"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Menelusuri Asal Usul dan Jejak Sejarah Kabupaten Sampang dari Kuno hingga Legenda Jokotole

Sejarah dan Asal Usul Kabupaten Sampang

Kabupaten Sampang yang berada di Pulau Madura, Jawa Timur tidak hanya dikenal dengan kekayaan budaya dan tradisi khasnya, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang membentuk identitas wilayah tersebut hingga kini. Asal usul Sampang berkembang dari perpaduan cerita rakyat, catatan sejarah kuno, serta perjalanan administratif yang berlangsung selama berabad-abad.

Secara administrasi, Kabupaten Sampang terletak dalam wilayah Provinsi Jawa Timur, dengan geografis terletak di antara 113o 08’–113o39′ Bujur Timur dan 6o05’–7o 13′ Lintang Selatan, dengan luas wilayah 1.233,30 km⊃2; yang tersebar di 14 kecamatan dengan 6 kelurahan dan 180 desa. Pusat Kabupaten Sampang terletak sekitar 100 Km dari Surabaya.

Terletak di bagian barat Pulau Madura, Sampang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangkalan di sebelah barat dan Kabupaten Pamekasan di timur. Posisi geografis ini menjadikan Sampang sejak dulu sebagai wilayah strategis yang dilalui berbagai aktivitas masyarakat Madura.

Legenda Jokotole dan Asal Nama Sampang

Nama Sampang diyakini berasal dari kata dalam bahasa Madura e’sempange, yang berarti “tempat yang dilewati”. Sebutan ini merujuk pada kisah perjalanan tokoh legendaris Madura, Jokotole, yang bersama istrinya melintasi kawasan tersebut dalam perjalanannya dari arah utara ke selatan Pulau Madura.

Wilayah yang kerap menjadi tempat persinggahan itu kemudian dikenal masyarakat sebagai Sampang. Seiring waktu, nama tersebut melekat dan digunakan sebagai penanda kawasan hingga menjadi nama daerah yang dikenal saat ini.

Selain kisah Jokotole, terdapat pula versi lain yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat. Sampang disebut berasal dari kata Sampangan, yang merujuk pada tempat singgah atau persimpangan jalur masyarakat Madura pada masa lampau. Meski bersifat legenda, cerita-cerita ini masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

Jejak Sejarah dan Permukiman Kuno

Jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan ke daratan Madura, sekitar abad ke 7 M atau tepatnya pada tahun 835 M, di wilayah Kabupaten Sampang sudah ditemukan adanya komunitas masyarakat. Komunitas ini masih belum berstruktur dan masih berupa padepokan agama Budha dengan seorang “resi” sebagai titik sentralnya.

Berdasarkan temuan “Candra Sangkala” di situs sumur Daksan, Kelurahan Dalpenang, Sampang oleh para pakar sejarah dan arkeologi dari Mojokerto dan UGM Yogyakarta, diketahui bahwa komunitas masyarakat seperti ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Cailendra abad ke 7 M. Waktu itu komunitas masyarakatnya tidak berstruktur, berkelompok menjadi satu padu, dan biasanya dipimpin oleh seorang “resi” yang dijadikan sebagai titik sentral dalam mengajarkan agama Budha kepada anggota kelompoknya.

Temuan Candra Sangkala lainnya juga ditemukan di situs bujuk Nandi, Desa Kemuning, Kecamatan Kedundung, Sampang. Situs itu berbunyi: Nagara Gata Bhuwana Agong, artinya Nagara = 1 Gata = 3 Bhuwana = 0 Agong = 1. Berarti, 1301 tahun Caka atau sama dengan 1379 M. Komunitas masyarakat seperti ini, terjadi pada masa pemerintahan Daha dan Kediri abad 12 M.

Zaman Majapahit dan Mataram Islam

Mengutip dari sumber terpercaya, ketika Kerajaan Mojopahit mengalami masa kejayaannya, pengaruh keberadaan kerajaan yang terletak di Kabupaten Mojokerto itu terekam di Sampang. Ini bisa dilihat dari ditemukannya Candra Sangkala di situs Pangeran Bangsacara Takobuh, Kelurahan Polagan Sampang. Candra Sangkala tersebut, berupa angka 1305 tahun Caka yang tertoreh di sebuah batu berukir, yang berarti sama dengan tahun 1383 M.

Angka tersebut menandakan tahun berdirinya sebuah candi Budha dengan relief rangkaian cerita Pangeran Bangsacara Ragapadmi. Isinya sarat dengan pesan-pesan pendidikan moral dan agama. Komunitas masyarakat seperti ini sudah mulai berstruktur walaupun statusnya mudah sekali berubah-ubah.

Sampang dalam Perjalanan Administratif

Secara administratif, Sampang resmi ditetapkan sebagai kabupaten pada 8 Agustus 1950 melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950. Sejak saat itu, Sampang berkembang menjadi salah satu daerah penting di Provinsi Jawa Timur dengan karakter budaya yang kuat dan sejarah yang terus dijaga.

Hingga kini, kisah asal usul Sampang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakatnya, sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang daerah yang dikenal sebagai salah satu kabupaten tertua di Pulau Madura.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *