Tradisi Naik Dango: Upacara Syukur dan Kebersamaan Masyarakat Dayak Kanayatn
Naik Dango adalah upacara adat tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi. Tradisi ini memiliki makna spiritual, sosial, dan budaya yang dalam, serta menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Dayak.
Makna dan Tujuan Naik Dango
Kata “Naik” dalam Naik Dango berarti menaikkan atau membawa, sedangkan “Dango” merujuk pada lumbung padi tradisional. Jadi, Naik Dango berarti menaikkan padi ke dalam dango sebagai simbol selesainya masa panen dan ungkapan terima kasih kepada Jubata (Tuhan) atas berkah yang diberikan.
Tradisi ini memiliki beberapa tujuan utama:
* Mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah
* Memohon berkah untuk musim tanam berikutnya
* Melestarikan budaya dan adat istiadat Dayak
* Mempererat kebersamaan antar masyarakat
Pelaksanaan dan Kegiatan dalam Naik Dango
Naik Dango biasanya dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada bulan April hingga Mei. Puncak Naik Dango ke-41 direncanakan berlangsung pada 25–28 April 2026 di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Perayaan ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti:
* Ritual adat dan doa
* Tarian tradisional Dayak
* Musik tradisional
* Pameran budaya
* Lomba-lomba tradisional
Selain itu, sebelum acara utama dimulai, dilakukan ritual adat Nabok Panyugu sebagai permohonan restu agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan penuh kedamaian.
Asal Usul dan Nilai Spiritual Naik Dango
Tradisi Naik Dango berasal dari kepercayaan masyarakat Dayak Kanayatn terhadap Jubata, yaitu Tuhan yang memberi kehidupan dan keberkahan. Sejak zaman nenek moyang, masyarakat Dayak sangat bergantung pada pertanian, khususnya padi. Mereka percaya bahwa:
* Padi memiliki roh atau kekuatan spiritual
* Hasil panen yang baik adalah berkat dari Jubata
* Jika tidak bersyukur, panen berikutnya bisa gagal
Dari sinilah muncul tradisi Naik Dango sebagai bentuk rasa terima kasih, penghormatan terhadap alam, dan permohonan perlindungan untuk masa depan. Naik Dango bukan hanya sekadar pesta panen, tetapi juga identitas budaya masyarakat Dayak yang sarat nilai spiritual, sosial, dan tradisi.
Persiapan dan Partisipasi Masyarakat
Sebelum pelaksanaan Naik Dango ke-41, telah dilaksanakan serangkaian acara seperti ritual adat Nabok Panyugu (Pantak Pantulak) yang digelar di Kubu Raya pada Jumat, 30 Januari 2026. Ritual ini menjadi tahapan adat wajib sebelum Naik Dango dilaksanakan, sebagai bentuk permohonan izin, doa, dan restu kepada Jubata, panampa Pajaji, serta penguasa alam semesta agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, aman, dan penuh kedamaian.
Panitia Naik Dango ke-3 Dewan Adat Dayak Kota Pontianak telah melakukan aoudensi bersama Kapolresta Pontianak dalam rangka pengamanan dan meyukseskan Naik Dango tahun 2026 yang akan dilaksanakan pada tanggal 20–25 April di Rumah Radakng Pontianak.
Rangkaian Acara dan Partisipasi Masyarakat
Pusat kegiatan Naik Dango ke-41 akan dipusatkan di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Beragam kegiatan akan mewarnai perhelatan tersebut, mulai dari seminar budaya, pembukaan seremonial, pertandingan rakyat, hingga berbagai perlombaan tradisional.
Rangkaian kegiatan sebenarnya telah diawali dengan seminar pada 25 April, sementara pembukaan resmi dijadwalkan pada 27 April 2026. Menjelang puncak gawai, juga dilakukan tahapan adat Bahaupm, yakni musyawarah adat bersama para pemangku adat dari tiga kabupaten: Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.
Naik Dango merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak atas hasil panen dan perjalanan kehidupan selama satu tahun. Tradisi ini sangat erat dengan kehidupan pertanian masyarakat Dayak.
Harapan dan Pesan dari Para Tokoh
Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional, Yakobus Kumis, menjelaskan bahwa ritual Nabok Panyugu merupakan permohonan doa restu kepada Jubata, leluhur, panampa Pajaji, dan Pangingo sebagai penguasa alam semesta. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan Naik Dango ke-41 berjalan lancar, sukses, dan meriah, sekaligus menjadi wadah pemersatu masyarakat, sarana pelestarian adat budaya Dayak, serta media penyampaian pesan-pesan pembangunan oleh pemerintah.
Yakobus juga mengimbau seluruh masyarakat di tiga kabupaten tersebut untuk turut berpartisipasi dan menyukseskan pelaksanaan Naik Dango ke-41 tahun 2026.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











