"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Alumni SIYLEP 2025 Gelar Bimtek Rumput Laut di Manokwari, Ubah Sampah Jadi Pupuk Organik

Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Ekonomi Circular di Papua Barat

Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Potensi Sampah Rumput Laut Menjadi Ekonomi Circular Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan” digelar oleh Alumni Pemuda Pertukaran Antar Negara (PPAN) atau Singapore-Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP) 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Petrus Kafiar, Amban Manokwari, pada Sabtu (29/11/2025). Acara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, pemuda, serta kepala kampung setempat.

Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Cecep Sumarna, memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh pemuda Papua Barat. Ia menilai kegiatan ini sangat penting dalam mengembangkan potensi sumber daya alam daerah secara berkelanjutan.

Materi Bimtek disampaikan oleh Yohanes Ada Lebang, seorang aktivis lingkungan sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Caritas Indonesia. Dalam pemaparannya, Yohanes menekankan bahwa rumput laut yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan konsep ekonomi circular. Ia menjelaskan bahwa rumput laut dapat diolah menjadi pupuk organik yang tidak hanya bernilai tambah, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Delegasi SIYLEP 2025, Albertus Kambia, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pengalaman mengikuti program pertukaran pemuda di Singapura. Selama satu minggu di Singapura, peserta banyak menukar informasi tentang budaya dan adat istiadat, sekaligus mempelajari perkembangan daerah. Dari pengalaman itu, mereka ingin memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah melalui sumber daya manusia (SDM).

Albertus menambahkan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran generasi muda untuk mendorong perubahan sekaligus meningkatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Menurutnya, pantai Petrus Kafiar dikenal sebagai lokasi wisata dengan berbagai event seperti surfing hingga turnamen voli pantai. Namun, pantai ini juga menyimpan persoalan lingkungan serius.

Hasil survei menunjukkan tumpukan rumput laut di pantai kerap menimbulkan keluhan warga karena memicu perkembangbiakan Agas hingga ke pemukiman. Berangkat dari keresahan itu, mereka merancang kegiatan ini untuk memberi solusi. Rumput laut yang dianggap sampah diperkenalkan sebagai sumber ekonomi circular.

Dalam pelaksanaan Bimtek, Albertus menjelaskan bahwa peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melalui tiga tahapan kegiatan yang saling berkaitan:

  • Tahap pertama berupa pemaparan materi. Para peserta dibekali pengetahuan mengenai konsep ekonomi circular, pemanfaatan rumput laut, serta pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
  • Tahap kedua adalah pelatihan praktik. Peserta dilatih mengolah rumput laut menjadi pupuk organik dengan mencampurkannya bersama tandan kosong sawit, sekam padi, dan kotoran kambing. Proses ini memberikan pengalaman nyata bagaimana limbah bisa diubah menjadi produk bernilai tambah.
  • Tahap ketiga menjadi puncak kegiatan, yakni pembuatan kebun percobaan. Di kebun yang akan disiapkan, pupuk organik berbahan rumput laut diuji efektivitasnya terhadap berbagai tanaman. Kebun percobaan tersebut diharapkan menjadi contoh nyata bagi masyarakat bahwa rumput laut yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa menjadi solusi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Ia menegaskan, tiga tahapan ini dirancang agar edukasi dan aksi nyata berjalan beriringan. Kebun percobaan akan menjadi bukti langsung manfaat olahan rumput laut bagi masyarakat. Harapannya, cara pandang warga terhadap sampah bisa berubah, sekaligus mendukung ekowisata berkelanjutan di Papua Barat.

Deputi Kemenpora RI, Cecep Sumarna, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program resmi yang didanai Kemenpora. Ia menilai kegiatan ini sangat baik dan diharapkan memberi dampak besar bagi pemuda. Pemuda adalah figur yang akan memimpin perubahan ke depan. Ia juga mengingatkan Dispora Papua Barat agar mendukung penuh talenta pemuda yang memiliki kemampuan intelektual dan pengalaman internasional.

Sementara itu, Kepala Kampung Petrus Kafiar, Ibu Mandacan, menyatakan dukungan penuh atas kegiatan tersebut. Ia sangat senang pemuda datang memberikan dampak nyata. Rumput laut selama ini hanya jadi sampah. Dengan inovasi ini, ia sangat terbantu. Kepala kampung berharap pupuk organik hasil olahan rumput laut benar-benar dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan Bimtek Rumput Laut di Petrus Kafiar ini menjadi bukti bahwa pemuda Papua Barat mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *