Motif Pembunuhan Ibu dan Anak di Rumah Kos Nganjuk Terungkap
Polisi telah mengungkap dugaan motif pembunuhan ibu dan dua anak perempuan di rumah kos Kelurahan Payaman, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku tega membunuh korban karena sakit hati. Meskipun demikian, penyidik masih terus melakukan pendalaman untuk memastikan konstruksi kejadian secara menyeluruh.
Pelaku Ditangkap oleh Polisi
Pelaku pembunuhan tersebut adalah DS (30), warga Desa Jogomerto, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Kapolres Nganjuk, AKBP Henri Noveri Santoso, membenarkan bahwa pelaku berhasil ditangkap oleh personel Satreskrim di rumahnya pada Rabu (26/11/2025) dini hari. Pemeriksaan terhadap pelaku masih berlangsung.
Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca, menjelaskan bahwa motif sementara mengarah pada rasa sakit hati. Hal ini terkuak dari hasil pemeriksaan awal terhadap pelaku. Namun, polisi masih mengumpulkan bukti tambahan dan memeriksa saksi-saksi untuk memperjelas hubungan antara terduga pelaku dan para korban.
Korban dalam Kejadian Tragis
Dalam peristiwa tragis ini, tercatat ada tiga korban yang merupakan satu keluarga. Mereka adalah Elvy Nurhayati (41), Ellinda Jelsa Ika Eldianti (22), dan ED (18). Elvy dan Ellinda ditemukan meninggal dunia, sedangkan ED kritis dan saat ini dirawat intensif di rumah sakit.
Kesaksian Tetangga Kos
Meilysa Putri (27), tetangga korban, mengungkapkan pengalamannya saat mendengar suara jerit tangis dan kesakitan korban. Suara pekikan korban terdengar sangat kencang menembus tembok kamar kosnya pada Selasa (25/11/2025) sekira pukul 23.00 WIB. Meilysa merasa waswas dan tidak berani langsung mengeceknya.
Beberapa menit kemudian, teriakan korban menghilang. Setelah itu, Meilysa memberanikan diri keluar kamar. Tetangga kos kamar 1 juga ikut keluar. Mereka saling bertanya-tanya, apa yang terjadi di dalam kamar nomor 2.
Selanjutnya, Meilysa berniat mengetuk pintu kamar korban guna memastikannya. Namun niat itu urung. Tak lama seorang pria keluar dengan pakaian berlumuran darah. Dia keluar singkat, lalu masuk ke kamar lagi tanpa sepatah katapun.
Pria itu keluar lagi sembari menggenggam sebilah pisau yang ada darahnya. Pisau itu ditodongkan ke mereka. Dia bilang “jangan ikut campur.” Bahkan, dia mendekati Meilysa sampai terpojok ke tembok. Meilysa meminta maaf, barulah pria itu kemudian membiarkan mereka berlari ke kamar. Pintu kamar Meilysa dikunci.
Tidak berhenti di situ, Meilysa mendengar sesuatu seperti seseorang menyiram. Anehnya, bersamaan, dia mencium bau bensin yang menyengat. Setelah menghabisi nyawa korban, pria itu membakar perabotan yang ada di kamar nomor 2, yang merupakan kamar korban.
Penutup
Sejauh ini, belum diketahui persis hubungan pria dengan para korban. Polisi masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap seluruh kejadian dan memastikan proses hukum berjalan dengan baik.











