"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Menikmati Jakarta dari Sudut Pandang Warga Pinggiran

Jakarta: Kota yang Terus Berubah

Dari puncak sebuah hotel, tidak ada ruang hijau atau area kosong. Semua lahan telah terisi oleh bangunan-bangunan megah. Keberadaan kehidupan di kota ini terasa sepanjang waktu, baik siang maupun malam. Jakarta, yang menjadi pusat aktivitas, juga menjadi tempat yang sangat lelah bagi penduduknya.

Lalu, apakah Jakarta pernah merasa ingin beristirahat?

Sejak menjadi pusat segala aktivitas, Jakarta menyediakan berbagai hidangan ekonomi. Namun, tidak semua orang mendapatkan bagian yang sama. Ada yang menikmati hidangan besar, sementara yang lain hanya mendapat remah-remah. Dalam hal uang, Jakarta menguasai 70 persen dari seluruh uang yang beredar di Indonesia. Namun, kesenjangan antar penduduk Jakarta justru sangat nyata dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.

Sejarah Jakarta: Dari Pelabuhan Hingga Megapolitan

Jakarta memiliki sejarah panjang. Awalnya, kota ini adalah pelabuhan bernama Sunda Kelapa yang berada di bawah kendali kerajaan Pajajaran. Kemudian, Sunda Kelapa dikuasai oleh Portugis dan direbut kembali oleh Fatahillah, sehingga berganti nama menjadi Jayakarta. Belanda kemudian memasuki kota ini dan mengganti namanya menjadi Batavia. Setelah Jepang menguasainya, kota ini disebut Djakarta Tokubetsu Shi. Setelah Indonesia merdeka, nama Jakarta tetap bertahan hingga saat ini.

Kata “Tokubetsu” dalam bahasa Jepang berarti istimewa, sedangkan “Shi” berarti kota. Maka, Jakarta bisa dikatakan sebagai kota istimewa. Karena itu, banyak pendatang datang ke Jakarta dengan harapan meraih kesuksesan. Namun, tidak semua orang memiliki keterampilan untuk hidup di kota ini. Akibatnya, sebagian dari mereka menjadi beban masyarakat.

Kesenjangan yang Terlihat Jelas

Dari hotel megah tempat saya menginap, terlihat jelas rumah-rumah kumuh yang berada di dekatnya. Di dalam kamar hotel yang dingin, para penghuni perkampungan Jakarta tidur secara bergantian. Bahkan, saat menjalani kebutuhan dasar seperti hubungan suami istri, mereka harus saling menunggu. Di balik kemegahan dan gemerlap kota, terdapat kehidupan yang sangat getir. Kesenjangan ini seharusnya tidak terjadi jika ekonomi tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Orang Bogor Menikmati Jakarta Seperti Turis

Bagi orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Bogor, mereka lebih nyaman menempatkan diri sebagai turis. Mereka bisa menikmati kehidupan malam Jakarta dari balik jendela hotel. Lampu Monumen Nasional terlihat indah dari jauh. Saat menginap di hotel di Jakarta Utara, mereka bisa menikmati stadion JIS yang bercahaya.

Mereka juga bisa menggunakan transportasi modern seperti MRT, LRT, dan Busway. Jika ingin ke Bandung, mereka bisa naik KRL, turun di Cawang, lalu melanjutkan dengan LRT dari Cikoko ke Halim, dan akhirnya naik Woosh. Semua ini dinikmati sebagai turis, bukan sebagai warga Jakarta. Meskipun kadang mereka menghadapi situasi yang melelahkan, seperti orang-orang yang tidak sabar di KRL atau kemarahan karena pintu tertutup.

Saya sendiri bukan penduduk Jakarta. Ketika melihat orang-orang yang marah dan bersikap kasar, saya merasa bersyukur karena tidak tinggal di sini. Banyak sekali makian yang terdengar di Jakarta, sebanding dengan polusi udaranya.

Tugas Berat Para Pemimpin Jakarta

Pemimpin Jakarta menghadapi tantangan besar dalam menjadikan kota ini ramah bagi semua penduduk. Mereka mungkin keras karena kondisi yang memaksa atau kurang rasa memiliki terhadap Jakarta. Bagi mereka, Jakarta hanyalah tempat mencari uang, setelah itu kembali ke daerah masing-masing.

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, masih jauh dari kelayakan. Meski IKN dimaksudkan untuk memindahkan sebagian aktivitas Jakarta, kenyataannya IKN belum memiliki daya tarik yang cukup. Maka, sulit untuk segera menggantikan Jakarta sebagai ibukota.

Dari sejarahnya yang panjang—mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Djakarta Tokubetsu Shi—Jakarta tampaknya memiliki takdir untuk menjadi pusat keramaian. Jika nanti sejarah mencatat, maka ibukota akan kembali ke Jakarta setelah sempat berada di IKN, meskipun UU IKN belum dicabut.

Jakarta adalah Jakarta, sesuai dengan nama awalnya, Jayakarta yang berarti kemenangan yang sempurna. Maka, ibukota kembali kembali ke pangkuan Jakarta.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *