Musik memiliki peran yang lebih dalam dari sekadar hiburan. Dalam dunia psikologi, selera musik sering kali dianggap sebagai “jendela kecil” untuk melihat kepribadian seseorang. Cara seseorang memilih lagu—apakah ia lebih suka musik lawas atau mengikuti tren terbaru—bisa memberikan wawasan tentang cara mereka berpikir, merasakan, dan memaknai kehidupan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih menyukai musik lawas (seperti oldies, klasik, atau lagu-lagu dari dekade sebelumnya) cenderung memiliki karakteristik kepribadian tertentu yang cukup konsisten. Musik lawas sering dikaitkan dengan emosi yang mendalam, lirik yang kuat, serta nilai sentimental yang tinggi. Berikut adalah 9 ciri kepribadian unik yang sering ditemukan pada orang-orang yang lebih mencintai musik lawas dibandingkan lagu hits terkini:
-
Lebih Reflektif dan Suka Merenung
Orang yang menyukai musik lawas biasanya memiliki kebiasaan refleksi diri yang kuat. Mereka sering menikmati momen menyendiri sambil memikirkan makna hidup, pengalaman masa lalu, atau rencana masa depan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan kecenderungan introspektif, yaitu kemampuan untuk memahami emosi dan pikiran sendiri. Musik lawas dengan tempo yang lebih lambat dan lirik yang puitis membantu mereka masuk ke kondisi ini dengan nyaman. -
Memiliki Kecerdasan Emosional yang Tinggi
Banyak lagu lawas menekankan emosi yang kompleks: kehilangan, cinta yang tak terbalas, harapan, kerinduan, dan penerimaan. Orang yang menikmatinya biasanya lebih peka terhadap perasaan—baik perasaan sendiri maupun orang lain. Secara psikologis, ini berkaitan dengan emotional awareness dan empati. Mereka cenderung lebih mudah memahami sudut pandang orang lain dan tidak reaktif secara berlebihan. -
Menghargai Kualitas daripada Tren
Alih-alih mengikuti apa yang sedang viral, pencinta musik lawas biasanya lebih fokus pada kualitas: aransemen, lirik, suara vokal, dan keaslian emosi. Kepribadian ini sering dikaitkan dengan independensi dalam berpikir. Mereka tidak merasa perlu mengikuti arus mayoritas untuk merasa “cukup” atau relevan. -
Cenderung Nostalgis, tapi Tidak Terjebak Masa Lalu
Rasa nostalgia memang kuat pada penggemar musik lawas. Namun, secara psikologis, nostalgia yang sehat justru membantu seseorang merasa lebih stabil secara emosional. Penelitian menunjukkan bahwa nostalgia dapat: - Meningkatkan rasa makna hidup
- Mengurangi stres
- Menguatkan identitas diri
Orang-orang ini mengenang masa lalu bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk mengambil pelajaran dan kehangatan emosional.
-
Setia dan Konsisten dalam Hubungan
Salah satu ciri yang sering muncul adalah loyalitas. Mereka yang menyukai musik lawas cenderung menghargai komitmen, baik dalam pertemanan maupun hubungan romantis. Hal ini sejalan dengan preferensi mereka terhadap hal-hal yang “bertahan lama”, bukan yang cepat datang dan cepat pergi—termasuk dalam urusan perasaan. -
Memiliki Selera Estetika yang Kuat
Musik lawas sering kali membawa nuansa artistik yang khas, baik dari segi lirik, instrumen, maupun suasana. Orang yang menyukainya biasanya juga memiliki ketertarikan pada seni, sastra, atau hal-hal bernilai estetis lainnya. Dalam psikologi kepribadian, ini sering dikaitkan dengan trait openness to experience, yaitu keterbukaan terhadap keindahan, imajinasi, dan makna simbolik. -
Lebih Tenang dan Tidak Mudah Terburu-buru
Berbeda dengan lagu-lagu hits terkini yang cenderung cepat dan energik, musik lawas sering memiliki tempo yang lebih stabil. Hal ini mencerminkan kepribadian pendengarnya yang relatif lebih tenang dan tidak impulsif. Mereka biasanya: - Tidak suka keputusan tergesa-gesa
- Lebih sabar dalam menghadapi masalah
-
Nyaman dengan ritme hidup yang pelan tapi pasti
-
Menghargai Cerita dan Makna Mendalam
Bagi pecinta musik lawas, lagu bukan sekadar bunyi. Lagu adalah cerita. Mereka menikmati narasi di balik lirik dan sering mengaitkannya dengan pengalaman hidup pribadi. Secara psikologis, ini menunjukkan kemampuan meaning-making, yaitu kecenderungan untuk mencari makna di balik peristiwa, bukan hanya menikmati permukaannya saja. -
Autentik dan Nyaman Menjadi Diri Sendiri
Terakhir, orang yang menyukai musik lawas umumnya tidak terlalu terobsesi dengan validasi sosial. Mereka nyaman dengan pilihan mereka, meskipun dianggap “ketinggalan zaman” oleh sebagian orang. Kepribadian ini mencerminkan self-acceptance yang baik—mereka tahu apa yang mereka suka, dan tidak merasa perlu menjelaskannya kepada semua orang.
Penutup
Menyukai musik lawas bukan berarti menolak kemajuan atau anti terhadap hal baru. Dari sudut pandang psikologi, ini justru sering mencerminkan kepribadian yang matang secara emosional, reflektif, dan autentik. Tentu saja, setiap individu unik dan tidak semua ciri ini berlaku mutlak. Namun satu hal yang pasti: selera musik sering menjadi cermin halus dari cara seseorang memandang dunia—dan musik lawas, bagi banyak orang, adalah bahasa hati yang tak lekang oleh waktu.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











