"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Futuwwah: Jalan Kebajikan Sesungguhnya Menurut Prof Nasaruddin Umar

Pengertian Futuwwah dalam Perspektif Agama dan Kehidupuan Sehari-hari

Futuwwah adalah konsep yang sering disebut dalam ajaran agama Islam, terutama dalam konteks Ramadhan. Dalam arti sederhana, futuwwah merujuk pada sikap dermawan, murah hati, serta kepedulian terhadap sesama. Konsep ini tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga melibatkan niat dan kesadaran untuk memberikan bantuan tanpa pamrih.

Secara etimologis, kata “futuwwah” berasal dari akar kata “fatawa”, yang berarti memperbaiki atau mengangkat sesuatu. Dalam konteks spiritual, futuwwah bisa diartikan sebagai upaya untuk menjaga kebersihan jiwa dan membantu orang lain dengan penuh kasih sayang. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, kita diberi pesan bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Hal ini menunjukkan bahwa futuwwah tidak hanya tentang memberi, tetapi juga tentang keterlibatan emosional dan moral terhadap sesama.

Makna Futuwwah dalam Berbagai Perspektif

Beberapa ulama memiliki pandangan berbeda mengenai makna futuwwah. Ada yang mengatakan bahwa futuwwah berarti tidak melakukan sesuatu karena status atau kedudukan, tetapi justru karena keinginan untuk berbuat baik. Futuwwah juga bisa berarti melakukan hal yang baik kepada ahli maupun non-ahli, bahkan jika seseorang bukan ahlinya, maka ia harus menjadi ahlinya.

Dalam perspektif spiritual, futuwwah juga bisa diartikan sebagai rasa peduli terhadap urusan orang lain. Ini mencerminkan keberadaan seorang hamba yang selalu menjaga kepentingan orang lain. Dalam hal ini, futuwwah juga berarti memaafkan kesalahan saudaranya dan menutupi aibnya. Inilah tingkat futuwwah yang paling rendah, tetapi juga sangat penting dalam menjaga harmoni sosial.

Selain itu, futuwwah juga bisa berarti menganggap diri tidak lebih utama dari orang lain. Dengan demikian, futuwwah juga mencakup sikap melayani dan tidak dilayani. Dalam konteks ini, futuwwah merupakan bentuk perwujudan akhlak yang baik dan penuh rasa tanggung jawab.

Futuwwah dalam Konteks Keagamaan

Dalam tradisi keagamaan, futuwwah sering dikaitkan dengan keimanan. Al-Junaid, seorang tokoh sufi, menyatakan bahwa futuwwah adalah menahan diri dari segala yang menyakiti orang lain dan memberi makanan kepada orang lain. Selain itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa futuwwah adalah mengikuti sunnah, yaitu cara hidup yang sesuai dengan ajaran Nabi.

Ada juga yang mengatakan bahwa futuwwah adalah menampakkan kenikmatan dan menyembunyikan cobaan. Dalam konteks ini, futuwwah mencerminkan keteguhan iman dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup. Ahmad bin Hambal, misalnya, berpendapat bahwa futuwwah adalah meninggalkan apa yang engkau inginkan demi yang engkau takuti.

Futuwwah dalam Kehidupan Sosial

Futuwwah juga memiliki makna yang luas dalam kehidupan sosial. Ia tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk lain seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bagi mereka, semua makhluk beribadah dan bertasbih kepada Tuhan. Oleh karena itu, para dermawan dalam kategori ini menganggap harta yang diberikan untuk kepentingan orang lain lebih bernilai daripada harta yang disimpan untuk diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, futuwwah dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk aktualisasi seperti gotong royong, kesalehan sosial, silaturrahim, bakti sosial, saweran, amal jariyah, dan lain-lain. Semua ini merupakan manifestasi dari kepribadian bangsa yang penuh rasa empati dan kepedulian.

Futuwwah dalam Surah Al-Ma’un

Salah satu contoh nyata dari futuwwah adalah dalam surah Al-Ma’un. Surah ini secara eksplisit menyoroti pentingnya kedermawanan dalam kehidupan seorang Muslim. Kedermawanan inilah yang menjadi penghubung antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Orang-orang yang memiliki sifat ini disebut sebagai “mushlih” dalam Al-Qur’an, yang berarti pembenar atau pembawa perdamaian.

Dengan demikian, futuwwah tidak hanya sekadar tindakan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas spiritual dan sosial seseorang. Melalui futuwwah, seseorang dapat menjalani kehidupan yang penuh makna dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *