"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Budaya  

Harta Karun Terlupakan Cirebon Siap Berubah Jadi Taman Budaya

Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang di Cirebon Kembali Jadi Sorotan

Di balik temaram lampu dan bangunan yang tampak mulai menua, Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang di Kota Cirebon mendadak kembali jadi sorotan. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bahkan menyebutnya sebagai ruang bersejarah yang menyimpan jejak panjang ekspresi seni, bak ‘harta karun’ yang lama terabaikan.

Pantauan di lokasi, Jumat (3/4/2026) sore, kedatangan Fadli Zon ke gedung yang berada di kawasan Stadion Bima itu dilakukan usai ia mengunjungi Keraton Kasepuhan. Di dalam gedung, ia tampak serius menelaah dokumen teknis bersama rombongan, sesekali berdiskusi langsung dengan Wali Kota Cirebon Effendi Edo dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Agus Sukmanjaya sambil menunjuk bagian-bagian bangunan yang dinilai perlu pembenahan.

Suasana di dalam aula memperlihatkan kondisi gedung yang masih membutuhkan sentuhan. Panggung dengan kerangka besi berdiri kokoh, namun pencahayaan terlihat minim. Di area tribun, beberapa bagian tampak belum tertata maksimal, memperkuat kesan bahwa gedung ini tengah menanti ‘kehidupan’ baru.

Di tengah peninjauan itu, Fadli Zon tak menutupi kekagumannya terhadap nilai historis gedung tersebut. “Sebuah gedung kesenian yang telah banyak menjadi saksi perjalanan ekspresi seni, ekspresi budaya di masa lalu juga ya,” ujar Fadli Zon, Jumat (3/4/2026).

Ia bahkan mengenang keterlibatan tokoh-tokoh besar dalam dunia teater yang pernah tampil di tempat itu, seperti W.S. Rendra hingga Putu Wijaya. “Saya pernah main tadi di sini, Teater Rendra, Putu Wijaya, siapa saja Bang? Dan banyak mungkin yang lain ya,” ucapnya.

Menurutnya, Gedung Nyimas Rarasantang memiliki potensi besar untuk kembali dihidupkan sebagai pusat aktivitas seni dan budaya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. “Kita ingin gedung kesenian ini menjadi kantong budaya, jadi platform tempat para seniman dan budayawan, khususnya di Cirebon Raya, untuk bisa memanfaatkan gedung ini,” kata dia.

Fadli menegaskan, secara struktur bangunan, gedung tersebut masih dalam kondisi baik. Namun, perlu sentuhan revitalisasi pada bagian interior, eksterior, hingga penataan lingkungan agar lebih representatif dan hidup. “Kalau saya lihat secara strukturnya masih sangat baik. Tinggal bagaimana interiornya, eksteriornya, fasadnya, dan penataan lingkungannya agar lebih kondusif,” katanya.

Ia juga membuka peluang kolaborasi lintas pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga sektor swasta, untuk mewujudkan revitalisasi tersebut. “Nanti kita carikan jalannya bersama-sama. Kita kolaborasi dari kementerian, pemerintah daerah, dan juga swasta. Kita harus melibatkan swasta biar hidup,” ujarnya.

Ia menyebut rencana pengembangan gedung ini menjadi Taman Budaya bisa menjadi langkah strategis, termasuk dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). “Mungkin yang menjadi prioritas pertama adalah bagaimana secara fisik dulu bangunan ini lebih kondusif,” ucap Fadli.

Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengungkapkan, bahwa kunjungan Menteri Kebudayaan ke Cirebon memang membawa dua agenda besar. “Ke Kota Cirebon ada dua agenda. Pertama ke Keraton Kasepuhan terkait rencana revitalisasi keraton-keraton Nusantara,” kata Agus.

Ia menjelaskan, tiga keraton di Cirebon yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan direncanakan akan mendapat dukungan revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan. Agenda kedua, lanjutnya, adalah peninjauan Gedung Nyimas Rarasantang yang tengah diarahkan menjadi Taman Budaya.

“Gedung ini sedang kita transformasi menjadi Taman Budaya. Mudah-mudahan ke depan Kementerian Kebudayaan bisa memberikan bantuan untuk membangun ulang agar lebih representatif,” katanya. Agus menegaskan, keberadaan gedung kesenian tersebut sangat strategis dalam mendorong kemajuan budaya di Cirebon. “Itu cukup besar dan cukup strategis menurut saya untuk pemajuan kebudayaan di Cirebon,” ujarnya.

Kini, Gedung Nyimas Rarasantang seolah berada di persimpangan, antara menjadi bangunan tua yang perlahan dilupakan atau bangkit kembali sebagai pusat denyut seni dan budaya. Dengan sorotan langsung dari pemerintah pusat, harapan itu perlahan mulai menemukan jalannya.




Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *