"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Kisah naik turun industri film Hong Kong

Sejarah dan Kehancuran Industri Sinema Hong Kong

Sinema Hong Kong pernah menjadi pusat dari industri film global. Pada masa keemasannya, terutama pada dekade 1980 hingga 1990-an, karya-karya mereka tidak hanya menghibur penonton di Asia tetapi juga mendunia. Nama-nama seperti Jackie Chan, Michelle Yeoh, Chow Yun Fat, Tony Leung Chiu Wai, Leslie Cheung, dan Andy Lau menjadi ikon yang sangat dikenal. Tidak hanya aktor, sutradara-sutradara ternama seperti Ringo Lam, Wong Kar Wai, Johnnie To, Fruit Chan, dan John Woo juga memberikan kontribusi besar dalam menciptakan karya-karya yang luar biasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, industri sinema Hong Kong mulai meredup. Pada akhir 1990-an, penurunan produksi film mulai terlihat. Meskipun pada 2000-an ada sedikit penguatan, namun tidak mampu menyaingi era emasnya. Lantas, apa penyebabnya?

1. Proses Produksi yang Toksik dan Pasar yang Jenuh

Kejatuhan sinema Hong Kong bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Salah satu alasan utamanya adalah kejenuhan pasar. Menurut Phill Hoad dari The Guardian, produser Wellington Fung menyebut fenomena ini sebagai siklus alamiah. Setelah mengalami era emas, jumlah produksi meningkat, tetapi kualitasnya mulai menurun.

Hal ini diamini oleh Yahong Li dan rekan-rekannya dalam sebuah artikel yang berjudul “Reminiscing About the Golden Age: An Analysis of Efforts to Revive the Hong Kong Film Industry Through the Lens of Copyright Protection”. Mereka menjelaskan bahwa proses produksi film Hong Kong menjadi toksik karena keinginan investor untuk memproduksi film secara cepat. Naskah ditulis asal-asalan dan plot yang sudah ada didaur ulang hingga membuat pasar jenuh.

2. Kesulitan Melawan Pembajakan Film

Pada akhir 1990-an, pembajakan film menjadi masalah besar bagi industri sinema dunia. Penonton pada masa itu mungkin masih ingat betapa ramainya kios CD dan DVD bajakan. Sineas Hong Kong juga terkena dampaknya. Terlebih lagi, distribusi film mereka masih bergantung pada bioskop dan rilisan fisik.

Saat itu, krisis finansial juga melanda Asia, termasuk Hong Kong. Di tengah situasi ini, koloni Inggris bersiap untuk kembali ke China. Perubahan politik dan ekonomi ini mendorong banyak orang, termasuk penulis naskah dan sineas, untuk pindah ke negara-negara Barat yang dinilai lebih stabil dan demokratis. Termasuk Wong Kar Wai dan John Woo yang mulai bekerja sama dengan investor luar negeri sejak pertengahan 1990-an.

3. Persaingan yang Semakin Ketat Pasca-Reunifikasi dengan China

Reunifikasi Hong Kong dengan China pada 1997 membawa perubahan besar. Ada aturan baru yang harus diikuti oleh sineas Hong Kong. Salah satunya adalah kuota film asing dan kebijakan sensor. Meskipun film Hong Kong bisa dikecualikan dari kategori film asing di China, mereka harus memenuhi regulasi yang ditetapkan China. Ini termasuk penggunaan rumah produksi/distributor dan aktor asal China daratan.

Reunifikasi ini juga berdampak pada regulasi distribusi film Hong Kong di Taiwan. Sebagai konteks, Taiwan juga mengalami reunifikasi pada periode yang sama, dan China menerapkan perjanjian serta kebijakan khusus sendiri. Hal ini memengaruhi hubungan bilateral antara Hong Kong dan Taiwan, termasuk dalam distribusi film. Padahal, Taiwan adalah salah satu pasar terbesar bagi film Hong Kong.

Di saat yang sama, industri film di negara lain berkembang pesat, membuat persaingan semakin ketat. Pada akhir 1990-an dan 2000-an, film dan serial dari Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat mulai membanjiri pasar global. Ini secara perlahan menggeser dominasi film Hong Kong.

Rekomendasi Film Hong Kong Era 90-an

Berikut beberapa rekomendasi film Hong Kong era 90-an yang bisa kamu tonton:

  • 7 Rekomendasi Film Hong Kong Era 90-an yang Tayang di Netflix
  • 5 Film Hong Kong Jadul yang Bertemakan Unsur Cinta dengan Kejahatan
  • 7 Film Hong Kong Terbaik, Hadir dengan Berbagai Genre
  • 5 Film Hong Kong di Vidio, Aksi Kriminal hingga Drama Memukau
Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *