JAKARTA — Pendidikan dan pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 telah berlangsung selama dua minggu sejak dibuka pada 11 Januari 2026. Sebanyak 1636 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti pendidikan di “barak” Asrama Haji Pondok Gede selama 20 hari hingga 30 Januari mendatang. Waktu yang cukup panjang dan tidak biasa untuk pelatihan petugas haji. Sebagai peserta diklat, saya mencatat beberapa refleksi selama sepekan berada di kawah candradimuka para calon petugas haji ini. Refleksi ini muncul dari apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami langsung selama mengikuti pendidikan di Pondok Gede.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj RI) sedang membangun legacy tonggak sejarah penyelenggaraan ibadah haji melalui Diklat PPIH ini. Sebab, dalam sejarah penyelenggaran haji di negara kita, Diklat PPIH oleh Kemenhaj kali ini serba pertama dan serba berbeda. Hal yang menurut saya sangat fundamental sekaligus monumental bagi pelayanan jamaah haji Indonesia.
Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Diklat PPIH tahun ini patut dicatat sebagai tonggak sejarah. Pertama, pemilihan istilah diklat itu sendiri. Kemenhaj menggunakan istilah ini sebagai ganti istilah bimtek (bimbingan teknis) yang di tahun-tahun sebelumnya selalu digunakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) sebagai leading sector penyelenggaraan haji saat itu, untuk menyebut pelatihan petugas haji.
Penggunaan istilah ini bukan sekadar soal pemilihan diksi belaka, melainkan refleksi yang merangkum makna harapan, program, serta strategi dalam mewujudkan pelayanan terbaik bagi sekitar 221.000 calon jamaah haji Indonesia. Pemilihan kata diklat ini berimplikasi pada beberapa hal, di antaranya: masa pelatihan lebih lama. Jika sebelumnya di era Kementerian Agama masa pelatihan petugas haji hanya sekitar satu minggu hingga 10 hari, tahun ini, Kementerian Haji dan Umrah menggembleng petugas dalam masa 20 hari, dan direncanakan akan ditambah 10 hari secara daring, sehingga genap satu bulan. Bahkan, sepanjang penelusuran saya, tidak ada pendidikan petugas haji di jagat raya ini yang lebih lama dan lebih intensif dibanding Diklat PPIH 2026.
Implikasi lainnya, konsep yang digunakan adalah konsep pendidikan semi militer, yang mungkin juga satu-satunya dan pertama di dunia dalam hal pembekalan petugas haji. Peserta didik (serdik) tidak hanya dicekoki materi-materi teknis kepetugashajian, namun juga digembleng secara fisik dan dilatih kedisiplinan semi militer. Dua hal ini urgen, mengingat kondisi medan penugasan sesungguhnya di Arab Saudi nanti sangatlah berat. Di daerah operasi nanti, petugas akan menghadapi kombinasi antara kemungkinan kelelahan fisik, medan berat, dan cuaca ekstrem musim panas yang bisa mencapai 50 derajat celcius. Mereka juga dituntut untuk selalu siap dalam menghadapi berbagai masalah yang mungkin timbul ketika menangani jamaah dan sigap menghadirkan solusinya. Diklat PPIH menjadi muqaddimah agar tidak kaget dan siap menghadapi segala kondisi dan situasi demi menghadirkan kenyamanan bagi para tamu Allah.
Dari sisi materi pendidikan, materi pada Diklat PPIH 2026 jauh lebih padat dan kaya dibanding pelatihan petugas haji era Bimtek. Saking padatnya, saya sampai harus menunggu waktu Izin Bermalam (IB) untuk bisa menulis tulisan ini. Bagi yang penasaran, berikut sedikit saya gambarkan betapa asyiknya suasana “barak” diklat PPIH 2026 di Pondok Gede: pukul 04.30 usai bangun tidur, melaksanakan shalat subuh berjamaah dan mendengarkan kultum di masjid al-Mabrur, dilanjutkan olahraga pagi (senam dan jalan sehat). Pukul 06.00 sarapan pagi, mandi, disambung dengan apel pagi bersama pukul 07.30. Setengah jam kemudian, masuk kelas hingga pukul 17.00, diikuti dengan materi kelas tusi (tugas dan fungsi) pada pukul 19.00 hingga pukul 22.00.
Selama satu minggu full, sejak hari pertama hingga ketujuh, serdik juga dilatih peraturan baris-berbaris (PBB) ala militer berikut yel-yelnya. Inilah yang membuat para serdik PPIH susah move on dan di sinilah titik serunya. Serdik yang dibagi dalam 8 kompi dan peleton-peleton, saling berlomba meneriakkan yel-yel andalan, saling adu kekompakan. Setiap pergerakan pasukan harus dilakukan di dalam tim, tidak ada gerakan individu, baik ketika berangkat dari barak menuju apel bersama, menuju kelas, maupun ketika kembali ke barak lagi untuk istirahat setelah sesi materi kelas terakhir. Oh ya, apel pasukan adalah ritual yang tak boleh ditinggalkan. Dalam sehari, minimal ada tiga jenis apel yang wajib dilakukan: apel pagi sebelum olah raga, apel besar gabungan, dan apel malam sebelum istirahat. Begitu terus ritual ini diulang-ulang setiap harinya. Dan jangan lupa, di setiap kegiatan dan materi kelas, serdik harus selalu mengisi absen via scan barcode. Canggih bukan?
Bagi saya pribadi, sejatinya sistem pendidikan ala militer ini tidaklah asing. Ini mengingatkan saya pada 25 tahun lalu ketika masih menjadi santri di Gontor, Ponorogo, di mana seluruh aktivitas santri dijiwai dengan ruh kedisiplinan. Gontor menerapkan sistem pendidikan holistik, sebagaimana yang sering disampaikan oleh Kiai kami, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi bahwa sistem pendidikan di Gontor adalah sistem pendidikan 24 jam, di mulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi. “Apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan di pondok ini semuanya adalah pendidikan.” Demikian yang sering beliau sampaikan di banyak kesempatan.
Kedua, perubahan penyelenggara haji dan umrah dari Kemenag ke Kemenhaj yang ditetapkan melalui Perpres Nomor 92 tahun 2025 tentang Kementerian Haji dan Umrah. Melalui payung hukum ini, untuk pertama kalinya tahun ini Kemenhaj menjadi penyelenggara tunggal ibadah haji, setelah sekitar 80 tahun sejak tahun 1946 penyelenggaraan ibadah haji di bawah Kemenag. Tahun lalu, meskipun sudah mulai cawe-cawe, Kemenhaj yang saat itu masih menggunakan nomenklatur BPH (Badan Penyelenggara Haji) mulai terjun dalam penyelenggaraan haji bersama Kemenag. Perubahan ini berarti, PPIH yang dibentuk sebagai tim teknis penyelenggaraan ibadah haji tahun ini juga menjadi PPIH perdana di bawah Kemenhaj.
Di sinilah tonggak sejarah baru lainnya ditancapkan. Kemenhaj di bawah Menteri Gus Irfan Yusuf dan Wamen Dahnil Anzar Simanjuntak tidak menginginkan hal yang biasa-biasa saja. Kemenhaj membuat inovasi dan terobosan-terobosan baru bagi PPIH perdana ini, salah satunya dengan menerapkan sistem semi militer dan masa diklat yang terbentang hingga sebulan penuh. Dan tampaknya, baik Menhaj Gus Irfan maupun Wamenhaj Dahnil sangat serius serta menaruh harapan besar di pundak para petugas haji ini. Catatan saya, selama kurang lebih dua pekan diklat berjalan, Menteri Irfan tak kurang dari empat kali menyambangi “barak” Pondok Gede, sementara Wamen Dahnil tak kurang dari tujuh kali datang ke lokasi, bahkan ikut olahraga, apel dan makan bersama para serdik. Artinya, hampir setiap hari Menteri ataupun Wamen Haji hadir ke barak di sela urusan-urusan birokrasi dan politik yang rumit.
Mengapa Kemenhaj seserius itu menangani petugas haji tahun ini? Jawabannya, karena Kemenhaj ingin menciptakan sunnah hasanah dalam penyelenggaran haji Indonesia yang menjadi standar baru pelayanan jamaah haji dan menjamin seluruh jamaah haji Indonesia mendapatkan pelayanan terbaik. Sebab, para petugas haji adalah pelayan para jamaah haji. Mereka menjadi ujung tombak penyelenggaraan haji Indonesia. Hitam putihnya penyelenggaraan haji Indonesia bergantung pada mereka. Kemenhaj tak mau kecolongan dengan masuknya petugas-petugas karbitan yang tak memiliki kapasitas dan kapabilitas mumpuni dari sisi kecakapan (skill), kedisiplinan, kesehatan, dan mentalitas prima untuk melayani jamaah.
Dengan model pendidikan petugas haji seperti di atas, diharapkan—sebagaimana istilah Wamen Dahnil: tidak ada lagi petugas yang hanya nebeng haji jamaah. Dalam banyak kesempatan, Wamen Dahnil bahkan men-challenge para petugas untuk membuktikan bahwa dalam penyelenggaran haji tahun ini ucapannya itu salah. Dan jika melihat jalannya pendidikan di Pondok Gede, rasanya kita bisa berharap banyak kepada para petugas haji ini. Sebagai orang yang turut merasakan langsung pendidikan itu, hilal kesuksesan penyelenggaraan haji tahun ini mulai dapat saya lihat.
Pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly, pernah mengatakan, “If you are the first you are the first, if you are second, you are nothing.” Jika kau yang pertama, maka kau memang yang pertama. Tapi jika kau jadi yang kedua, kau bukanlah siapa-siapa. Jauh sebelum itu, Ibnu Al-Mu’tazz mengatakan, “Al-Fadhlu lil mubtadi, wa in ahsanal mubtadi.” Keutamaan itu adalah milik para pelopor, meskipun para pengekor membuat inovasi. Kepeloporan inilah yang sedang dibangun oleh Kemenhaj dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia. Dan untuk rekan-rekan saya sesama PPIH yang saat ini sedang berada di barak, bersyukurlah kita menjadi bagian dari sejarah itu. Nikmatilah semua proses pendidikan yang meskipun tidak mudah untuk dijalani, namun indah untuk dikenang nanti. Marilah kita sambut penugasan mulia ini dengan penuh rasa syukur dan riang gembira, seperti lagu yang sering kita nyanyikan berulang-ulang: Gembira, gembira, petugas itu gembira. Gembira, gembira, PPIH itu gembira…











