
Kisah Perjalanan Emosional Sherly Tjoanda
Sherly Tjoanda, mantan Gubernur Maluku Utara, memiliki kisah hidup yang penuh dengan luka dan kehilangan. Dalam wawancara bersama Denny Sumargo, ia berbagi tentang perasaannya yang mendalam terhadap keluarganya, terutama anak-anaknya. Mereka menjadi sumber kekuatan yang menjaga langkahnya setiap hari.
Kehilangan suaminya, Benny Laos, merupakan momen yang sangat berat bagi Sherly. Namun, ia merasa beruntung memiliki anak-anak yang kuat dan tangguh. Di balik itu, ia juga mengalami rasa patah hati, terutama saat melihat putra bungsinya mengalami perubahan besar.
Kedewasaan yang Terlalu Cepat
Sherly menyebut bahwa sejak kepergian sang ayah, putranya tumbuh menjadi lebih dewasa dari usianya. Ia menunjukkan kebijaksanaan yang tidak biasa untuk seorang remaja. Menurut Sherly, kebijaksanaan ini muncul dari situasi hidup yang memaksanya memikul beban orang dewasa di usia yang masih sangat muda.
Momen yang paling menyedihkan adalah ketika putranya harus pulang dari Amerika. Ia meninggalkan dunia remaja yang seharusnya ia nikmati, seperti kuliah, bermain, dan mengejar impian. Sherly merasa sedih karena melihat putranya harus bekerja dan belajar menghadapi dunia kerja.
“Ya kadang kasihan aja lihat dia. Masih muda banget, baru 19 tahun. Dia harusnya masih main, tapi dia harus nemenin aku,” ujarnya.
Sherly sadar betapa beratnya beban emosional yang dipikul putranya. Beban tersebut semestinya belum menjadi miliknya pada usia tersebut.
Putra Bungsu sebagai Tempat Bersandar
Di sisi lain, Sherly juga menyebut bahwa putra bungsunya sering menjadi tempat ia berbagi. Di tengah berbagai tuntutan dan keputusan penting yang harus ia buat, justru putra bungsunya yang kini berusia 19 tahun sering menjadi tempat ia meminta pendapat.
“Jadi, setiap ada hal-hal yang saya tidak bisa putuskan dan dilema, saya konsultasi ke dia dan dia selalu bisa memberikan saya jawaban yang sangat yang bikin kagum,” ujarnya.
Ketakutan Kehilangan yang Masih Tertinggal
Sherly menduga bahwa alasan terbesar mengapa putranya enggan jauh dari dirinya bukan hanya rasa tanggung jawab, tetapi juga ketakutan akan kehilangan lagi. Rasa trauma itu membuat sang anak memilih selalu berada di sisi ibunya, seolah menjaga agar tidak ada lagi orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.
“Ya mungkin dia merasa aman kalau nemenin saya turun ke daerah-daerah,” ucapnya.
Bagi dirinya, kesendirian sebagai seorang janda bukanlah hal paling berat. Yang paling menghancurkan adalah melihat bagaimana anak-anaknya yang seharusnya masih membutuhkan sandaran kini justru harus menjadi penjaga dan pelindung baginya.
“Sebenarnya ketika kasihan sama saya, saya sudah cukup tegar. Tapi, kalau anak kasihan lah,” ucap Sherly menutup perbincangan.











