Doa Berbuka Puasa Ramadan yang Benar dan Artinya
Bagi Anda yang lupa atau tidak ingat akan doa berbuka puasa Ramadan, tidak perlu khawatir. Pada ulasan kali ini, kami akan menyajikan doa berbuka puasa Ramadan dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya.
Doa berbuka puasa yang benar adalah doa yang diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam video berjudul “Tentang Doa Berbuka Puasa (Part 1)” menjelaskan bahwa masyarakat bisa mengamalkan doa berikut ini:
Doa Berbuka Puasa yang Benar
Adapun bacaan doa berbuka puasa Ramadhan yang diamalkan Rasulullah menurut UAH adalah:
ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah’
Artinya:
“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah (jika Allah menghendaki).”
Bacaan doa ini berdasarkan hadist riwayat At Tirmidzi nomor 2537 yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Saat berbuka puasa, Rasulullah membaca doa tersebut.
Setelah membaca doa itu, ada juga doa lain yang dibaca oleh umat Islam.

Doa Berbuka Puasa Lainnya
Doa tersebut adalah doa sebagaimana yang sudah sering kita lafalkan selama ini. Adapun bacaan doa tersebut yakni:
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Allaahummalakasumtu wabika amantu wa’aa rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarra himiin”
Artinya :
“Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa) dengan rahmat-Mu Ya Allah Tuhan Maha Pengasih”.
Kapan Doa Berbuka Puasa Dibaca?
Lantas, kapan doa tersebut dibaca? Apakah setelah minum atau sebelum minum?
Menurut UAH, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai waktu membaca doa berbuka puasa. Sebagian ulama berpendapat bahwa doa tersebut dibaca setelah seseorang benar-benar membatalkan puasanya. Sementara sebagian lainnya beranggapan doa itu justru dibaca sebelum berbuka.
Kelompok pertama memahami teks doa secara apa adanya. Dalam doa tersebut terdapat kalimat yang berarti “telah hilang dahaga”. Karena kalimatnya menunjukkan sesuatu yang sudah terjadi, mereka menyimpulkan bahwa doa sebaiknya dibaca setelah minum atau makan, yakni setelah puasa benar-benar batal.
Adapun kelompok kedua melihat kalimat tersebut dalam makna yang lebih luas. Mereka menafsirkannya sebagai ungkapan harapan atau sesuatu yang akan terjadi. Dengan pemahaman ini, mereka berpendapat doa boleh dibaca sebelum berbuka sebagai bentuk permohonan dan keyakinan bahwa dahaga akan segera hilang.
Meski ada perbedaan pandangan, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa hal ini tidak perlu menjadi perdebatan yang berlebihan. Umat Islam tetap bisa mengamalkan doa tersebut, baik sebelum maupun sesudah berbuka puasa, tanpa perlu merasa khawatir.

Sementara itu, Ustad Abdul Somad juga pernah menjelaskan, bahwa boleh menggunakan kedua doa tersebut. “Kedua-duanya boleh dipakai. Yang ngomong bukan Ustadz Somad, tapi Syaikh Ibn ‘Utsaimin, ulama Saudi Arabia.”
Pendapat Ulama Aceh
Pimpinan Dayah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga, Kabupaten Bireuen, Abu Syekh H Hasanoel Basri H atau yang akrab disapa Abu Mudi pernah memberikan pendapatnya. Dalam tayangan di akun Youtube Mudi TV seperti dilansir dari Serambinews.com, Abu Mudi menegaskan bahwa meneguk segelas air dan memakan sebiji kurma adalah hal yang harus didahulukan dalam berbuka puasa.
Ini karena dalam doa berbuka puasa, ada kalimat ‘Wa’ala rizqika afthartu’ yang memiliki arti ‘Atas rezeki pemberian-Mu aku telah berbuka’. “Kalau duluan kita baca doa (berbuka puasa), maka sudah berbohong di situ,” jelas Abu Mudi.
“Karena dalam doa berbuka puasa yang berbunyi ‘Wa’ala rizqika afthartu’, memiliki arti ‘Atas rezeki pemberian-Mu aku telah berbuka’. Kenyataannya kan belum (meneguk segelas air),” kata Abu Mudi.
Oleh karena itu, lanjutnya, dalam hal berbuka puasa, meminum dulu sedikit air dan memakan beberapa biji kurma barulah kemudian membaca doa berbuka puasa. “Jadi, dalam berbuka puasa didahulukan berbuka baru kemudian berdoa. Setelah itu langsung mendirikan shalat, apakah itu sendiri atau berjamaah,” jelas Abu Mudi.











