Peran Cinta dalam Masyarakat dan Pengaruhnya terhadap Kebiasaan
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak orang datang ke Martapura untuk menghadiri Haul Guru Sekumpul. Tidak mudah memahami alasan mereka datang, tetapi yang jelas, ada sesuatu yang membuat mereka sangat antusias. Banyak dari mereka menyumbangkan makanan, minuman, bahkan menawarkan penginapan gratis. Salah satu kata yang mungkin mewakili perasaan mereka adalah “cinta”. Seseorang dicintai bisa karena berbagai hal, seperti keindahan fisik, suara, ilmu, atau akhlaknya. Dalam cinta, terdapat rasa sayang, kagum, gairah, dan rindu.
Namun, di sisi lain, tidak semua orang setuju dengan cara orang-orang tersebut bertindak. Ada yang khawatir bahwa cinta itu berubah menjadi kultus individu, yaitu penghormatan berlebihan terhadap seseorang. Apa pun yang berlebihan, sebagaimana yang berkekurangan, tidak baik. Yang ideal adalah keseimbangan. Kita wajib menghormati dan mencintai orang-orang yang berjasa kepada kita, seperti orang tua dan guru. Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar, begitu juga dengan durhaka kepada guru yang membimbing ruhani kita. Namun, hormat dan cinta itu harus tetap dalam batas bahwa mereka adalah manusia, bukan dewa.
Dalam masyarakat modern dan sekuler, yang menekankan kesamaan manusia, kekhawatiran terhadap kultus individu memang besar. Terutama, masyarakat seringkali kecewa dengan tokoh teladan yang ternyata palsu dan penuh pencitraan. Meskipun begitu, manusia modern juga melakukan kultus individu, yang mereka sebut idola. Idola adalah orang yang diagung-agungkan, dipuja-puji, dan kerja mereka dibayar mahal. Contohnya adalah para penyanyi dan pemain film. Selain itu, idola juga bisa berupa orang-orang yang dianggap sukses, seperti pejabat atau orang jenius-terpelajar.
Menurut Jalaluddin Rakhmat (2016), orang Barat modern cenderung melihat manusia secara negatif. Psikologi Barat modern dan sekuler awalnya melihat manusia sebagai sosok yang egois, mementingkan diri sendiri, hanya ingin mencari kenikmatan fisik seperti makan-minum dan seks, serta serakah pada harta. Dengan pandangan negatif ini, psikologi fokus pada pengobatan penyakit mental seperti stres, depresi, cemas, takut berlebihan, dendam, trauma, dan lain-lain. Sayangnya, menurut Kang Jalal, secara umum psikologi modern kurang berhasil bahkan gagal dalam upaya mengobati berbagai penyakit mental itu.
Di awal abad ke-21, sebagian psikolog mengusulkan agar paradigma psikologi diubah dan dibalik, yakni bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan mental manusia, tetapi juga tentang kekuatan dan kebaikannya; tidak hanya mengobati jiwa yang sakit, tetapi lebih penting lagi menjaga dan menumbuhkan potensi-potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia. Inilah yang disebut psikologi positif, yang bergeser dari psikologi patogenis (penyakit) ke psikologi salutogenis (kesehatan/ kesejahteraan), atau dalam istilah Kang Jalal, dari psikologi “bengkel” yang memperbaiki jiwa yang rusak ke psikologi “pandai emas” yang mengolah logam mulia menjadi cemerlang.
Dalam tradisi keagamaan, salah satu upaya melihat potensi kebaikan dalam diri manusia adalah mengkaji tentang orang-orang baik, yang disebut arahat, santo atau wali. Dalam diri mereka kita bisa menemukan teladan tentang keberhasilan manusia menempa diri menjadi pribadi yang memiliki kesadaran moral dan spiritual yang tinggi di atas rata-rata. Banyak orang sekuler menganggap bahwa cerita-cerita tentang ketinggian dan keteguhan moral orang-orang baik itu hanyalah khayalan yang dilebih-lebihkan, bukan kenyataan. Namun, jika ada sesuatu yang kurang dan cacat dalam diri sang tokoh, maka hal itu justru yang lebih mereka perhatikan.
Sebaliknya, dalam tradisi keilmuan Islam, kita dapat menemukan banyak sekali kajian tentang orang-orang saleh, orang-orang baik yang dipercaya dekat dengan Allah, yang disebut wali. Salah satu yang cukup terkenal dan kita warisi hingga hari ini adalah karya Sufi Persia abad ke-12 M, Fariduddin Attar berjudul Tadzkirat al-Awliyâ’ (Memori tentang Para Wali). Buku ini ditulis Attar dalam bahasa Persia, kecuali pendahuluannya yang ditulis dalam bahasa Arab. Sarjana Barat, A.J. Arberry, telah menerjemahkannya ke bahasa Inggris, dengan memberi anotasi serta membatasi pada 75 wali saja. Adapun versi terjemahan Arab oleh Muhammad al-Ashliyy memuat 95 wali.
Salah satu yang menarik dari buku ini adalah penjelasan Attar, mengapa dia mau mengarang tentang kisah hidup para wali itu. Bagi Attar, perkataan atau nasihat para wali adalah penjelasan makna Al-Qur’an dan hadis Nabi yang terbit dari amal dan pencerahan ruhani. “Perkataan mereka adalah buah dari amal dan pengalaman batin, bukan hasil dari debat dan wacana. Ia adalah kesaksian langsung, bukan sekadar penjelasan; berasal dari rahasia-rahasia (asrâr), bukan pengulangan-pengulangan (takrâr); ilmu laduni, bukan ilmu yang dipelajari; dari alam ‘Tuhanku mendidikku’, bukan dari ‘ayahku mendidikku’, karena mereka adalah para wali pewaris Nabi,” tulis Attar.
Apa manfaat menyimak nasihat dan cerita hikmat dari orang-orang saleh itu? Pertama, nasihat itu dapat mendorong orang untuk mewujudkannya. Ia laksana pasukan yang membantu hati yang patah dan kalah dalam menghadapi problematika hidup. Kedua, jika pendengar cerita itu merasa dirinya hebat, maka akan hilanglah rasa hebat dan bangga diri itu karena ia akan sadar bahwa dirinya tidak bisa menyamai orang-orang saleh tersebut. “Jangan bandingkan orang banyak dengan dirimu, tetapi bandingkanlah dirimu dengan orang-orang baik dan teguh keyakinan sehingga kau tahu keunggulan mereka dan kekurangan dirimu,” kata Attar.
Seolah berkisah tentang zaman kita yang diserbu informasi negatif, Attar menulis: “Aku menyaksikan bahwa orang mudah terpengaruh oleh perkataan yang batil, seperti misalnya ketika seseorang dicaci-maki, atau ketika dikatakan kepadanya sesuatu yang bertentangan dengan maksudnya, maka dia akan terpengaruh, lalu berusaha menyakiti orang yang mengatakan itu, dan jika dia tak mampu melakukannya, dia akan menyimpan dendam sementara waktu. Jika pernyataan yang batil saja sedemikian rupa pengaruhnya, maka tak menutup kemungkinan pernyataan yang hak juga berpengaruh, meskipun mereka tidak menyadari pengaruh itu.”
Alhasil, mengapa lautan manusia mencintai Guru Sekumpul? Saya kira hal itu terutama karena nasihat-nasihatnya yang menyentuh hati dan akhlaknya yang mulia sebagaimana ditunjukkan oleh rekam jejaknya. Jika demikian, maka ini bukanlah kultus individu, melainkan suatu kecintaan tulus pada potensi-potensi terbaik dalam diri manusia.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











