"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Museum Pribadi Ceh M Din Pelestari Seni Tradisi Didong Gayo di Pegasing

Museum Pribadi Ceh M Din untuk Melestarikan Seni Didong Gayo

Museum yang sedang dibangun oleh seniman Didong Gayo, Ceh M Din, bertujuan menjadi ruang pelestarian sekaligus pusat pembelajaran seni Didong bagi generasi muda dan masyarakat luas. Lokasi museum tersebut berada di Simpang Kelaping, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Lahan pembangunan museum telah tersedia di samping rumah kediaman Ceh M Din, dan proses pembangunan direncanakan secara bertahap.

“Pelan-pelan museum ini akan kita bangun bertahap, kebetulan lahannya sudah ada,” kata Ceh M Din sambil menunjukkan area yang akan menjadi lokasi museum kepada para tamu, Sabtu (29/3/2026). Menurutnya, museum tersebut nantinya akan menampilkan berbagai atribut perjalanan keseniannya selama puluhan tahun berkarya dalam Didong. Antara lain rekaman kaset didong, manuskrip syair, bantal didong, syal pertunjukan, foto dokumentasi pertunjukan, serta arsip perjalanan kesenian Didong yang ia jalani.

Museum ini juga akan difungsikan sebagai ruang belajar Didong terbuka bagi mahasiswa, pelajar, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari seni tradisi Gayo tersebut. “Mungkin ada mahasiswa, peneliti, siswa atau siapa saja yang ingin mengetahui Didong, kita akan sampaikan di tempat ini,” ujar Ceh M Din.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan Didong sebagai warisan budaya takbenda nasional yang hidup ditengah masyarakat Gayo serta sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang maestro kepada generasi penerus.

Profil Lengkap Ceh M Din

Ceh M Din menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2025. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjangnya dalam pelestarian didong, pengembangan syair tradisi Gayo. Pembinaan generasi muda Didong, serta kontribusinya menjaga identitas budaya Tanah Gayo melalui seni pertunjukan tradisi.

Penghargaan tersebut menegaskan posisi Ceh M Din sebagai salah satu maestro Didong Gayo yang berpengaruh di tingkat nasional. Ceh M Din dikenal sebagai ceh Didong sejati, yakni seniman yang menciptakan syair, melantunkan vokal, sekaligus memimpin struktur pertunjukan didong. Dalam tradisi Didong, posisi ceh bukan sekadar pelantun, tetapi penggagas gagasan budaya dalam bentuk syair yang merekam nilai adat, nasihat sosial, kritik budaya, serta dinamika kehidupan masyarakat Gayo.

Ia aktif membina kelompok Didong dan melahirkan generasi-generasi penepok serta ceh muda di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Arsip dan Manuskrip Didong

Salah satu kontribusi penting Ceh M Din adalah keberadaan manuskrip syair Didong, dokumentasi pertunjukan, serta rekaman kaset Didong klasik yang selama ini ia simpan sebagai arsip budaya hidup. Arsip inilah yang kelak menjadi koleksi utama museum pribadi yang sedang ia bangun di Pegasing.

Fungsi Utama Museum Pelongohen Seni Tradisi Didong Gayo

Museum yang sedang dirintisnya memiliki beberapa fungsi utama:

  1. Pusat Dokumentasi Didong

    Menyimpan rekaman perjalanan Didong Gayo secara personal dan kolektif.

  2. Ruang Edukasi

    Tempat belajar Didong bagi: siswa, mahasiswa, peneliti, komunitas seni, masyarakat umum.

  3. Ruang Regenerasi Maestro

    Menjadi tempat kaderisasi ceh Didong generasi baru.

  4. Laboratorium Budaya Lokal

    Menghidupkan kembali tradisi bertutur dan bersyair Gayo melalui praktik langsung.

Selama puluhan tahun berkesenian, Ceh M Din dikenal sebagai sosok yang konsisten menjaga struktur tradisi Didong, aktif membina kelompok Didong muda. Kemudian menjadi rujukan definisi “ceh” dalam praktik Didong, terlibat dalam berbagai festival budaya Gayo, berperan dalam penguatan identitas sastra lisan Gayo di ruang nasional.

Pembangunan museum pribadi ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pengabdian seorang maestro tradisi yang tidak hanya berkarya di panggung, tetapi juga menyiapkan warisan pengetahuan bagi generasi masa depan Didong Gayo.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *