Latar Belakang Hubungan Dwintha Anggary dan Fuad
Kisah cinta antara Dwintha Anggary, cucu komedian legendaris Mpok Nori, dengan Fuad, mantan suami sirinya yang merupakan warga negara Irak, berakhir secara tragis. Hubungan keduanya mengalami pasang surut sebelum akhirnya berujung pada pembunuhan. Saat ini, Fuad menjadi terduga pelaku pembunuhan terhadap istrinya dan telah ditangkap oleh pihak kepolisian.
Menurut informasi yang diperoleh, Fuad dikenal sebagai sosok yang tertutup di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Hal ini dipengaruhi oleh kendala bahasa, karena Fuad merupakan warga negara asing. Ketua RT setempat, Nurgiyanto, mengatakan bahwa Fuad tidak memiliki kebiasaan untuk bersosialisasi secara aktif dengan warga sekitar.
“Orangnya terlihat biasa saja, cenderung tertutup. Kita juga terkendala komunikasi, baik bahasa Inggris maupun bahasa lainnya,” ujar Nurgiyanto.
Selain itu, Nurgiyanto mengungkap bahwa Fuad pernah terlibat dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Dwintha Anggary. Ia bahkan sempat melakukan mediasi untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Ancaman Bunuh Diri Sebelum Pembunuhan
Beberapa bulan sebelum kejadian pembunuhan, Fuad disebut mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Aksi tersebut diduga dipicu karena tidak terima saat korban mengajukan permintaan cerai. Menurut Nurgiyanto, Fuad melukai dirinya sendiri menggunakan senjata tajam dan sempat membawa senjata untuk mengancam keluarga korban.
“Kelompok keluarga korban sampai ketakutan karena dia sempat membawa senjata dan mengancam,” jelas Nurgiyanto.
Situasi ini membuat pihak keluarga korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian setempat. Nurgiyanto mengaku tidak menyangka bahwa pertemuan terakhirnya dengan Fuad menjadi momen sebelum peristiwa tragis itu terjadi.
“Sehari sebelumnya saya sempat berpapasan, dia masih sempat menyapa. Saya tidak menyangka akan terjadi kejadian seperti ini,” tutupnya.
Awal Perkenalan dan Pernikahan
Dwintha Anggary (37), cucu komedian Mpok Nori, ditemukan tewas di kamar kontrakannya di Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu (21/3/2026) dini hari. Ia dibunuh oleh FTJ, mantan suaminya yang merupakan warga negara Irak.
Awal mula perkenalan Dwintha dengan FTJ terjadi saat adiknya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Dian, kakak korban, menceritakan bahwa mereka bertemu saat Dwintha bekerja di sana.
“Di tahun 2007, adik saya ke Malaysia. Nah, itu dia jadi TKI di sana. Nah, terus dia berkenalan dah sama orang ini,” kenang Dian.
Setelah hampir empat tahun bekerja, Dwintha pulang ke Indonesia. Namun, FTJ justru menyusul dan melamar Dwintha. Keluarga akhirnya merestui pernikahan mereka pada 2019 karena melihat keduanya saling menyukai.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan lancar. Dian menyebut kemungkinan sikap keras dan cara bicara FTJ yang tinggi membuat adiknya tertekan secara mental.
Tekanan Batin dan Keguguran
Tekanan batin tersebut diduga berdampak besar pada kondisi Dwintha. Sehingga ia harus mengalami keguguran hingga tiga kali. Dian mengatakan bahwa keguguran tersebut terjadi pada usia kandungan 3 bulan, 6 bulan, dan 8 bulan.
“Almarhumah keguguran tiga… tiga kali keguguran. Yang pertama 3 bulan, 6 bulan, sama 8 bulan. Ya kalau enggak (stres), secara ini kan enggak mungkin anaknya keguguran sampai tiga kali,” ucap Dian.
Dwintha dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, berdampingan dengan makam Mpok Nori. Kurang dari 24 jam setelah tragedi berdarah tersebut, pelaku berhasil ditangkap polisi di rest area Tol Tangerang–Merak saat hendak kabur ke Sumatera.
Awal Mula Rumah Tangga Retak
Sebelum tewas dibunuh FD, mantan suaminya, Dwintha Anggary, sempat terlibat cekcok. Keluarga mengungkap awal mula hubungan Dwintha dan FD mulai retak hingga terjadi pembunuhan, berawal dari momen Nisfu Syakban.
“Jadi pas Nisfu Syakban itu mereka cekcok saja. Cekcok terus keluarlah kalimat talak dari pihak laki-laki (FD),” kata Dian, kakak korban.
Dian mengatakan, dalam pandangan keluarga, ucapan talak tersebut dianggap sebagai tanda berakhirnya hubungan, terlebih pernikahan keduanya dilakukan secara siri.
Namun, konflik tidak berhenti sampai di situ. Dian menyebut, mantan suami adiknya yang merupakan warga negara Irak itu tidak menerima perpisahan tersebut dan menolak untuk berpisah.
“Terus enggak mau dipisahin,” ujar Dian.
Ancaman bunuh diri pun muncul. Situasi semakin memanas hingga pihak keluarga memutuskan untuk memanggil polisi. Sebelum polisi datang, pelaku sempat melakukan aksi yang membuat keluarga panik.
“Dia mengambil pisau mau bunuh diri ceritanya di depan kita. Karena ibu saya histeris kan, langsung memanggil polisi,” tutur Dian.
Saat polisi tiba di lokasi, pria tersebut justru melarikan diri. “Ketika polisi datang dia kabur. Nah, jadi makanya waktu itu dia pisah sudah tuh akhirnya, mau harus enggak mau,” ucap Dian.
Dian juga mengungkap bahwa setelah perpisahan tersebut, pelaku masih tinggal di sekitar lokasi yang tidak jauh dari tempat adiknya.











