KEDIRI,
Muryani mengaku kaget saat tiba-tiba mertuanya menugaskannya untuk meneruskan tugas sebagai penjaga makam. Tak lama setelah itu, mertuanya yang sudah tua meninggal dunia. Tugas sebagai penjaga Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ronggo Jali di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, Jawa Timur, pun beralih pada Muryani setelah pewarisan dari generasi ke generasi.
Bagi Muryani, amanat tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Sebab, lelaki berusia 56 tahun ini mengaku bahwa dirinya tidak memiliki bekal atau pengalaman sebagai penjaga makam. Apalagi, dirinya hanya seorang mantu dalam keluarga tersebut.
Sebenarnya, sebagai penjaga makam, terutama di desa, seseorang harus memiliki mental yang kuat serta jiwa spiritual dan kebatinan. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa melakukannya karena dianggap sakral.
“Mertua saya hanya berpesan untuk melanjutkan tugasnya sambil memberikan doa. Saya juga kaget dan tidak paham kenapa saya yang ditunjuk,” ujar Muryani mengingat peristiwa satu dekade lalu.
Setelah kematian mertuanya, lelaki asal Kabupaten Blitar itu harus mulai menjalankan tugas baru yang tidak pernah ia sangka. Di awal tugasnya, perasaannya campur aduk antara kecemasan, gugup, hingga khawatir akan medan tugas yang harus dijalaninya.
“Sebab penjaga makam tidak ada pendidikan formalnya. Saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya dibekali doa oleh mertua,” lanjut Muryani.
Benar saja. Di hari pertama bertugas, ada warga yang meninggal dunia. Ia berusaha mempersiapkan segala keperluan hingga pemakaman berlangsung lancar hingga akhir.
“Tapi malamnya saya tidak bisa tidur. Terasa tidak tenang. Seperti ada yang ngetok-ngetok pintu rumah terus,” ujar Muryani.
Hingga akhirnya, ia terus berusaha dan belajar membiasakan diri hingga akhirnya terbiasa dan menjalaninya hingga kini.
Pelayanan 24 Jam
Tugas penjaga makam secara umum adalah tentang pemeliharaan pemakaman dan keseluruhan areanya. Termasuk kebersihan, keamanan, dan ketertiban makam. Selain itu, selalu hadir setiap kali ada warga yang meninggal. Soal ini, tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Sehingga, ia harus selalu siap selama 24 jam.
“Ini rumputnya sudah mulai tumbuh lagi, padahal kemarin baru saja saya bersihkan,” ujar Muryani menunjuk tunas vegetatif rumput di kawasan pemakaman.
Muryani mengungkapkan, tugas terberatnya dan tak akan pernah terlupakan adalah saat wabah Covid-19 melanda. Ia menjadi bagian dari garda terdepan yang mengurusi pemakaman warga yang menjadi korban penyakit akibat virus tersebut.
Peristiwa itu sangat menguras tenaganya karena banyaknya jumlah kematian. Bahkan dalam sehari, sampai ada lima pemakaman. Kondisi itu selain menguras tenaga, juga psikisnya karena kekhawatiran potensi persebaran penyakit yang mudah menular.
“Saya waktu itu sampai sakit. Hilang nafsu makan sampai dua minggu,” lanjutnya.
Meskipun demikian, ia tidak memedulikan kondisinya karena tuntutan profesionalismenya sebagai penjaga makam. Apa pun situasinya, seluruh pemakaman harus dituntaskan.
“Untungnya saya punya istri yang perhatian. Dia yang merawat saya saat sakit,” lanjutnya.
Lurah Ngronggo, Ahmad Koharudin, menyatakan bahwa peran penjaga makam sangat penting selain pemeliharaan makam juga pengawasan infrastruktur makam.
“Penjaga makam juga bisa menginformasikan sarpras apa yang kurang atau rusak, utamanya lampu dan lain-lain,” ujar Koharudin.
Mantan Lurah Mojoroto ini menambahkan, penjaga makam menjadi elemen penting jika ada warga yang meninggal. Sebab, penjaga makam adalah orang pertama yang dimintai tolong mencari lokasi pemakaman.
Di wilayah Kelurahan Ngronggo ada 5 TPU dengan jumlah 6 orang penjaga makam. Salah satu pemakaman memerlukan dua orang penjaga karena luasnya TPU.
Pemerintah, kata Koharudin, telah memberikan perhatian berupa pemberian honor bulanan dan juga pembayaran iuran jaminan sosialnya.
“Ada honor bulanan dan BPJS,” pungkas Koharudin.
Kesejahteraan yang Perlu Ditingkatkan
Penjaga makam sering dikaitkan dengan pekerjaan yang berorientasi pada nilai sosial. Sehingga, terkadang abai pada perhatian kesejahteraannya. Padahal, di situ ada keringat yang mengucur dan lelah yang tak terbantah.
Seperti halnya yang dialami Muryani. Pada tugas yang berat itu, pendapatan yang didapatkannya ternyata cukup memprihatinkan dan jauh dari kelayakan. Setiap bulan Muryani mendapatkan honorarium dari pihak kelurahan. Namun, jumlahnya hanya Rp 200.000. Jumlah itu tidak pernah ada kenaikan selama beberapa tahun terakhir ini.
“Sudah lima tahun ini tidak ada kenaikan honor. Itu pun dipotong pajak,” ujar Muryani.
Padahal dengan tanggung jawab yang diembannya, membuat fokus dan waktunya tersita sehingga dirinya belum memungkinkan memiliki pekerjaan lainnya. Honorarium itu menjadi satu-satunya pemasukan utama untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia merupakan tulang punggung ekonomi atas seorang istri dan anaknya.
Memang ada pendapatan lainnya atas profesinya itu, yaitu sedekah dari para peziarah yang datang mengunjungi makam sanak keluarga. Tapi, itu sifatnya sukarela dan datangnya tidak pasti.
Oleh sebab itu, Muryani sangat mengapresiasi jika pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para penjaga makam seperti dirinya.
“Seperti saya ini kalau tidak diniati ibadah, panggilan jiwa, apa ya kuat,” pungkas Muryani.
Masih berhubungan dengan TPU, ada juga yang disebut dengan petugas rukun kematian atau sering disebut rukem. Atas kerja-kerjanya, mereka tidak mendapatkan honor ataupun sebutan yang lainnya. Padahal peranan mereka juga tidak kalah penting di bidang pemakaman. Mereka umumnya bertugas menyiapkan kelengkapan pengurusan jenazah hingga pemakaman.
“Tugas kami banyak. Bahkan misalnya kalau ada konflik di pemakaman, kami yang terjun,” ujar Sodiq, ketua Rukem sekaligus ketua RW 04 Kelurahan Ngronggo.
Potensi masalah di bidang pemakaman, kata Sodiq, cukup sering terjadi. Contohnya adalah konflik yang timbul atas pelarangan tradisi mengkijing makam. Apalagi dirinya membawahi lima TPU yang ada di kelurahan.
Oleh sebab itu, Sodiq juga sangat mengapresiasi jika pemerintah memberi perhatian lebih kepada mereka yang telah rela menghabiskan waktu menjaga pemakaman.
“Ya harapannya ada perhatian lebih lah dari pemerintah. Terus untuk tugas kayak penjaga makam itu, harapannya juga dinaikkan honornya,” pungkas Sodiq.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











