"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Digitalisasi dan Regenerasi Saluang serta Silek Pauh untuk Melestarikan Seni Tradisi Pauh

Peran Digitalisasi dalam Melestarikan Seni Tradisi Minangkabau

Di tengah dominasi tren seni modern yang berasal dari luar, pentingnya menjaga dan membangkitkan minat generasi muda terhadap seni tradisi menjadi fokus utama. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah melalui digitalisasi, yang membantu seni tradisi tetap relevan di era teknologi saat ini.

Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Negeri Padang (UNP) berkomitmen untuk melestarikan seni tradisi Minangkabau, khususnya Saluang dan Silek Pauh, melalui inisiatif digitalisasi dan regenerasi repertoar. Program ini didanai oleh Hibah DPPM Kemdiktisaintek RI 2025 dan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III serta kelompok seni Parewa Limo Suku sebagai mitra utama.

Kegiatan pertama program ini dilaksanakan pada Oktober 2025, dengan fokus pada proses digitalisasi repertoar Saluang dan Silek Pauh. Tim PISN bekerja sama dengan para maestro dan pelaku seni tradisi Pauh yang telah lama menjaga pengetahuan lokal. Proses ini melibatkan beberapa tokoh penting, seperti Hendri Yusuf, M.Pd., seorang budayawan dan maestro Silek Pauh, yang bertindak sebagai pengarah penyusunan repertoar Silek. Sementara itu, Rio Makdang ditunjuk sebagai pengarah repertoar Saluang Pauh.

Dokumentasi visual dilakukan oleh Dion Atma Wijaya, S.Ds., sebagai videographer dan editor, dengan dukungan teknis dari Dwiky Prasetya, Putri Monika, dan grup Parewa Limo Suku. Hasil dari proses ini adalah rekaman lengkap repertoar yang akan dikembangkan menjadi arsip digital dan bahan ajar multimedia untuk pendidikan serta penguatan literasi budaya.

Pelatihan untuk Regenerasi Generasi Muda

Pada November 2025, tim PISN UNP melanjutkan kegiatan kedua berupa pelatihan Saluang dan Silek Pauh. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk regenerasi bagi generasi muda, seniman, dan masyarakat lokal. Kegiatan ini berlangsung di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, dan dibuka oleh Hasa Hadi, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III.

Menurut Ketua Tim, Prof. Dr. Ardipal, M.Pd., pelatihan ini merupakan ruang penting untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap seni tradisi, terutama melalui pendekatan digital yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pelatihan ini mengangkat tiga fokus utama: digitalisasi seni tradisi, regenerasi keterampilan memainkan Saluang, dan praktik Silek Pauh, serta inovasi pertunjukan kolaboratif berbasis musik dan gerak tradisional.

Tiga narasumber utama terlibat dalam sesi ini, yaitu Ayuthia Mayang Sari, M.Sn., yang menyampaikan materi pelestarian kesenian dan penciptaan karya inovatif; Robby Ferdian, M.Sn., yang menekankan pemanfaatan teknologi dalam penciptaan musik tradisi; serta Venny Rosalina, M.Sn., yang mengajarkan konsep Silek pertunjukan berbasis tradisi. Selain itu, kegiatan turut difasilitasi oleh para maestro lokal, seperti Irmun Krisman (Saluang Pauh), Devi Hasri (Dendang Pauh), dan Hendri Yusuf (Silek Pauh).

Dampak Positif bagi Komunitas Seni Tradisi

Ketua Parewa Limo Suku, Irmun Krisman, menyampaikan apresiasi kepada UNP dan tim PISN karena kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi komunitas seni tradisi Pauh. Menurutnya, pelatihan tersebut membantu masyarakat memahami teknik latihan, memetakan repertoar, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi sistematis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Melalui rangkaian digitalisasi dan pelatihan ini, UNP menunjukkan peran strategisnya sebagai pusat pengembangan seni dan budaya Nusantara. Program PISN tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga menghadirkan inovasi dan pemberdayaan komunitas untuk memastikan bahwa kesenian tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam konteks modern.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *