Sejarah Pembunuhan Saudari Mirabal dan Pengaruhnya terhadap Perjuangan Global untuk Keadilan Gender
Pada 25 November 1960, tiga saudara perempuan dari Republik Dominika, Patria, Minerva, dan Maria Teresa Mirabal, ditemukan tewas di dasar jurang dekat La Cumbre. Mereka meninggal dalam kondisi yang menunjukkan tanda-tanda pemukulan dan strangulasi. Jeep yang mereka tumpangi jatuh dari ketinggian 150 meter, membuat mobil tersebut menjadi tumpukan yang hancur. Meskipun tampak seperti kecelakaan, penyelidikan mengungkap bahwa pembunuhan ini tidak terjadi secara alami.
Republik Dominika pada masa itu berada di bawah pemerintahan Rafael Leonidas Trujillo Molina, seorang diktator yang memerintah selama lebih dari 30 tahun. Rezimnya dikenal dengan sensor, pengawasan ketat, dan represi brutal terhadap para pembangkang. Para aktivis sering kali dibungkam tanpa konsekuensi hukum. Saat itu, Minerva Mirabal, salah satu dari tiga saudara, adalah perempuan pertama di negara itu yang meraih gelar hukum. Ia pernah menolak pendekatan seksual Trujillo, yang kemudian menyebabkan ia dilecehkan, dilarang mempraktikkan hukum, dan ditempatkan di bawah pengawasan terus-menerus.
Sejarawan Nancy P. Robinson menjelaskan bahwa kebencian Trujillo terhadap saudara-saudari Mirabal bukan hanya politis, tetapi juga pribadi. Ia sangat marah kepada Minerva karena menolak pendekatannya, yang ia anggap sebagai penghinaan terhadap machismo yang menjadi inti kepemimpinannya.
Kelompok “The Butterflies” dan Perlawanan terhadap Rezim Trujillo
Minerva bersama saudarinya dan suami mereka membentuk sebuah jaringan rahasia bernama “Gerakan 14 Juni”. Gerakan ini mendistribusikan pamflet, mengorganisir sel perlawanan, dan mengekspos kejahatan rezim Trujillo. Nama kode mereka adalah “Las Mariposas”, atau “The Butterflies”.
Meski beberapa kali ditangkap dan dibebaskan karena aktivitas perlawanan mereka, Minerva dan Maria Teresa tetap bertekad melawan. Pada hari mereka meninggal, saudari-saudari itu sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi suami mereka yang dipenjara. Mobil mereka dicegat oleh polisi rahasia Trujillo, yang kemudian mencekik dan memukuli mereka sampai tewas. Tubuh mereka lalu dimasukkan ke dalam jeep dan didorong dari tebing agar pembunuhan itu tampak seperti kecelakaan.
Meskipun Trujillo menampilkan diri sebagai pendukung hak-hak perempuan, fakta menunjukkan bahwa perempuan dalam jabatan politik tidak memiliki kekuasaan nyata. Ia memberikan hak pilih kepada perempuan pada 1942 dan mengirim delegasi perempuan pertama ke PBB. Namun, realitasnya adalah bahwa perempuan dalam pemerintahannya tidak memiliki otoritas atau legitimasi. Trujillo sendiri dibunuh enam bulan kemudian, dan pembunuhan saudara-saudari Mirabal dianggap sebagai titik balik dalam kejatuhan rezimnya.
Dari Tragedi Lokal ke Momentum Global
Kata-kata Minerva Mirabal, “Jika mereka membunuh saya, saya akan menjangkau tangan dari kubur dan saya akan lebih kuat,” menjadi motivasi bagi gerakan global untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Pada 1981, kaum feminis Amerika Latin berkumpul di Bogotá dan mengusulkan 25 November sebagai hari untuk menghormati korban kekerasan berbasis gender. Hari ini akhirnya resmi menjadi Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan.
Tujuan utama dari hari ini adalah untuk menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga terkait dengan sistem kekuasaan dan penindasan yang lebih luas. Sepuluh tahun kemudian, Women’s Global Leadership Institute meluncurkan kampanye 16 hari untuk menyoroti kebutuhan menghapus kekerasan berbasis gender, yang kini berlangsung setiap tahun dari 25 November hingga 10 Desember.
Warna Oranye sebagai Simbol Harapan
Warna oranye dipilih sebagai simbol harapan dan masa depan bebas dari kekerasan. Ini telah menjadi simbol visual melalui spanduk, media sosial, atau bangunan terkenal yang diterangi cahaya oranye. Kampanye ini juga meletakkan dasar untuk inisiatif UN Women “Orange the World” yang diluncurkan pada 2014.
Kekerasan Berbasis Gender yang Masih Terjadi
Feminis Mirabal bukanlah tragedi yang terisolasi, tetapi bagian dari kontinu panjang kekerasan terhadap perempuan. Pada 2006, Tarana Burke menciptakan istilah “Me Too” untuk mendukung penyintas kekerasan seksual, terutama perempuan muda dari komunitas kulit berwarna. Lebih dari satu dekade kemudian, tagar #MeToo meledak secara global setelah terungkapnya berbagai tuduhan pelecehan seksual terhadap Harvey Weinstein.
Pada 2022, Jina Mahsa Amini, seorang perempuan Kurdi Iran berusia 22 tahun, meninggal saat berada di tahanan polisi setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan hijab Iran. Kematian ini memicu protes anti-rezim terbesar dalam sejarah Republik Islam. Gerakan ini mengadopsi slogan “Woman, Life, Freedom”, yang menjadi simbol perjuangan perempuan di seluruh dunia.
Kekerasan Digital dan Disinformasi
Saat saudara-saudari Mirabal hidup, era media sosial belum ada, tetapi mereka tahu apa artinya diawasi, diancam, dan dihukum karena bersuara. Generasi perempuan dan anak perempuan saat ini menghadapi kekerasan digital, termasuk deepfake, penguntitan daring, doxxing, dan ancaman daring yang bisa merembet ke kehidupan nyata.
Ahli kesetaraan gender UN Women, Lucina Di Meco, menjelaskan bahwa disinformasi gender daring adalah penyebaran informasi dan gambar yang menyesatkan terhadap pemimpin politik perempuan, jurnalis, dan figur publik perempuan. Hal ini memanfaatkan misogini dan stereotip sosial, yang menggambarkan mereka sebagai tidak dapat dipercaya, bodoh, emosional, atau seksual.
Masih Relevan 65 Tahun Kemudian
Di Filipina, jurnalis Maria Ressa menghadapi serangan digital berkelanjutan karena mengungkap korupsi di bawah Presiden Rodrigo Duterte. Di Brasil, jurnalis investigatif Patricia Campos Mello dilecehkan daring setelah meliput kampanye presiden Jair Bolsonaro, menerima hinaan seksual, ancaman pemerkosaan, dan video fitnah yang menuduhnya sebagai pelacur.
Lebih baru lagi, pada September 2025, dua perempuan muda dan seorang remaja perempuan di Argentina disiarkan langsung melalui grup media sosial pribadi kepada sekitar 45 orang, setelah perselisihan dengan geng narkoba. Video ini dilaporkan dimaksudkan sebagai “peringatan” terhadap pencurian narkoba. Insiden ini mengejutkan dunia, menyoroti bagaimana contoh ini dan lainnya, melintasi batas negara dan platform, mencerminkan kelangsungan kekerasan berbasis gender.
Enam puluh lima tahun setelah pembunuhan saudari Mirabal, 25 November terus menjadi momen global untuk menghadapi kenyataan ini.















