Kehidupan Seorang Hakim yang Terjebak dalam Persoalan
Kang Da Wit, seorang hakim yang dikenal dengan julukan “hakim rakyat”, memiliki reputasi yang sangat baik karena keputusan-keputusannya yang selalu memihak pada masyarakat kecil. Karirnya sebagai hakim berkembang pesat dan ia menjadi idola bagi banyak orang. Di usia muda, ia dianggap sebagai kandidat kuat untuk menjadi hakim agung. Dengan popularitas dan kemampuannya dalam bersosialisasi, ia merasa yakin bahwa kesuksesan akan datang dengan mudah.
Namun, segalanya berubah ketika ia menemukan uang dalam jumlah besar di bagasi mobilnya. Uang tersebut bernilai hampir 1 miliar won. Ia langsung merasa cemas karena tahu bahwa uang itu adalah suap. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, saat ia bertemu dengan teman masa kecilnya dan mabuk. Tapi ia tidak ingat pernah menerima uang sebanyak itu. Akhirnya, ia melapor kepada atasan, tetapi ada fakta yang mengejutkan: atasan tersebut menerima video yang menunjukkan bahwa Kang Da Wit menerima uang suap saat sedang mabuk.
Dari situ, Kang Da Wit diberikan dua pilihan: mundur secara diam-diam atau mengakui bahwa ia menerima suap. Ia memilih untuk mundur dan menerima tawaran dari kenalannya, Oh Jung In, untuk menjadi pengacara di kantornya. Awalnya, ia mengira akan bekerja di divisi penting, tetapi ternyata ia ditempatkan di divisi pro bono, yang memberi bantuan hukum gratis kepada masyarakat.
Kehidupan Baru di Divisi Pro Bono
Awalnya, Kang Da Wit mengira akan bekerja di kantor yang nyaman dan luas. Namun, kenyataannya jauh berbeda. Kantor baru ini terletak di lantai bawah, ruangannya sempit, dan diisi oleh empat orang lainnya. Tempatnya tampak berantakan dan jauh dari kenyamanan kantor lamanya. Meskipun ia bekerja di kantor pengacara ternama, ia merasa tidak bersemangat karena posisinya tidak mendapat perhatian.
Namun, ia menemukan kesepakatan dengan Oh Jung In. Jika ia bisa memenuhi persentase kemenangan 80%, maka ia ingin diangkat kembali sebagai hakim agung. Hal ini membuat Kang Da Wit bersemangat untuk menjalani perannya sebagai pengacara pro bono.
Di kantor pro bono, Kang Da Wit harus bekerja sama dengan lima anggota tim: Park Gi ppeum, Jang Yeong Sil, Yoo Nan Hui, dan Hwang Jun U. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Kasus pertama yang mereka tangani adalah tentang penculikan anjing. Klien yang dibela dituduh menculik anjing milik anak pejabat tinggi. Anjing tersebut ditemukan dan dirawat selama satu setengah tahun. Tapi pemiliknya tiba-tiba menuduh kliennya mencuri.
Meski kasus ini terlihat sepele, drama ini menunjukkan bahwa hal-hal kecil bisa menjadi sangat kompleks. Tim pro bono berusaha keras mencari bukti akurat agar kliennya bebas dari tuduhan. Berkat kepiawaian Kang Da Wit, mereka berhasil memenangkan kasus tersebut. Meski sering berselisih dengan rekan tim, mereka saling mendukung ketika dibutuhkan.
Pelajaran Penting dari Dunia Hukum
Drama ini mengajarkan tentang bagaimana pengacara pro bono bekerja. Mereka sangat membantu masyarakat yang kurang mampu. Selain itu, drama ini juga memperlihatkan bagaimana hukum bekerja di negara tersebut. Bagi yang suka drama tentang hukum, ini sangat cocok untuk ditonton.
Di sisi lain, Kang Da Wit masih mencari siapa yang menjebaknya. Ia mulai menyelidiki orang-orang terdekatnya yang mungkin mengkhianatinya. Bekerja sebagai pengacara pro bono membuatnya menemukan makna dan ketulusan. Di tempat tersebut, ia belajar bahwa kesuksesan tidak selalu menjadi tolok ukur kebahagiaan. Kadang, hal kecil seperti membuat orang lain bahagia bisa memberi makna hidup.
Setiap minggu, drama ini menyajikan kasus-kasus unik dan langka. Ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang dunia hukum yang begitu luas dan kompleks. Drama ini tersedia di platform Netflix dan tayang setiap Sabtu dan Minggu.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”









