Pengalaman Unik Merayakan Lebaran di Bali
Merayakan hari raya Idul Fitri biasanya identik dengan rumah, keluarga, dan tradisi yang tidak tergantikan. Namun, bagi Jousef Lafi, seorang warga negara asal Maroko, Lebaran tahun ini justru terasa berbeda. Ia merayakannya di Bali, sebuah wilayah di Indonesia yang perlahan menjadi ruang pulang baru bagi banyak orang.
Kesan terhadap Bali
Jousef Lafi mengatakan bahwa ia telah tinggal di Bali beberapa waktu dan menemukan kenyamanan di sana. Meskipun tidak mudah untuk jauh dari negara asal saat Lebaran, ia memilih tinggal di tempat yang membuatnya merasa tenang.
“Saya sudah tinggal di Bali beberapa waktu, dan jujur saya menemukan kenyamanan di sini. Walaupun tidak mudah jauh dari negara asal saat Lebaran, kadang kita memilih tinggal di tempat yang membuat kita merasa tenang,” ujarnya.
Lebaran tahun ini menjadi semakin berkesan setelah ia tanpa sengaja menjadi bagian dari momen yang viral di media sosial. Sebuah video memperlihatkan dirinya bersama sejumlah warga asing berjalan menuju Masjid Al-Hasanah di kawasan Canggu untuk menunaikan shalat Idul Fitri.
Pemandangan yang Menarik Perhatian
Dalam video tersebut, tampak yang mendatangi masjid tersebut tidak hanya warga lokal, tetapi juga oleh muslim dari berbagai negara. Pemandangan itu sontak menarik perhatian warganet. Banyak yang melihatnya sebagai simbol indahnya keberagaman, bagaimana perbedaan latar belakang bisa menyatu dalam satu ibadah yang sama.
Canggu merupakan destinasi populer di pesisir selatan Bali yang terkenal dengan suasana santai, ombak surfing, pemandangan matahari terbenam (sunset) yang memukau, serta kafe-kafe kekinian dan beach club. Sekaligus, menjadi pusat pariwisata modern untuk digital nomad dan wisatawan.
Lebaran yang Berbeda
Bagi Jousef Lafi, merayakan Idul Fitri di Indonesia menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ia merasakan langsung keramahan masyarakat yang menurutnya begitu tulus. “Saya sangat menyukai kebaikan, rasa hormat, dan energi positif dari orang-orang di sini. Meski berbeda budaya, saya merasa diterima dan nyaman,” katanya.
Ia pun lalu membandingkan dengan suasana di Maroko, di mana Lebaran biasanya dirayakan dengan lebih meriah. Keluarga besar berkumpul, tradisi dijalankan, dan suasana penuh kehangatan terasa di setiap sudut.
Kumpul Keluarga yang Khas
Sementara di Bali, perayaannya lebih tenang. Tidak banyak hiruk pikuk, namun justru menghadirkan ketulusan yang berbeda. “Di sini lebih sederhana dan calm, tapi tetap sangat berarti. Setiap tempat punya keindahannya sendiri,” tambahnya.
Masjid Al-Hasanah di Canggu bukan sekadar tempat ibadah. Lebih dari itu, masjid ini menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang warga lokal, pendatang, hingga wisatawan muslim dari mancanegara. Dengan kapasitas lebih dari 2.000 jemaah, masjid ini menjadi saksi bagaimana nilai kebersamaan dan toleransi hidup berdampingan.
Pada momen Lebaran, suasana itu terasa semakin kuat. Tidak ada perbedaan antara siapa yang datang dari mana. Semua berdiri sejajar dalam satu saf menghadap arah yang sama.
Masjid yang Menyatukan
Untuk itu jauh dari keluarga tentu menyisakan rindu. Tetapi bagi Jousef Lafi, Bali memberikan hal lain yang tidak kalah berarti. Ia merasakan, kebaikan masyarakat Indonesia bukan sekadar sikap, melainkan bagian dari keseharian.
“Saya ingin berterima kasih kepada semua orang Indonesia atas sambutan hangatnya. Bagi saya, kalian adalah salah satu orang-orang terbaik,” katanya.











