"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Sejarah Candi Sawentar Blitar, Warisan Budaya yang Menggambarkan Peradaban Kuno

Candi Sawentar: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Blitar

Candi Sawentar yang terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, merupakan kompleks dua candi yang diperkirakan berasal dari masa Singasari hingga Majapahit. Situs ini disebut dalam Kitab Negarakertagama dan dikaitkan dengan kunjungan Raja Hayam Wuruk pada tahun 1361. Dugaannya, candi ini digunakan sebagai tempat ziarah atau peristirahatan kerajaan.

Nama Sawentar berasal dari istilah “Lwa Wentar” yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama sebagai sebuah tempat suci di wilayah Blitar. Masyarakat setempat juga mengenalnya dengan sebutan Candi Cungkup atau Candi Centong, menunjukkan bahwa situs ini telah lama dikenal dalam tradisi lokal.

Keberadaan dua candi ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan kompleks percandian. Candi Sawentar I dan II berjarak sekitar 100 meter satu sama lain. Dengan latar belakang tersebut, Candi Sawentar tidak hanya menjadi situs arkeologi, tetapi juga bagian dari memori budaya masyarakat setempat yang terus diwariskan hingga kini.

Jejak Sejarah dan Kunjungan Raja Hayam Wuruk

Candi Sawentar memiliki hubungan erat dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi Lwang Wentar pada tahun 1361. Banyak ahli meyakini bahwa Lwang Wentar yang dimaksud dalam kitab tersebut merujuk pada Candi Sawentar I.

Kunjungan raja dilakukan dalam rangka perjalanan keliling wilayah kerajaan. Dalam catatan tersebut, disebutkan bahwa tujuan kunjungan adalah untuk berziarah sekaligus beristirahat. Hal ini memunculkan dugaan bahwa candi ini memiliki fungsi sebagai tempat peristirahatan kerajaan.

Para ahli masih berbeda pendapat mengenai masa pembangunan candi, apakah berasal dari era Kerajaan Singasari atau awal Majapahit. Perbedaan pendapat ini justru memperkaya nilai historis Candi Sawentar sebagai situs yang berada di masa peralihan penting dalam sejarah Jawa Timur.

Penemuan dan Proses Pemugaran Candi

Sejarah penemuan Candi Sawentar juga menarik untuk ditelusuri. Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1915 oleh Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala pada masa Hindia Belanda. Sebelum ditemukan, sebagian besar bangunan candi tertimbun material vulkanik dari Gunung Kelud. Hal ini menyebabkan posisi candi berada lebih rendah dari permukaan tanah saat ini.

Proses ekskavasi kemudian dilakukan secara bertahap hingga berhasil menampakkan bagian kaki bangunan serta sejumlah struktur penting lainnya. Pemugaran awal dilakukan pada tahun 1921, meskipun bagian atap tidak sepenuhnya direkonstruksi karena keterbatasan material asli.

Upaya pelestarian terus berlanjut hingga sekarang oleh instansi terkait. Dengan berbagai proses tersebut, Candi Sawentar berhasil dipertahankan sebagai situs sejarah yang dapat dipelajari oleh generasi masa kini.

Arsitektur dan Keunikan Relief Candi

Candi Sawentar I memiliki arsitektur khas candi Jawa Timur. Bangunan ini tersusun atas tiga bagian utama, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang sekitar 9,53 meter, lebar 6,86 meter, dan tinggi mencapai 10,65 meter.

Pada bagian kaki candi terdapat relief naga bersayap yang melambangkan alam bawah, sementara di bagian tubuh terdapat kepala kala yang berfungsi sebagai penolak bala. Salah satu keunikan candi ini adalah adanya yoni dengan motif Garudeya, yang berkaitan dengan Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu.

Selain itu, relief Dewa Surya dengan tokoh menunggang kuda juga menjadi daya tarik tersendiri, memperlihatkan kekayaan simbolisme yang dimiliki candi ini.

Fungsi Candi dan Nilai Religius yang Terkandung

Candi Sawentar diduga memiliki fungsi keagamaan yang kuat. Relief-relief yang terdapat pada candi menunjukkan hubungan erat dengan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu. Keberadaan ornamen burung Garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wisnu memperkuat dugaan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.

Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah candi ini juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan tokoh tertentu atau murni sebagai tempat ibadah. Selain fungsi religius, adanya catatan kunjungan Raja Hayam Wuruk juga menunjukkan bahwa candi ini memiliki peran penting dalam aktivitas kerajaan pada masa itu.

Dengan berbagai nilai sejarah, arsitektur, dan spiritual yang dimiliki, Candi Sawentar menjadi salah satu bukti nyata kejayaan peradaban masa lalu di Blitar yang patut terus dilestarikan.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *