Sejarah Kerupuk di Meja Makan Solo
Di Kota Solo, Jawa Tengah, banyak menjamur warung makan legendaris. Namun ketika berkunjung ke warung makan ini, ada satu yang jadi sorotan. Yakni keberadaan kerupuk yang tersaji dalam kaleng di meja makan. Kaleng itu berwarna-warni, sementara isi kerupuk di dalamnya biasanya berwarna putih hingga kekuning-kuningan.
Kerupuk menjadi ikon khas di meja makan warung-warung Solo, tersaji dalam kaleng warna-warni dan dijual seharga Rp1.000 per buah. Makanan renyah ini berakar dari sejarah panjang singkong yang dibawa Portugis dan berkembang pesat sejak masa kolonial hingga krisis ekonomi.
Di Solo, tiga merek kerupuk kaleng legendaris masih eksis hingga kini: Kerupuk Sala (sejak 1967), Ulam Sari, dan Elis dari Sukoharjo.
Jejak Awal dari Tanah Portugis ke Nusantara
Singkong, bahan utama kerupuk, bukan tanaman asli Indonesia. Umbi ini dibawa oleh bangsa Portugis sekitar abad ke-15 dan ke-16 dari Amerika Selatan. Masuknya singkong menjadi bagian dari “jejak kolonial hayati” yang mengubah lanskap pangan Nusantara.
Ketika sistem cultuurstelsel diterapkan pada abad ke-19 oleh pemerintah Hindia Belanda, yang mewajibkan rakyat menanam tanaman ekspor seperti teh, kopi, dan kakao, lahan untuk padi menjadi terbatas. Masyarakat pun beralih menanam singkong untuk bertahan hidup. Dari situ, produksi singkong meningkat pesat dan melahirkan beragam inovasi kuliner berbasis singkong, termasuk kerupuk.
Dari Sawah ke Pabrik: Lahirnya Industri Kerupuk
Jawa Barat, terutama Ciamis, disebut sebagai daerah asal mula industri kerupuk modern. Ciamis dan sekitarnya memang dikenal sebagai penghasil singkong dan tapioka. Konon katanya, dari Ciamis inilah muncul sentra-sentra kerupuk yang memasok hingga Bandung dan Batavia pada masa kolonial.
Kala itu, pedagang kerupuk dikenal dengan ciri khasnya membawa kaleng besar blek, menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Namun, industri kerupuk bukan hanya cerita pasca-kolonial. Dalam sejumlah sumber, seperti kakawin Jawa Kuno Ramayana (abad ke-9 hingga ke-10), telah ditemukan istilah “kurupuk”, yang berarti serpihan renyah dari kulit atau udang. Ini menunjukkan bahwa konsep makanan renyah serupa kerupuk telah dikenal sejak era Kerajaan Medang.
Kerupuk di Masa Krisis dan Depresi Dunia
Kerupuk tidak hanya bertahan di masa kemakmuran, tetapi justru menjadi simbol ketabahan di masa paceklik. Pada era Great Depression (1929–1939), harga bahan pangan hewani seperti daging dan susu melambung tinggi. Kaum pribumi bertahan dengan nasi, sambal, ikan asin, dan kerupuk. Kerupuk kala itu menjadi simbol kemelaratan dan keprihatinan.
Ironisnya, justru dari masa-masa sulit inilah industri kerupuk tumbuh. Di Bandung dan Yogyakarta, misalnya, para perantau dari Ciamis dan Tasikmalaya membuka pabrik-pabrik kerupuk setelah kehilangan pekerjaan di sektor formal. Data menunjukkan pabrik kerupuk di Bandung, seperti milik Saidin dan Sukarma, sudah beroperasi sejak 1930-an. Pabrik lain, DK di Sleman, juga berdiri pada 1934 dan masih bertahan hingga kini dikelola generasi ketiga.
Renyah di Tengah Gejolak Ekonomi
Krisis demi krisis justru membuat industri kerupuk semakin adaptif. Kebijakan pemerintah tahun 1978 yang membuat harga tapioka melonjak hingga 80 persen sempat mengguncang pelaku usaha, namun mereka tetap bertahan. Pada krisis moneter 1998 dan pandemi COVID-19 tahun 2020 pun, bisnis kerupuk terbukti tangguh, bahkan meningkat karena tingginya konsumsi rumah tangga.
Keberhasilan industri kerupuk tak lepas dari kerja keras para perantau asal Ciamis. Di Jakarta, para pengrajin kerupuk umumnya berasal dari Kecamatan Cikoneng dan Cipaku, Ciamis. Mereka selama ini dikenal sebagai ahli membuat kerupuk aci. Jika pun di Solo atau daerah Jawa Tengah-DIY ada pabrik kerupuk, besar kemungkinan pemiliknya orang Cikoneng atau Jawa Barat.
Fakta ini sejalan dengan catatan geograf Soemaatmadja (1960) yang menyebut bahwa pada 1960-an, Cikoneng telah dipenuhi rumah-rumah besar milik pengusaha batik dan kerupuk. Melimpahnya singkong dan minyak kelapa di wilayah itu menjadikan Ciamis pusat industri kerupuk nasional.
3 Pabrik Kerupuk Kaleng Legendaris di Solo
Di Kota Solo, Jawa Tengah sendiri ada beberapa merek kerupuk kaleng yang terkenal. Tiga di antaranya adalah kerupuk Sala, kerupuk Ulam Sari, dan kerupuk Elis. Kerupuk-kerupuk ini biasanya diantar secara berkeliling menggunakan sepeda dan bronjong ke beberapa warung makan.
Untuk kerupuk Sala misalnya, biasanya dikemas dalam kaleng berwarna hijau atau warna-warna mencolok lainnya. Pabrik kerupuk di Kerten Solo, Jawa Tengah, ini sudah berdiri dari 1967. Kemudian ada pula kerupuk Ulam Sari yang belakangan juga naik daun. Merek kerupuk ini pernah dipromosikan oleh Wali Kota Solo saat itu, Gibran Rakabuming Raka.
Selain warung-warung makan, kerupuk Ulam Sari kini juga merambah ke toko oleh-oleh khas Solo dalam varian mentah. Yang ketiga adalah kerupuk Elis. Kerupuk ini diproduksi oleh PT Elis Bandung yang membangun pabriknya di Sukoharjo, Jawa Tengah. Umumnya, kerupuk-kerupuk ini ketika sudah sampai di meja makan di warung makan di Solo, dibanderol dengan harga Rp1.000 dengan ukuran cukup besar.











