Pengalaman Buruk AKBP Arif Fazlurrahman Saat Melaporkan Kehilangan Sepeda
AKBP Arif Fazlurrahman, Kapolres Lamongan, Jawa Timur, mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan saat membuat laporan kehilangan sepeda. Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu, namun baru-baru ini ia membagikannya melalui akun media sosial pribadinya. Ia menuturkan bahwa dirinya sengaja tidak menyebutkan identitasnya ketika melapor. Namun, oknum petugas piket justru bertanya tentang harga sepeda yang hilang, yang membuat hati AKBP Arif kecewa.
Peristiwa ini membuat emosinya meledak hingga melontarkan makian. Meskipun ia menjelaskan bahwa tujuan dari cerita ini adalah untuk mengingatkan para aparat agar memiliki empati terhadap masyarakat, khususnya mereka yang sedang mengalami musibah. Menurutnya, baik itu kerugian senilai Rp100 ribu atau Rp500, setiap laporan harus dilayani dengan baik dan tidak dianggap enteng.
Latar Belakang AKBP Arif Fazlurrahman
AKBP Arif Fazlurrahman lahir di Jakarta pada 9 Juni 1984. Sebelum menjadi Kapolres Lamongan, ia telah menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol). Ia lulus dengan peringkat ke-65 dari 250 orang dalam satu angkatan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kapolres Blitar Kabupaten, dan kini resmi menjabat posisi baru sebagai Kapolres Lamongan.
Sebelum masuk Akpol pada 2002, Arif awalnya tidak tertarik menjadi polisi. Di mata Arif, polisi merupakan sosok yang menyeramkan, sehingga ia lebih bercita-cita menjadi dokter. Namun, saat duduk di kelas 3 SMA, ayahnya mengajaknya berdiskusi mengenai karier di kepolisian. Akhirnya, ia memutuskan masuk Akpol sebagai polisi karier untuk dididik sebagai kader pimpinan Polri.
Dalam proses seleksi Akpol, Arif menurunkan berat badan hingga 15 kilogram dalam sebulan dan berhasil lolos peringkat terbaik dari sekitar 1.200 peserta se-Indonesia. Ia juga aktif dalam OSIS, berorganisasi, dan sering mewakili berbagai lomba Olimpiade, salah satunya fisika.
Karier di Korps Bhayangkara
Setelah lulus dari Akpol, Arif memulai kariernya di Korps Bhayangkara sebagai Perwira Pertama (Pama) di Polwil Kediri Polda Jatim. Kemudian, ia dipindahkan ke Polres Tulung Agung, Gorontalo, dan pada Desember 2013 ditempatkan di Polda Metro Jaya sebagai PAUR I Subbag Renminops Bag Binops Ops.
Kariernya berlanjut dengan menjabat Kasubag Pangkat Bag Binkar Biro SDM Polda Metro Jaya pada 2016 sebelum akhirnya dipercaya menjadi Kapolsek Kelapa Gading pada Juli 2017. Selain itu, Arif juga pernah mengemban tugas sebagai Kasat Lantas Polrestabes Surabaya hingga Januari 2025.
Harta Kekayaan AKBP Arif Fazlurrahman
Berdasarkan dokumen Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Arif terakhir melaporkan harta kekayaannya pada 27 Januari 2026/Periodik – 2025. Total harta kekayaan AKBP Arif Fazlurrahman tercatat sebesar Rp. 3.583.216.944 atau sekitar Rp 3,5 miliar.
Berikut rincian harta kekayaan AKBP Arif Fazlurrahman:
- Tanah dan Bangunan: Rp. 2.792.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 176 m2/150 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp. 1.016.000.000
- Tanah Seluas 1.856 m2 di KAB / KOTA TULUNGAGUNG, HASIL SENDIRI: Rp. 406.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 268 m2/170 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN: Rp. 1.370.000.000
- Alat Transportasi dan Mesin: Rp. 300.000.000
- MOBIL, MAZDA MINIBUS Tahun 2020, HASIL SENDIRI: Rp. 300.000.000
- Harta Bergerak Lainnya: Rp. 6.000.000
- Surat Berharga: Rp. —-
- Kas dan Setara Kas: Rp. 485.216.944
- Harta Lainnya: Rp. —-
Sub Total: Rp. 3.583.216.944
Utang: Rp. —-
Total Harta Kekayaan: Rp. 3.583.216.944
Pengalaman Nyamar Jadi Warga
Sebelumnya, AKBP Arif Fazlurrahman juga pernah mengungkap pengalaman pribadi yang cukup mengejutkan. Ia menceritakan pernah dicueki oleh oknum polisi saat melaporkan kasus pencurian sepeda miliknya, hingga membuatnya marah besar dan meluapkan emosi. Kisah tersebut dibagikan langsung melalui akun Instagram pribadinya @arif_fazlurrahman.
“Saya pernah jadi korban kejahatan. Sepeda saya dicolong maling,” katanya mengawali ceritanya. Usai kejadian, AKBP Arif mendatangi polsek untuk melaporkan kasus tersebut yang terjadi 6 tahun lalu. Sesampainya di kantor polisi, dirinya diterima petugas piket kala itu.
AKBP Arif tidak mengungkap identitasnya ketika melapor. “Dia (oknum polisi) mukanya itu masih enggak serius. Saya masih berdiri, disuruh duduk aja belum,” katanya. “Saya enggak ngomong kalau saya polisi.” tambah AKBP Arif.
Bukannya melayani dengan baik, oknum polisi itu malah bertanya soal harga sepeda yang hilang. “Emang berapa harganya?” kata AKBP Arif menirukan percakapan sang oknum. Perkataan ini membuat hati AKBP Arif hancur. Emosinya juga langsung meledak hingga melontarkan makian.
“Baru saya marah: ‘Woi brengsek kamu. Panggil Kapolsekmu’. Saya bilang. Saya pernah jadi Kapolsek,” kata AKBP Arif. Mendengar pernyataan tersebut, si oknum polisi berubah sikap. “Baru dia bilang: ‘siap…siap ndan’,” lanjutnya.
Alasan AKBP Arif bercerita karena dirinya ingin semua polisi memiliki empati kepada masyarakat, khususnya yang sedang ditimpa musibah. Aparat turut diingatkan jangan melihat laporan dari nilai rupiah kerugian. Bagi AKBP Arif, baik itu Rp100 ribu atau Rp500 harga barang yang hilang, masyarakat berhak dilayani dengan baik.
Terakhir, AKBP Arif berharap tidak ada lagi oknum-oknum polisi yang mengabaikan laporan dari masyarakat. “Mestinya sekarang sudah tidak ada,” tandas dia.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











