"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Ya Allah, Mulia Kan Mereka, Haru Susi Pudjiastuti Jawab Tim BPBD Aceh yang Menangis Meminta Maaf

Fakta dan Peristiwa Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 708 orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Selasa (2/12/2025). Selain itu, sebanyak 499 orang masih hilang. Bencana ini menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat dan petugas penanggulangan bencana.

Viral sebuah video yang menunjukkan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh menangis di lokasi bencana. Tangisan itu pecah di tengah deru air yang masih mengalir deras. Anggota BPBD tersebut menundukkan kepala sambil tangan bergetar, menghadapi kenyataan di lokasi bencana. Di hadapannya, beberapa kantong jenazah masih tergeletak. Ada yang baru ditemukan beberapa jam lalu, ada pula yang sejak kemarin belum tersentuh penanganan lanjutan.

“Kami mohon maaf, kami berusaha secepat mungkin,” ujar salah seorang petugas dengan suara bergetar. Video tersebut memicu respons dari banyak pihak, termasuk mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Respons dari Mantan Menteri Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti merespons video viral tersebut melalui akun X (Twitter) terverifikasi @susipudjiastuti. Ia menyampaikan rasa dukacita atas bencana yang terjadi. “Ya Alloh … muliakan mereka. Terimalah mereka disisi Mu. Berikan kekuatan kepada saudara-saudara kami yang selamat tetap sehat dan tabah,” tulisnya.

Ia juga berkomentar tentang momen Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem menangis di tengah bencana banjir dan tanah longsor. Momen itu diunggah Instagram Humas Aceh pada Sabtu (29/11/2025). Mualem tak kuasa menahan tangis saat memberikan gambaran pilu terkait situasi terkini penanganan bencana. Ia menyebut 18 kabupaten/kota terdampak bencana hingga mengibaratkan sebagai ‘tsunami kedua’ bagi Aceh. Bahkan, 4 kampung hilang disapu bencana.

Kondisi Lapangan dan Upaya Penanganan Bencana

Bencana yang menerjang wilayah tersebut bukan hanya meninggalkan luka fisik pada lanskap pemukiman, tetapi juga luka batin bagi para petugas yang kini bekerja hampir tanpa jeda. Di antara lumpur yang menutup jalan setinggi lutut, jembatan yang runtuh, serta akses ke beberapa dusun yang terputus total, tim BPBD bekerja sambil menimbang antara kecepatan dan keselamatan.

Mereka harus memetakan ulang rute setiap beberapa jam karena kondisi medan berubah seiring arus air yang belum sepenuhnya surut. Dalam situasi semacam itu, penanganan jenazah yang jumlahnya terus bertambah menjadi beban mental tersendiri. Tidak ada pelatihan yang benar-benar siap membuat seseorang kuat menghadapi kenyataan bahwa jenazah tak bisa segera dievakuasi seperti yang semestinya.

Seorang anggota tim menceritakan bagaimana mereka menemukan korban yang tersangkut di antara reruntuhan pagar rumah. Proses evakuasi memakan waktu lebih dari dua jam karena tim harus memastikan wilayah sekitar aman. “Kami ingin segera mengangkatnya… tapi air sangat deras. Kami takut justru membahayakan tim,” ucapnya.

Setiap jenazah bagi mereka bukan angka, bukan data, tetapi seseorang dengan keluarga yang menunggu. Itulah yang membuat para petugas bekerja sambil menahan napas panjang, menahan air mata yang tak selalu berhasil mereka sembunyikan.

Data Korban Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Selasa (2/12/2025) sore mencapai 708 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan selain korban meninggal dunia, tercatat 499 orang masih hilang.

Di Sumatera Utara, korban meninggal dunia mencapai 294 jiwa dan 155 jiwa lainnya dilaporkan masih hilang. Di Aceh, hingga hari ini tercatat sebanyak 218 jiwa meninggal dunia dan 227 orang lainnya masih dilaporkan hilang. Sementara itu, di Sumatera Barat, dilaporkan 196 jiwa meninggal dunia dan 117 jiwa lainnya hilang.

Harapan untuk Keberlanjutan Penanganan Bencana

Meski berada dalam tekanan psikologis yang berat, para petugas BPBD enggan menyerah. Setiap hari mereka memulai tugas dengan doa singkat, berharap keberanian dan ketabahan tidak luntur. Mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian penting dari upaya memulihkan martabat korban dan memberi kepastian bagi keluarga yang menunggu penuh cemas.

Di tengah suasana duka ini, harapan tetap tumbuh pelan, namun nyata. Warga saling membantu, relawan terus berdatangan, dan tim penyelamat dari berbagai daerah siap bergabung. Yang mereka butuhkan kini hanyalah waktu, cuaca yang bersahabat, serta kekuatan untuk terus melanjutkan tugas yang tidak selalu sanggup dilihat mata biasa.

Semoga seluruh proses penanganan dapat segera terselesaikan, para korban mendapatkan penghormatan dan penanganan yang layak, dan semua petugas yang berjibaku di lapangan diberi keteguhan hati untuk melewati hari-hari tersulit ini.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *