Festival Ngopi Sepuluh Ewu dan Kekayaan Budaya Desa Kemiren
Desa Kemiren, yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, telah menjadi destinasi wisata yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun internasional. Salah satu acara yang menjadi daya tarik utama adalah Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang mengangkat potensi budaya Suku Osing serta kekayaan wisata yang ada di desa tersebut.
Selain Festival Ngopi Sepuluh Ewu, dua festival lain yang rutin digelar adalah Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Ketiga acara ini menjadi bagian dari kalender Banyuwangi Festival (B-Fest), sebuah rangkaian event wisata yang sukses memoles citra Banyuwangi sebagai Kota Wisata di Indonesia.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi menyebutkan bahwa prestasi Desa Kemiren di tingkat internasional berasal dari kearifan dan budaya lokal yang dirawat dengan sungguh-sungguh.
Aroma Kopi yang Mengundang
Anak-anak muda suku Osing, yang berasal dari pengasingan era Perang Puputan Bayu, kini menjelma menjadi desa wisata terbaik dunia. Aroma kopi menyeruak ketika melangkah di jalan utama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada petang hari. Di kanan-kiri jalan, ratusan orang duduk santai di kursi kayu bergaya lawas sembari menikmati suguhan kopi tubruk.
Pada perayaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu, sebanyak kurang lebih 10 ribu cangkir kopi disajikan secara cuma-cuma untuk siapapun yang datang ke festival yang rutin digelar setiap tahun itu. Kopi gratis, suasana syahdu, dan keramahtamahan warga menjadi tiga hal yang cukup untuk menarik ribuan orang dari berbagai penjuru daerah datang ke festival ini. Termasuk wisatawan asal luar negeri.
Budaya Suku Osing yang Unik
Meskipun Desa Kemiren bukanlah penghasil kopi, masyarakat suku Osing memiliki kedekatan dengan kopi dari sisi budaya. Wajib bagi mereka menyuguhkan kopi kepada tamu yang datang ke rumah. Mereka juga punya kebiasaan unik lain, seperti dalam setiap pernikahan, orang tua akan menghadiahi pengantin dengan beberapa perabot rumah, termasuk selusin cangkir keramik kecil.
Cangkir-cangkir ini juga yang dikeluarkan dari tiap rumah untuk disajikan kepada wisatawan dalam festival Ngopi Sepuluh Ewu. “Dulu tidak terpikirkan bagi kami bahwa budaya sederhana yang kami miliki menarik bagi para wisatawan,” kata Moh Edy Saputro, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Kemiren.
Tiga Event Besar di Desa Kemiren
Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang rutin digelar setiap tahun bukanlah satu-satunya pagelaran besar di desa tersebut. Kemiren setidaknya menyumbang tiga event dalam kalender Banyuwangi Festival (B-Fest), sebuah rangkaian event wisata yang sukses memoles citra Banyuwangi sebagai Kota Wisata di Indonesia.
Selain Ngopi Sepuluh Ewu, dua festival lain adalah Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Festival Barong Ider Bumi merupakan ritual yang digelar sebagai penyucian dan perlindungan. Upacara tradisional ini sudah digelar puluhan atau bahkan ratusan tahun setiap hari kedua bulan Syawal dalam kalender Islam. Sementara Tumpeng Sewu berakar dari tradisi selamatan desa atas hasil panen yang melimpah.
Pengembangan Desa Wisata
Edy menjelaskan, memoles desa adat menjadi desa wisata tidak semudah membalik telapak tangan. Beberapa kali upaya dilakukan, tapi tak selalu membuahkan hasil maksimal. Desa wisata pertama kali digagas sekitar tahun 2013. Berbagai kegiatan budaya digelar untuk mendatangkan minat wisatawan. Sempat berjalan beberapa tahun, tapi kurangnya konsistensi membuat desa adat sempat mati suri.
Baru sekitar 2017, pemuda-pemuda suku Osing yang tergabung dalam kelompok karang taruna mencoba mengulangnya kembali. Sekitar 20 remaja membentuk Pokdarwis. Mereka menyiapkan titik-titik destinasi budaya sebagai paket wisata dengan konsep yang lebih matang.
Tari Gandrung yang Mendunia
Kebudayaan lain masyarakat suku Osing yang tak boleh dilupakan adalah Tari Gandrung. Ini merupakan sebuah tarian yang pertama kali ditampilkan zaman kependudukan Belanda atau sekitar abad ke-18. Tarian tersebut kini dikenal luas melalui pentas tari kolosal Festival Gandrung Sewu yang digelar oleh Pemkab Banyuwangi.
Festival yang rutin digelar di pantai Selat Bali ini menjadi salah satu event unggulan nasional dan masuk dalam kalender wisata Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Kekayaan budaya yang dibungkus dalam atraksi wisata berhasil mengantarkan Desa Kemiren sebagai salah satu desa wisata terbaik di dunia 2025.
Ratusan Keluarga Bergantung pada Sektor Wisata
Sejak Kemiren menjelma menjadi desa wisata, lebih dari 200 keluarga hidupnya bergantung pada sektor tersebut. Mereka antara lain adalah para pemandu wisata, pekerja seni, pemilik akomodasi penginapan, pelaku usaha mikro kecil menengah, pengelola rumah adata kawasan cagar budaya, hingga pemilik persewaan tempat tinggi atau homestay.
Jumlah pelaku jasa wisata di Desa Kemiren juga terus tumbuh seiring waktu berjalan. Tercatat saat ini, sebanyak 22 usaha kecil-menengah berdiri di desa tersebut. Mereka bergerak di usaha makan-minuman hingga sandang. Jumlah homestay berkali-kali lipat lebih banyak. Pihak desa mencatat, lebih dari 40 homestay berdiri di kawasan Desa Wisata Kemiren.
Kampung Berseri Astra
Desa Kemiren termasuk satu dari 235 Kampung Berseri Astra, sebuah program berbasis komunitas yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Dukungan dari Astra meliputi empat pilar, yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan. Astra juga turut memperkuat ekonomi melalui pengembangan unit usaha berbasis budaya lokal.
Keberlanjutan Budaya dan Wisata
Bagi masyarakat suku Osing, kebudayaan yang membaur dengan pariwisata justru memberi nilai lebih. Keduanya saling melengkapi. Adat istiadat tetap lestari dan dijunjung tinggi. Di satu sisi, asap dapur rumah warga juga terus mengepul dampak dari pariwisata yang bergeliat.
Suhaimi menjelaskan, suku Osing sebenarnya memiliki lebih banyak kebudayaan menarik di luar yang disuguhkan dalam pariwisata. Contohnya, masyarakat suku Osing memiliki bahasa Osing, sebuah dialek jawa khas yang hingga kini masih menjadi bahasa ibu, bahkan oleh kalangan muda-mudi.
Sejarah Bahasa Osing
Bahasa Osing menarik untuk diulik sebab memiliki sejarah yang panjang. Sejarah bahasa ini berhubungan erat dengan asal muasal masayarakat suku Osing yang lahir era Perang Puputan Bayu (1771-1773). Sebagian masyarakat Blambangan yang sudah bosan dengan peperangan memilih untuk mengasingkan dan memisahkan diri dari pemerintahan. Mereka tidak mau terlibat lagi dengan peperangan. Untuk itu mereka mengubah jati diri dengan salah satunya menggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa Osing itulah yang masih digunakan hingga saat ini.











