"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Mengungkap Asal Usul Bela Diri Palembang ‘Ngapo Wong Plembang Melawan’

Sejarah dan Ciri Khas Pencak Silat Palembang

Pencak silat Palembang merupakan salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini. Dikembangkan sejak masa Kesultanan Palembang, tradisi bela diri ini tetap mempertahankan keasliannya dalam hal gerakan dan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Sejarawan Palembang, Kemas Andi Syarifudin, menjelaskan bahwa pencak silat telah berkembang sejak masa Kesultanan Palembang dan tetap dijaga hingga sekarang. “Terdapat jurus-jurus dalam pencak silat keraton yang tetap dijaga keasliannya tanpa penambahan maupun pengurangan gerakan,” ujarnya melalui kanal YouTube Mang Dayat, dikutip Jumat (6/3/2026).

Dua Aliran Utama Pencak Silat Palembang

Dalam perkembangannya, terdapat dua aliran pencak silat yang dikenal berasal dari Palembang, yakni pencak silat keraton dan kuntau. Pencak silat keraton biasanya hanya diajarkan kepada masyarakat asli Palembang yang memiliki gelar bangsawan seperti Raden, Kemas, atau Agus. Sementara itu, kuntau lebih terbuka untuk masyarakat umum.

Pada masa Kesultanan Palembang, setiap periode kepemimpinan memiliki guru besar pencak silat yang bertugas menjaga dan mewariskan ilmu bela diri tersebut. Seiring waktu, pencak silat kemudian berkembang menjadi perguruan olahraga seperti yang dikenal saat ini.

Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah Palembang

Beberapa tokoh dalam sejarah Palembang juga dikenal memiliki kemampuan bela diri tinggi. Salah satunya adalah Pangeran Ratu Purbaya, putra Sultan Muhammad Mansyur, yang dikenal sebagai ahli bela diri. Selain itu, terdapat pula pendekar perempuan bernama Ratu Bagus Kuning, adik Sultan Abdurrahman, yang dipercaya memimpin pasukan perempuan dan turut berperang melawan VOC.

Pengaruh Budaya Luar pada Kuntau

Kuntau merupakan bela diri yang dipengaruhi budaya luar, terutama dari Tiongkok. Istilah kuntau sendiri berasal dari bahasa Cina yang berarti “ilmu pukulan”. Pengaruh tersebut terlihat dari penamaan jurus-jurusnya seperti Cingkuang, Paichuang, Hao Kun, dan Su Maou.

Sementara itu, pencak silat keraton memiliki jurus-jurus khas seperti Harimau Lapar, Hiu Merusak Pukat, dan Siamang Berjunti. Jurus-jurus dasar tersebut terdiri dari sembilan tingkatan.

Penggunaan Senjata Tradisional dalam Pencak Silat Palembang

Dalam praktiknya, pencak silat Palembang tidak hanya mengandalkan teknik tangan kosong, tetapi juga menggunakan berbagai senjata tradisional seperti pisau dua, besi cabang, lading, keris, tombak, hingga pedang. Secara keseluruhan terdapat sekitar 16 jenis senjata yang digunakan dalam latihan.

Keunikan Gerakan yang Menyerupai Seni Tari

Keunikan pencak silat Palembang juga terlihat dari gerakannya yang luwes dan memiliki kemiripan dengan seni tari tradisional. Unsur budaya lokal yang kuat menjadikan aliran ini memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan pencak silat di daerah lain.

Hingga kini, pencak silat keraton Palembang masih dijaga keasliannya sesuai dengan warisan turun-temurun, meski beberapa aliran pencak silat lainnya telah mengalami banyak perkembangan dan kreasi baru.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *