"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Malam Ini, Sabtu 20 Desember 2025 Mendekati 1 Rajab 1447 Hijriah, Ini Penjelasannya

Peran Bulan Rajab dalam Agama Islam

Bismillahirrahmanirrahim, Inna ‘iddatasy-syuhuri ‘indallahitsna ‘asyara syahran fi kitabillahi yauma khalaqas samawati wal ardla min ha arba’atun hurum, dzalikad dinul qayyimu fa la tadhlimu fihinna anfusakum wa qatilul musyrikina kaffatang kama yuqatilunakum kaffah, wa’lamu annallaha ma’al muttaqin.

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Demikian firman Allah Subhanahu Wa Ta’Ala dalam surah At Taubah ayat ke 36 tentang 4 bulan haram yang diistimewakan diantara bilangan 12 bulan setiap tahunnya berdasarkan hitungan kalender Islam atau Hijriah.

Keistimewaan Empat Bulan Haram

Mengenai 4 bulan yang diistimewakan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’Ala, dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu allaihi wassalam menyampaikan saat Khutbah Haji Wada’ pada 8 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah. Yang artinya; “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil Tsani dan Sya’ban.”

Bulan Rajab sebagai Bulan yang Diistimewakan

Malam ini, Sabtu 20 Desember 2025, berdasarkan penanggalan Islam atau Hijriyah 1447 bertempat dengan malam Bulan Rajab, salah satu bulan yang sangat diistimewakan dan sangat diagungkan. Bagi umat Islam yang taat tentunya akan menjadikan bulan-bulan istimewa sebagai ladang pahala dimana pada keempat bulan tersebut ada waktu-waktu yang sangat mustajab untuk melipatgandakan amal ibadah dan semakin menguatkan keimanan.

Makna Perintah Memerangi Orang Musyrik

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’Ala dalam surah At Taubah ayat ke 36, dengan sagat tegas Allah Subhanahu Wa Ta’Ala melarang perbuatan dzalim pada diri sendiri maupun orang lain. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’Ala juga mengingatkan umatNya untuk memerangi orang-orang musyrik.

Nah dalam pemahaman memerangi orang-orang musyrik seringkali disalah artikan atau salah penafsiran. Memerangi bukan berarti memusuhi dan melakukan tindakan kekerasan, tapi dalam hal ini memerangi adalah menghindari dan bahkan tidak melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik. Pada masa sekarang ini banyak perbuatan tersebut dan sangat tampak di depan mata, semisal cara berpakaian tidak senonoh yang sudah dianggap biasa, atau berucap dan berprilaku kasar.

Ibadah yang Disarankan pada Bulan Rajab

Selain menahan diri untuk tidak berbuat dzalim dan memerangi kemusyrikan, perbuatan lain yang dapat dilakukan pada bulan Rajab adalah memaksimalkan ibadah-ibadah sebagaimana yang disunahkan atau dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu allaihi wassalam. Seperti menjalankan puasa sunnah, membaca Al Quran, memberi sedekah kepada anak-anak yatim piatu dan ibadah lainnya.

Pada masa Rasulullah Shalallahu allaihi wassalam, pada bulan Rajab ini melaksanakan ibadah Umrah. Hal inipun banyak dilaksanakan oleh bangsa-bangsa Arab atau Timur Tengah yang tidak melepaskan memasuki malam 1 Rajab untuk berada di tanah suci Makkah Al Mukarramah. Maksudnya tiada lain berharap akan semua doa diijabah dan ibadah berlipatganda pahalanya.

Doa yang Disampaikan Rasulullah

Diakhir tausyiahnya, Ustad Didi Saefulloh mengutip salah satu doa yang disampaikan Rasulullah Shalallahu allaihi wassalam, “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon.” Yang artinya; Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ’Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah atau hadits dho’if karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Dimana Zaidah bin Abi Ar Ruqod seorang munkarul hadits atau banyak keliru dalam meriwayatkan hadits sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini juga dikatakan dho’if atau lemah oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *