menyebabkan cerita terasa lebih “ringan” dan relatif mudah dalam upaya penikmatannya di mana dan kapan saja.

Berlainan dengan novel konvensional yang begitu kaya narasi dan deskripsi naratif, chat fiction berfokus pada dialog. Seolah khalayak audiensnya laiknya melakukan tindakan “menguping” percakapan orang lain. Ini sangat populer di kalangan Generasi Z, kelahiran 1997 hingga 2012.

Khalayak audiens chat fiction tidak hanya membaca, tetapi juga mengetuk layar untuk menghadirkan pesan berikutnya (tap-to-read). Hal ini dapat menguatkan keterlibatan (engagement) dan menumbuhkan sensasi dramatis terhadap cerita, teristimewa genre thriller (cerita menegangkan, penuh intrik kejahatan, dan situasi berbahaya) atau horor.

Format teks yang pendek-pendek dan berkelanjutan, sehingga khalayak audiens memiliki rentang perhatian (attention span) yang pendek-pendek pula, menyebabkan chat fiction yang acapkali mendapat sebutan “sastra cepat” atau “sastra instan” justru memancing rasa penasaran.

Di samping itu, chat fiction menjadi ladang kreativitas yang menjanjikan bagi para penulis muda untuk mengerahkan secara optimal kemampuan eksplorasi mereka dalam mengarungi proses kreatif dalam Sastra Siber yang mengintegrasikan secara selaras dan harmoni elemen teks, foto (bahkan video), dan emosi dan ikon (emoticons), representasi bergambar ekspresi wajah.

Walaupun sering menjadi tudingan kritik karena tidak memberikan pengalaman membaca secara mendalam jika berbandingkan dengan buku, tak pelak lagi kehadiran chat fiction terbukti menuai keberhasilan meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda. Apalagi, mereka memang lebih sering menggunakan ponsel tempat chat fiction itu menyediakan dirinya sebagai sasaran pengaksesan yang semakin gampang saja.

Fenomena chat fiction merupakan bagian dari evolusi Sastra Siber yang menyentuhkan perubahan pada psikologi khalayak audiens dalam melakukan kegiatan membaca dan cara bagaimana cerita menemukan realisasi produksinya. Terdapat aspek menarik dari fenomena chat fiction, yaitu sensasi mengintip (voyeurism). Khalayak audiens dengan menyimak teknik penceritaan yang menyerupai percakapan itu seolah-olah diri mereka bisa mengintip, atau bisa juga mengintai, rahasia para karakter.

Dengan teknik penceritaan yang menyerupai percakapan, khalayak audiens bisa merawat kedekatan. Mereka tidak merasa sekadar sedang membaca kisah para karakter di buku novel. Akan tetapi, mereka juga merasa sedang terlibat dalam suatu drama riil yang tengah berlangsung. Selain efek psikologis, juga ada efek cliffhanger, teknik pengisahan dengan ending cerita yang sengaja menggantung.

Manakala tiba pada kejadian naratif yang genting atau menegangkan, tiba-tiba muncul “kekejaman” untuk menghentikan. Puncak konflik yang mencari jawab ihwal solusi penyelesaiannya. Rasa penasaran pun sengaja mengalami pengondisian dalam dosis tinggi, sehingga khalayak audiens pun mesti berhadapan dengan realitas bahwa mau tidak mau mereka harus menunggu kelanjutan narasi.

Nah, inilah yang membedakannya dengan novel fisik. Jeda antarbagian dalam satu buku atau bahkan antarbuku untuk novel yang mempunyai serial, menyediakan waktu untuk bernapas atau melakukan aktivitas sela yang lain. Akan tetapi, dalam chat fiction, setiap ketukan (tap) dapat membuahkan kejutan. Sayang untuk dilewatkan momen keberlanjutan itu.

Pesan yang sedang dalam proses pengetikan (tanda “…”) menciptakan ketegangan yang luar biasa, terkhusus pada genre horor dan thriller. Hal inilah yang mengakibatkan chat fiction begitu menimbulkan adiksi. Pikiran hampir tiada berkesudahan mencari “hadiah” berupa informasi baru pada pesan berikutnya.

Terhadap penulis pendatang baru, chat fiction membuka demokratisasi lewat penurunan hambatan masuk untuk berperan serta dalam kiprah kepenulisan. Tidak sedikit orang merasa terintimidasi untuk menulis deskripsi latar tempat yang sedemikian puitis atau narasi panjang. Melalui format chat, siapa saja yang memiliki kemampuan mengirim pesan, dan saat ini hampir semua orang bisa, untuk memulai menulis cerita. Tak ayal lagi, ini membuka jalan pemungkinan bagi kelahiran penulis baru yang berasal dari kalangan remaja.

Chat fiction modern tidak hanya berisi teks, namun juga gambar/foto. Karakter mengirim “foto bukti” (selfie) untuk memberikan verifikasi visual atas situasi yang tengah menjadi pembicaraan. Ada verifikasi keberadaan atau kondisi (proof of life). Karakter ingin menunjukkan tempatnya berada, seperti kantor, rumah sakit, atau lokasi kejadian perkara. Atau, karakter ingin menunjukkan dirinya sedang dalam kondisi, misal sakit, lagi santai, atau tengah berada dalam keadaan yang berbahaya.

Selanjutnya pengiriman

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *