Momen masa kecil yang terasa hangat dan penuh makna sering kali muncul ketika kita mengingat kembali perjalanan hidup di tempat kelahiran nenek. Di daerah Cikaso, Sukabumi, ada tradisi unik yang selalu hadir saat momen tandur atau panen padi. Tradisi ini tidak hanya sekadar kegiatan pertanian, tetapi juga momen penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Sebagai seorang anak kecil, saya selalu senang bermain dan mengikuti ajakan teman untuk berkunjung ke sawah. Kebiasaan ini sering terjadi saat ada acara tandur atau nandur. Bahkan ketika nenek melakukan tandur, saya selalu mengajak teman-teman untuk ikut serta dalam acara makan siang bersama. Momen ini menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena semua orangtua yang terlibat dalam proses tandur menyambut kami dengan hangat dan mengajak makan siang bersama.
Menu makan siang yang disajikan sangat khas dan lezat. Terkadang ada olahan ayam bakar atau pindang ikan nila. Saat makan bersama, suasana menjadi semakin hangat dan penuh cerita. Anak-anak lebih banyak mendengarkan, sementara orangtua saling bercerita. Dari situ, saya belajar banyak tentang cara mereka berkomunikasi dan menjaga hubungan satu sama lain.
Saat komunitas Food Blogger Indonesia membuka lomba menulis cerita makan siang khas daerah, saya langsung teringat pada momen makan siang saat tandur atau panen di Cikaso. Saya memutuskan untuk mengirimkan tulisan berdasarkan pengalaman masa kecil. Sayangnya, tidak ada foto yang bisa melengkapi cerita tersebut, karena sudah lama tidak kembali ke sana.
Setelah nenek dari mama meninggal, kunjungan ke Cikaso semakin jarang. Apalagi setelah Abah juga berpulang, alasan untuk mudik semakin sedikit. Meski begitu, usaha untuk mengirimkan karya tulisan tetap dilakukan. Akhirnya, kabar baik datang: tulisan saya masuk dalam buku antologi yang akan diterbitkan. Meskipun tidak menjadi pemenang, saya tetap bersyukur karena akhirnya bisa kembali menulis dalam bentuk antologi.
Buku antologi ke-7 ini memiliki ciri khas yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya lebih banyak fiksi, kali ini fokus pada kuliner dan tradisi makan siang. Ini merupakan pengalaman pertama saya menulis tentang tema ini. Beberapa bulan kemudian, kami diberitahu bahwa buku akan dicetak dalam bentuk hard cover dan akan diadakan launching. Rasa haru dan syukur menggambarkan perasaan saya saat mengetahui tulisan saya menjadi bagian dari buku yang tebal dan bernilai.
Ketika buku tiba di rumah, rasanya takjub. Judulnya “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya.” Sampulnya sangat menarik dengan warna segar dan desain yang menawan. Kami para penulis diundang untuk hadir dalam launching, tetapi sayangnya jadwal bertabrakan dengan pekerjaan. Meski tidak bisa hadir, saya tetap mengikuti keseruan acara melalui media sosial.
Salah satu yang menarik adalah Ibu Amanda Katili Niode Ph.D., yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Beliau memperkenalkan lomba menulis tradisi makan siang, bekerja sama dengan beberapa organisasi untuk menciptakan buku hard cover yang sangat istimewa. Buku ini ditulis oleh 40 penulis, termasuk saya, dan diisi oleh banyak testimoni dari tokoh ternama.
Selain itu, buku ini diterbitkan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Hal ini membuatnya lebih mudah diakses oleh pembaca internasional. Penghargaan Gourmand Award pun diberikan kepada buku ini sebagai Best Book in The World. Ini menjadi pencapaian yang sangat membanggakan.
Pengalaman ini memberi saya rasa syukur dan kebanggaan. Saya berharap langkah ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga banyak orang tertarik untuk membaca buku ini dan menambah wawasan tentang tradisi makan siang di Indonesia. Sebuah angin segar bagi pecinta literasi dan kuliner. Yuk, sobat kompasiner, apakah kamu penasaran ingin membacanya? Dari judul dan tampilannya saja sudah menarik, bukan?











