"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Kiai Bayanuddin Sudin: Dari Anak Jalanan ke Pemimpin Pondok Harisul Khairaat

Perjalanan Hidup Ustaz Baya: Dari Titik Terendah ke Pimpinan Pondok Pesantren

Perjalanan hidup Kiai Bayanuddin Sudin, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Harisul Khairaat Bumi Hijrah, diwarnai oleh perjuangan panjang, kesederhanaan, dan pengabdian yang tumbuh sejak masa kecil. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan ibunya sebagai guru sekolah dasar dan ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor camat. Lingkungan keluarga yang penuh kasih dan keteladanan itu menanamkan satu nilai utama dalam dirinya, yakni keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, cita-citanya sederhana, ingin menjadi seorang guru. “Sosok orang tua saya luar biasa menginspirasi, sejak SD, kepala sekolahnya Ibu saya sendiri. Sosok itu kemudian melekat pada saya 24 jam. Itulah kemudian menjadi inspirasi utama saya, cita-cita saya tidak muluk-muluk saya hanya ingin jadi seorang guru,” ujarnya.

Jejak Pendidikan dan Perjalanan Dakwah

Pendidikan dasarnya ia tempuh di Halmahera Timur, sebelum melanjutkan SMP di Kota Tidore Kepulauan. Selepas SMP, ia memilih mondok dan menjadi santri angkatan pertama di Ponpes Harisul Khairaat Bumi Hijrah pada jenjang aliyah. Selesai menempuh pendidikan menengah atas, tumbuh kesadaran di benaknya bahwa pendalaman ilmu agama membutuhkan penguasaan bahasa Arab, yang kemudian mendorongnya merantau ke Jakarta.

Keputusan merantau bukan perkara mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat perjalanannya penuh tantangan. Ia menempuh perjalanan laut berhari-hari dan menjalani hidup berpindah-pindah, bahkan bermalam dari masjid ke masjid. “Meski berat, ketika orang tua melepas saya, pesan mereka hanya satu, saya masih ingat sekali kata bapak saya, bapak tidak menginginkan kamu menjadi apapun, semua terserah kamu yang penting kamu bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.

Dengan tekad kuat, ia akhirnya menempuh pendidikan bahasa Arab di Jakarta Timur, sebelum akhirnya melanjutkan ke sejumlah lembaga pendidikan lain.

Masa Sulit dan Kegagalan

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami kegagalan, termasuk harus meninggalkan perguruan tinggi yang pernah ditempuh. Masa sulit itu beriringan dengan wafatnya sang ayah, yang menjadi pukulan berat dalam hidupnya. Namun dari titik terendah itu, ia justru kembali menguatkan peran sebagai pendidik dan pendakwah.

“Saya masuk ke Institut Ilmu Sosial dan Politik di Depok, Jawa Barat. Alhamdulillah saya sampai ke semester 4 menjelang penyusunan proposal skripsi tetapi kemudian terkendala dengan sesuatu dan lain hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, tidak bisa saya ceritakan lebih jauh. Tapi setidaknya ada kasus yang membuat saya harus meninggalkan institut tersebut, saya dinyatakan dikeluarkan,” katanya.

Di tengah keterpurukan itu, Ustaz Baya mengajar mengaji, berdagang kecil-kecilan, hingga hidup bersama anak-anak jalanan. Dari ruang-ruang sederhana itulah dakwahnya tumbuh. Perlahan, lingkungan tempat tinggalnya berubah menjadi ruang pembinaan keagamaan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kembali Ke Maluku Utara dan Peran Sebagai Pemimpin

Setelah menyelesaikan pendidikan dan menikah, Ustaz Baya memilih kembali ke Maluku Utara pada 2011. Ia mulai mengajar di beberapa lembaga pendidikan hingga akhirnya kembali mengabdi di Ponpes Harisul Khairaat. Kepercayaan demi kepercayaan diberikan kepadanya, mulai dari pengasuh, pengelola biro dakwah, hingga pada 2015 dipercaya menjadi pimpinan ponpes.

“Bukan cita-cita saya untuk jadi seorang Kiai, tidak ada dalam benak saya. Tapi peran itu tidak mungkin saya hindari. Alhamdulillah saya menjalankan peran ini,” ujarnya.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam perannya sebagai pimpinan, ia menilai perjalanan dakwah selalu dipenuhi dinamika, penolakan, dan ujian. Namun semua itu diyakininya sebagai bagian dari pengabdian dan ladang amal jariyah. “Banyak hal yang saya jalani, jatuh bangun di dunia dakwah. Saya rasakan betul, mulai dari door to door mengajak orang dengan segala ilmu yang saya miliki, tak jarang juga saya ditolak. Semua itu mudah-mudahan menjadi amal jariyah.”

Kepada generasi muda, Kiai menekankan pentingnya menjadikan ilmu agama sebagai fondasi utama kehidupan. Menurut Ustaz Baya, tantangan zaman yang semakin kompleks hanya dapat dihadapi dengan niat yang lurus, dasar keimanan yang kuat, dan kesungguhan menuntut ilmu, sebagai bekal bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

“Dengan segala lika-liku yang saya alami, saya sudah menjadi pimpinan pondok pesantren Harisul Khairaat. Saya yakin apa yang saya alami akan berbeda dengan generasi-generasi berikutnya. Pesan saya untuk generasi muda, bekali dasar hidup dengan sekuat-kuatnya, karena ini adalah pijakan. Mau sampai di mana kita kalau tidak kembali pada agama?”

“Lewat hadist ini saya anjurkan pada generasi muda untuk ayo diperkuat ilmu agama kita, karena zaman semakin kompleks, apa yang kita hadapi kedepan mudah-mudahan kita kuat, karena dasar agama kita sudah kokoh. Kuatkan niat, bersihkan niat, tempuh ilmu agama sebagai pijakan untuk masa depan. Ilmu-ilmu lainnya adalah pelengkap karena kita tidak hidup untuk hari ini, tetapi untuk hari esok.”

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *