Sejarah dan Keunikan Sate Karak di Surabaya
Di sudut kota Surabaya, tepatnya di Jalan Ampel Lonceng No.60, Ampel, Kecamatan Semampir, terdapat sebuah gerobak sederhana yang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Di bawah gapura berwarna hijau mencolok, asap tipis mengepul dari arang hitam yang dibakar, membawa aroma gurih yang khas. Di balik gerobak bertuliskan “Sate Karak Khas Ampel”, seorang perempuan paruh baya dengan senyum ramah sedang melayani pembeli. Ia adalah Elisawati, atau akrab disapa Bu Elis (54).
Bu Elis tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menyajikan kenangan lewat setiap hidangan. Bahasa yang ia gunakan pun bervariasi, kadang Jawa, kadang Madura, dan kadang pula bahasa Indonesia, sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Keakraban ini membuat suasana lapaknya terasa hangat dan penuh cerita.
Sate Karak: Kuliner Khas Ampel
Sate karak yang disajikan Bu Elis bukanlah kuliner biasa. Ini adalah sate karak pertama di Surabaya. Bahkan, satu-satunya di Surabaya dan akhirnya menjadi kuliner khas kawasan Ampel. Menurut cerita Bu Elis, Sate Karak miliknya sudah eksis sejak era buyutnya masih berjualan keliling di Pasar Wagean, lalu menetap di Ampel dan bertahan selama tiga generasi.
Bu Elis adalah generasi ketiga yang mewarisi resep sate karak dari ibu dan neneknya. “Untuk sejak tahun berapanya, saya tidak tahu tepatnya kapan, karena nasi karak ini sudah berjalan selama tiga generasi,” ujarnya. “Kalau dihitung, saya sendiri sudah jualan sekitar 20 tahun lebih. Dulu nenek pakai rombong, ditinggal pun masih aman. Kalau sekarang, harus dibawa pulang tiap malam, disuruh Pak RT,” katanya lagi sambil tertawa kecil.
Rasa yang Unik dan Kaya Sejarah
Berbeda dari sate pada umumnya, sate karak dibuat menggunakan usus sapi. Tak hanya itu, nasi yang menjadi pendamping juga istimewa. Jangan bayangkan karak sebagai nasi sisa yang dijemur. Sebab, nasi karak khas Ampel adalah campuran beras putih dengan ketan hitam yang dikukus hingga pulen.
Nasi karak tersebut lalu disajikan bersama sate usus, taburan kelapa parut, serta bubuk kedelai halus. Perpaduan rasa gurih dari sate usus sapi dan sedikit manis-asin dari nasi karak, kaya akan sejarah dan memori. Di warungnya, Bu Elis juga menambahkan sate ayam dan sate daging sapi dalam daftar menu, atas permintaan pelanggan.
“Aslinya ya sate usus. Tapi, karena banyak yang minta ayam dan daging, ya saya sediakan. Itu baru sekitar setahun terakhir ini,” kata Bu Elis sambil menunjuk tusukan sate yang tertata rapi di wadah terpisah.
Harga yang Bersahabat dan Kenikmatan yang Menggugah Selera
Dengan rasa yang enak, sate karak Bu Elis dibandrol dengan harga yang cukup bersahabat di kantong. Untuk satu porsi nasi karak lengkap dengan empat tusuk sate usus sapi dihargai Rp 14.000. Ada juga pilihan sate ayam atau daging sapi lima tusuk seharga Rp 15.000. Sebagai pelengkap, tersedia es teh manis seharga Rp 3.000 atau secangkir kopi hangat untuk menemani obrolan ringan di meja kecil sekitar gerobak.
Harga yang cukup bersahabat itu membuat pelanggan tak ragu kembali ke warung “Sate Karak Khas Ampel” milik Bu Elis. Tak jarang pelanggan datang dari jauh, seperti Malang, Jombang dan luar kota lainnya, hanya untuk melepas rindu pada sajian yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut.
“Biasanya mereka yang datang dari jauh untuk beli ke sini itu dulu pelanggan nenek, sekarang anak cucunya masih tetap datang. Jadi rasanya kayak pulang kampung kalau makan di sini,” ucap Bu Elis dengan mata berbinar.
Sate Karak: Penjaga Cita Rasa Lama
Di tengah gempuran kuliner modern, Sate Karak Bu Elis tetap kokoh berdiri sebagai penjaga cita rasa lama. Satu piring nasi ketan hitam dengan sate usus, parutan kelapa, dan koya kedelai yang gurih menjadi saksi bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut, tapi juga pengikat kenangan lintas generasi.
Penasaran dengan rasanya? Gerobak Sate Karak Bu Elis bisa ditemui di Jalan Ampel Lonceng No.60, Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya. Bu Elis dan putrinya, Mira biasanya buka hingga pukul 23.00 WIB.











