"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Jejak Rebeb Dihidupkan Kembali dalam Dokumenter BPK Aceh dan Muazin Mudereje

Kehidupan Kembali Rebeb, Alat Musik Gesek Tradisional Gayo

Rebeb, alat musik gesek tradisional yang hampir punah, kini kembali hidup melalui sebuah film dokumenter. Dokumenter ini merupakan hasil kolaborasi antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh dan seniman muda Muazin Mudereje. Proses pembuatan film ini berlangsung sejak awal September sampai awal November 2025, mengambil waktu dua bulan untuk menangkap momen-momen penting dalam proses pembuatan rebeb.

Film ini bukan sekadar rekaman visual, tetapi juga menjadi jembatan emosional antara masa lalu dan masa kini. Melalui dokumenter ini, penonton diajak menyusuri proses kreatif dan kearifan lokal yang melahirkan rebeb. Dari hutan tempat kayu nangka dipilih dan ditebang secara hati-hati, hingga bengkel sederhana tempat para perajin membentuk, melubangi, menghaluskan, dan merakit setiap bagian rebeb dengan ketelitian yang lahir dari pengalaman panjang.

Dalam dokumenter tersebut, momen-momen intim proses pembuatan rebeb dipertontonkan: tangan-tangan yang mengikis permukaan kayu, dentingan halus alat pahat, hingga kilau sederhana tulang atas yang dibentuk untuk menghasilkan nada-nada khasnya. Semua proses itu tidak hanya menampilkan keahlian, tetapi juga filosofi tentang kesabaran dan ketulusan dalam merawat warisan budaya.

Kehadiran Ceh Didong legendaris, Mahlil Winar, memberikan dimensi yang lebih mendalam. Saat ia berkolaborasi dengan Muazin memainkan rebeb yang baru selesai dibuat, film ini berubah menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Suara rebeb yang lirih namun berwibawa menjadi pengingat bahwa tradisi adalah sesuatu yang bernyawa dan hanya akan terus hidup jika diwariskan.

“Tujuan utama kami adalah membuat rebeb kembali dikenal dan dicintai,” ujar Muazin kepada media. Baginya, dokumentasi ini adalah bentuk perlawanan terhadap kepunahan alat musik tradisional. Ia ingin anak-anak muda menyadari bahwa mereka memiliki harta budaya yang kaya, yang hanya menunggu untuk dihidupkan kembali melalui tangan-tangan baru.

BPK Wilayah I Aceh memandang film ini sebagai langkah awal dari upaya besar menghidupkan alat-alat musik tradisional yang hilang dari ingatan kolektif masyarakat. Rebeb adalah salah satunya, sebuah alat musik yang kini jarang dibuat, apalagi dimainkan. Melalui dokumentasi yang sistematis dan publikasi yang luas, mereka berharap rebeb kembali mendapat tempat di tengah perkembangan seni modern.

Lebih jauh, Muazin bersama BPK Wilayah I Aceh berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dapat mendorong rebeb sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Penetapan ini akan membuka peluang lebih besar bagi upaya pelestarian, dukungan anggaran, pembinaan perajin, serta regenerasi pemain. Sebuah langkah penting agar rebeb tidak hanya hidup dalam dokumentasi, tetapi juga dalam kehidupan nyata masyarakat Gayo.

Melalui dokumentasi ini, rebeb telah pulang ke ruang apresiasi. Ia berbicara kembali pelan, jernih, dan menggetarkan, mengajak siapa pun yang mendengarnya untuk tidak membiarkan warisan budaya Gayo tenggelam dalam senyap.

Profil Muazin Mudereje

Muazin Mudereje adalah seorang seniman muda Gayo yang dikenal sebagai tokoh penting dalam kebangkitan kembali alat musik tradisional rebeb Gayo ini. Melalui dedikasi, riset lapangan, dan kerja kreatif, Muazin berhasil merekonstruksi bentuk, struktur, dan teknik pembuatan rebeb berdasarkan ingatan para tetua, literatur lama, serta tradisi didong yang masih tersisa.

Muazin Mudereje juga seorang peniup suling dan pembuat alat musik suling bambu. Ia lahir di Kampung Arul Latong, Kecamatan Bies, tahun 1995. Menyelesaikan pendidikan di FKIP Universitas Syiah Kuala program studi seni pertunjukan pada tahun 2020.

Kemampuannya bermain suling dan menguasai alat musik Gayo, menitis dari ayah dan kakeknya, yang dikenal masyarakat Arul Latong sebagai peniup suling hebat. Ayahnya, Lukman pernah bermain suling gambus ketika masih bergabung dengan Grup Musik Gambus PGA Aceh Tengah. Kakeknya (bahasa Gayo, awan), bernama Mude Reje juga seorang pemain suling andal dan terkenal.

Muazin tertarik menciptakan alat musik ‘rebeb’ setelah mendapat informasi bahwa ternyata masyarakat Gayo punya alat musik gesek ‘rebeb’. Jejak alat musik ‘rebeb’ ini tertera dalam buku “Atjeh” Algemeen Samenvattend Overzicht Van Land En Volk Van Atjeh En Onderhoorigheden karya J Kreemer, 1922, halaman 396, diterjemahkan pengamat budaya Gayo, Zulfikar Ahmad Aman Dio, dinyatakan bahwa Rebeb atau Harebab adalah alat musik Gayo yang menggunakan senar.

Alat ini mirip dengan biola, lebiola atau bilhola. Rebeb secara umum terdiri dari dua bagian utama, papan bunyi dan gagang. Papan bunyi Rebeb biasanya dibuat dari kayu nangka atau akar kayu selemeng berbentuk elip atau bulat seperti piring dan dilubangi pada bagian tengahnya. Pada bagian belakang ditutupi dengan kulit dari perut kerbau atau sapi.

Gagang rebeb pada bagian ujung dilengkapi dengan tiga buah pasak tala tempat menggulung senar. Senar dibuat dari benang sutra yang dipelintir. Senar ini di Gayo disebut tali kri. Tali kri melalui landasan jembatan kayu atau sisir rotan. Penggesek berbentuk busur untuk menggesek tali kri pada rebeb terbuat dari bambu atau rotan tali penggesek terbuat dari rambut ekor kuda atau ijuk, ada juga yang terbuat dari serabut batang pisang.

J Kreemer juga menampilkan gambar alat musik Rebeb tersebut dan menyebutnya sebagai alat musik pribumi setempat.

Muazin tumbuh dalam lingkungan seni yang kental, terutama tradisi didong. Sedari kecil ia sudah akrab dengan bunyi-bunyian tradisional seperti canang, gegedem, dan serune. Karyanya mulai dikenal luas ketika ia memperkenalkan prototipe pertama rebeb Gayo dalam pertunjukan seni dan diskusi budaya termasuk dalam event Desember Kopi Gayo 2024 di Galeri Kopi Indonesia dan Gua Loyang Pukes.

Upayanya kemudian dianggap sebagai temuan penting dalam pelestarian musik tradisi, karena telah menghidupkan kembali sebuah instrumen yang hampir hilang dari sejarah. Melalui kerja seninya, Muazin Mudereje telah mengembalikan rebeb ke panggung budaya Gayo. Ia kini dianggap sebagai penggerak utama revitalisasi rebeb, sekaligus figur penting dalam upaya mendorong instrumen ini masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Aceh Tengah.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *