Kehidupan Awal Soeharto Sebelum Menjadi Tentara dan Presiden
Sebelum menjadi tentara dan akhirnya menjadi presiden, Soeharto memiliki latar belakang yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang. Pada masa kecilnya, ia pernah bekerja sebagai pegawai bank di sebuah desa kecil. Pengalaman ini menjadi awal dari perjalanan hidupnya yang penuh perubahan.
Soeharto lahir dalam keluarga yang tidak stabil secara ekonomi. Meskipun begitu, ia tetap mendapatkan perhatian dari banyak orang sekitarnya. Sifatnya yang pendiam dan tertutup membuatnya berbeda dari anak-anak lain. Namun, ia dikenal rajin dan murah senyum. Di sekolah, ia cukup mudah bergaul, meski hanya memiliki sedikit teman dekat.
Selama masa sekolah, Soeharto lebih sering menghabiskan waktunya untuk bertani. Ia sangat mengagumi pamannya, Prawirohardjo, yang ahli dalam menanam bawang bombay dan bawang putih. Setelah lulus SD, ia melanjutkan studinya ke Schakel School di Wonogiri. Karena jarak yang jauh dari rumah, ia harus tinggal di rumah kakak Sulardi, sahabatnya, di Selogiri.
Kehidupan di rumah kakak Sulardi tidak selalu tenang. Beberapa waktu setelah tinggal di sana, kakak Sulardi cerai dengan suaminya. Hal ini memaksa Soeharto mencari tempat tinggal baru. Akhirnya, ia dititipkan kepada Hardjowijono, seorang pensiunan tanpa anak yang tinggal di Wonogiri.
Pada tahun 1939, Soeharto menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, gelombang protes terhadap penjajahan Belanda semakin kuat, namun Soeharto fokus pada ujian kelulusannya. Setelah lulus, ia kembali ke Wuryantoro, tempat pamannya tinggal, karena ayahnya tidak mampu membiayainya melanjutkan studi.
Dengan niat mencari pekerjaan, Soeharto meminta bantuan dari pamannya. Akhirnya, ia bekerja sebagai juru tulis di sebuah bank desa. Seragam kerjanya berupa blangkon, beskap, dan sarung. Sayangnya, karier Soeharto di bank desa berakhir karena masalah seragam. Sarung yang dipakainya rusak, lalu dipinjam dari buliknya. Akibatnya, sarung tersebut nyangkut di jari-jari sepeda yang sedang dikendarainya.
Setelah menganggur, Soeharto mencoba peruntungan ke Solo. Ia mendengar informasi bahwa Angkatan Laut Belanda sedang mencari juru masak. Namun, ketika tiba di Solo, lowongan tersebut tidak ada. Dengan kecewa, ia kembali ke Wuryantoro dan bekerja serabutan, seperti membantu membangun langgar atau membersihkan saluran air.
Tidak lama kemudian, ia mendengar kabar tentang lowongan kerja di Angkatan Perang Belanda (KNIL). Tanpa ragu, ia mendaftar pada 1 Juni 1940. Pelatihan militer yang superkeras mengubah dirinya. Dari subuh hingga larut malam, ia digembleng fisik dan mental. Kehidupan masa kecil yang tidak pasti justru membuatnya kuat dan disiplin.
Setelah lulus, Soeharto dinaikkan pangkat menjadi sersan. Namun, saat Jepang menyerang Indonesia, karier militernya terhenti. Ia lalu pergi ke Yogyakarta mencari pekerjaan baru. Di sana, ia belajar mengetik dan beberapa waktu kemudian sakit.
Saat pulih, ia membaca pengumuman bahwa satuan polisi Jepang, Keibuho, membuka lowongan. Ia langsung mendaftar dan diterima. Performanya yang baik membuatnya cepat naik pangkat. Tidak lama kemudian, PETA (Pembela Tanah Air) menawarkan kesempatan untuk bergabung. Dengan rasa patriotisme yang besar, Soeharto setuju dan melakukan “dualisme”, yaitu tetap menjadi anggota Keibuho, namun diam-diam ikut PETA.
Dari PETA inilah karier militer dan politik Soeharto dimulai. Hingga akhirnya, ia bisa menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia dan berkuasa selama 32 tahun.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











