"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Hukum  

Ammar Zoni Janji untuk Anak: Daddy Akan Tebus Hancur Dicerai Irish

Pledoi Ammar Zoni yang Menyentuh Hati

Ammar Zoni, seorang aktor ternama, masih menjalani proses peradilan terkait kasus peredaran narkoba yang menimpanya. Kasus ini berawal saat ia sedang menjalani masa penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba. Kini, kasus tersebut telah bergulir ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan memasuki tahapan persidangan yang krusial.

Pada Kamis, 2 April 2026, sidang lanjutan digelar dengan agenda pembacaan nota pembelaan atau pledoi dari pihak Ammar Zoni. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum telah membacakan tuntutan terhadap Ammar dengan hukuman penjara selama 9 tahun dan denda sebesar Rp500 juta.

Dalam sidang tersebut, Ammar tampil mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih. Suasana sidang terasa lebih emosional ketika ia mulai membacakan nota pembelaannya. Isi pledoi yang disampaikannya tidak hanya berisi pembelaan hukum, tetapi juga menyentuh sisi pribadi kehidupannya.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Salah satu momen yang paling menyentuh adalah perpisahan dengan mantan istri, Irish Bella. Ammar menyinggung bahwa perceraian tersebut terjadi di saat dirinya tengah berada di titik terendah akibat kasus narkoba yang menimpanya. Kondisi tersebut semakin memperberat tekanan emosional yang harus ia hadapi.

Ammar juga mengucap janjinya untuk anak-anak. Ia menyampaikan rasa penyesalan atas waktu yang hilang karena kasusnya. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana ia harus menghadapi gugatan cerai dari Irish Bella saat sedang berjuang melawan kecanduan narkoba di panti rehabilitasi.

“Sungguh menyakitkan bukan karena rehabnya, melainkan kabar yang saya terima datang dari mantan istri saya,” ujar Ammar di ruang sidang. Kabar tersebut adalah keinginan Irish Bella untuk mengakhiri rumah tangga mereka.

“Yaitu keinginannya untuk bercerai, meminta saya untuk berikan talak kepadanya,” tambahnya. Ammar mengaku sangat menentang perceraian tersebut. Baginya, keputusan itu bertentangan dengan nilai-nilai keluarga yang ia pegang teguh.

Perasaan Kesepian dan Rasa Bersalah

Ammar mencoba segala cara untuk mempertahankan rumah tangganya, mulai dari memohon, meratap, hingga menangis meminta kesempatan. Namun, keputusan Irish Bella sudah bulat. Momen itu membuatnya merasa diasingkan dan dibuang justru di saat ia paling membutuhkan dukungan.

Ia memposisikan dirinya sebagai orang yang sedang “sakit” karena kecanduan, yang seharusnya dirawat, bukan ditinggalkan. “Kecanduan adalah penyakit otak kronis yang sulit disembuhkan. Lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang?” tanyanya.

Di saat hanya dialah satu-satunya sebagai rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya,” beber Ammar Zoni.

Kesedihan Ammar semakin berlipat saat mengenang kepergian sang ayah, Suhendri Zoni, ketika ia masih berada di balik jeruji besi pada kasus sebelumnya. Ia menyebut ketidakmampuannya mendampingi sang ayah di saat terakhir sebagai dosa besar.

Momen paling menyayat hati adalah ketika ia diizinkan melihat jenazah ayahnya dalam kondisi tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan. Perasaan bersalah inilah yang diakuinya menjadi pemicu depresi berat hingga ia kembali jatuh ke lubang yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya.

Janji Sebagai Ayah

Puncak emosi Ammar meledak saat ia menyampaikan pesan langsung kepada kedua buah hatinya, Air Rumi Akbar dan Amala Puti Sabai Akbar. Ia meratapi banyaknya waktu berharga yang terbuang sia-sia di balik jeruji besi, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melihat mereka tumbuh besar.

“Saya minta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, maafkan Daddy ya,” ucap Ammar terbata. Ia membayangkan momen-momen sederhana sebagai ayah yang kini mustahil ia lakukan.

“Seharusnya Daddy ada melihat kalian tumbuh, mengajari kalian, membacakan cerita sebelum kalian tidur, mengantarkan kalian ke sekolah. Maafkan Daddy.”

Di hadapan Majelis Hakim, Ammar menyampaikan janjinya sebagai seorang ayah. “Daddy janji ini yang terakhir, benar-benar terakhir. Daddy janji besok lusa Daddy akan tebus semua waktu yang pernah hilang,” tegasnya.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *