"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Kreator Muda ASEAN Bangkitkan Budaya dan Kewirausahaan Melalui Konten Digital

Program ASEAN LIVE Creators for Change 2025: Wadah Kreatif untuk Membangun Dampak Positif

Program ASEAN LIVE Creators for Change 2025 menjadi wadah bagi 20 kreator muda Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengembangkan karya digital yang berdampak positif di bidang budaya, edukasi, dan kewirausahaan. Program ini memberikan dukungan berupa mentorship, pendanaan, serta keterampilan teknis yang memperkuat kapasitas peserta dalam storytelling digital yang inklusif dan relevan.

Para kreator tersebut dipertemukan dalam program ASEAN LIVE Creators for Change 2025, sebuah wadah yang mendorong ide-ide kreatif agar dapat berkembang dan memberi dampak positif melalui platform digital. Executive Director ASEAN Foundation Dr. Piti Srisangnam menyatakan bahwa kegiatan ini dapat bermanfaat bagi peserta untuk mendukung kreator muda yang menggunakan platform digital. Ia menekankan pentingnya pembelajaran, inklusivitas, dan apresiasi budaya di seluruh kawasan.

Sementara itu, Director of Public Policy for Southeast Asia TikTok, Chanida Klyphun menjelaskan bahwa pihaknya tergerak melihat para kreator untuk menyebarkan pengetahuan, melestarikan budaya, dan menjaga bahasa daerah tetap hidup. Tujuan dari kolaborasi ini tidak hanya mendorong pengaruh digital yang bertanggung jawab, tetapi juga memperkuat kemampuan generasi muda dalam menceritakan kisah mereka sendiri di ASEAN yang semakin terhubung.

Storytelling digital membuka jendela ke dunia sekaligus menyoroti kekayaan keragaman Asia Tenggara. Para peserta juga memperoleh keterampilan praktis mulai dari pengaturan teknis, perencanaan konten yang konsisten, hingga memahami audiens secara lebih mendalam. Pondasi ini memungkinkan mereka untuk melanjutkan misi masing-masing dengan lebih percaya diri dan menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi komunitas mereka.

Tiga Kreator Terpilih sebagai Pemenang, Dua dari Indonesia

Sebagai informasi, sebanyak tiga kreator terpilih sebagai pemenang. Mereka adalah Jhonatan (@jhonatanyuditya_pratama), Leni (@lenirezi), dan Sir Pedot (@sirpedot). Mereka dinilai memiliki dampak yang kuat terhadap sosial melalui konten yang diproduksi, melalui cara pandang dan cerita yang mereka bawa.

Berikut profil dari ketiga kreator terpilih tersebut:

  1. Jhonatan Dari Borneo: Budaya Dayak dalam Sorotan Digital

    Jhonatan asal Borneo menyalurkan semangat budaya Dayak melalui karya-karya digitalnya. Baginya, identitas Dayak bukan sekadar simbol seremonial, tetapi nilai hidup sehari-hari seperti rasa syukur, keseimbangan, dan kedekatan dengan alam. Ia memilih menampilkan konten yang autentik, salah satunya melalui sesi LIVE Gawai Dayak yang memamerkan parade dan tari tradisional. Siaran tersebut ditonton lebih dari 16.000 orang dan mengundang ratusan interaksi, menjadi momen kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi komunitas Dayak.

  2. Leni: Membawa Bahasa Daerah Indonesia Kembali Mainstream

    Leni memulai perjalanannya dari keprihatinan terhadap masa depan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Data dari lembaga bahasa dan UNESCO menunjukkan penggunaan yang terus menurun, bahkan beberapa bahasa menghilang dari percakapan sehari-hari. Kekhawatiran ini terasa personal baginya karena tumbuh di Belitung Timur, sementara ia sendiri tidak sepenuhnya fasih berbahasa Belitong. Melalui program ASEAN LIVE Creators for Change, Leni menyalurkan kepeduliannya dengan membuat konten edukatif di TikTok LIVE. Ia memfokuskan materinya pada ungkapan sederhana, penggunaan praktis, dan konteks budaya yang dekat dengan keseharian agar bahasa daerah terasa relevan dan mudah digunakan. Dalam sesi LIVE, ia sering memakai fitur Multi-Guest untuk menciptakan interaksi dua arah yang lebih hidup.

  3. Sir Pedot: Membuka Ruang Belajar Digital bagi Semua Pelajar Malaysia

    Firdaus, dikenal sebagai Sir Pedot, memulai perjalanan kontennya dari niat sederhana: membuat pengetahuan lebih mudah diakses pelajar secara digital. Sebagai dosen di Malaysia, ia melihat banyak anak muda membutuhkan panduan tentang topik-topik yang tidak diajarkan di kurikulum formal, mulai dari beasiswa, literasi digital, public speaking, hingga pemahaman budaya Asia Tenggara. Ia kemudian membawakan topik-topik tersebut melalui TikTok LIVE dengan gaya yang menyerupai sesi mentoring pribadi namun menjangkau ribuan penonton. Moment paling mengharukan bagi Firdaus datang ketika seorang siswa mengirim pesan bahwa mereka akhirnya memahami sebuah materi setelah menonton siaran LIVE-nya.




Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *