"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Putri Pengusaha dan Kekasih Penculik: Kisah Stockholm Syndrome

Giovanna Amati, seorang pembalap profesional perempuan asal Italia, pernah menjadi korban penculikan saat berusia 19 tahun. Ada gosip yang menyebutkan bahwa dia jatuh cinta kepada penculiknya, Daniel Nieto.

Kisah Cinta yang Mencengangkan

Dalam lingkaran masyarakat Roma, ada cerita yang menarik dan memicu perbincangan: seorang anak dari keluarga kaya jatuh cinta kepada penculiknya. Bagi sebagian orang, ini terdengar tidak masuk akal, tetapi bagi keluarganya, ini adalah tragedi nyata.

Pada usia 19 tahun, Giovanna diculik. Setelah dibebaskan, ia dikabarkan jatuh cinta pada penculiknya. Namun, dengan berat hati, dia menyerahkan sang penculik kepada polisi ketika mereka bertemu kembali setelah kebebasannya. Meski begitu, Giovanna disebut masih mencintainya. Ini bisa menjadi bahan film yang menarik, tetapi ini adalah kenyataan: tokoh utamanya adalah raja bioskop Giovanni Amati, putrinya yang cantik Giovanna, dan seorang gangster bernama Daniel Nieto yang memiliki hati lembut.

Kisah ini dimulai pada Februari 1978. Nieto, seorang pria asal Perancis Selatan, pindah dari Marseille ke Roma. Ia sebelumnya pernah masuk penjara dan datang ke Roma untuk membentuk “perusahaan penculikan” bersama rekan gangster lain. Setelah lama mencari-cari, mereka memilih Giovanna sebagai korban pertama. Keuangan ayahnya memastikan uang tebusan akan tinggi.

Giovanna adalah gadis dari keluarga baik-baik yang selalu dijaga ketat. Orangtuanya dan para karyawan selalu berusaha memenuhi segala keinginannya. Di istal, dia memiliki kuda sendiri, dan di garasi ada sepeda motor Honda-nya. Di villa Amati, langit-langit di atas ranjang si gadis manis ini terbuat dari damast.

Pada 12 Februari, para gangster menculik Giovanna ketika dia pulang dari sekolah. Dia diikat dan disembunyikan di luar Roma. Di situ, dia dimasukkan ke dalam kandang kayu selama 75 hari. Tawar-menawar berlangsung lama.

Selama itu, Giovanna hanya dijaga oleh salah satu gangster. Namanya Daniel Nieto, berusia 34 tahun. Dialah yang membersihkan pot kotoran si gadis karena dia tidak boleh ke WC. Pada waktu Paskah, dia malah memberi Giovanna sebuah telur coklat.

Ketika putri raja bioskop itu berhasil dibebaskan dengan uang tebusan sekitar 800 juta lira pada 27 April, orangtuanya dikabarkan terheran-heran bahwa putrinya tidak begitu bahagia. Mereka juga mendapat kesan bahwa penjaganya selama dua bulan setengah itu seorang “pria baik-baik” dan penuh cinta kasih.

“Mula-mula dia memukul saya dan saya memukulnya. Tetapi ada kalanya dia bisa sangat lembut. Ketika dia melihat saya menangis, rambut saya dibelainya,” kata Giovanna. “Lalu dia bercerita bahwa dia pernah diusir orangtuanya karena mencuri benda tak berarti dan bagaimana dia lebih lama lebih dalam tenggelam dalam dunia hitam.”

Cinta dari terculik pada penculik sampai tingkat tertentu memang bisa masuk akal. Para psikolog memang tahu beberapa kasus seperti itu. Namun apa yang terjadi pada kedua insan ini sampai sekarang masih merupakan teka-teki.

Kabarnya, si penculik mengirim bunga kepada Giovanna dan menulis surat cinta kepadanya. Kira-kira permulaan Mei di tahun sama, mereka malah membuat janji untuk bertemu, padahal Nieto sudah bisa memperhitungkan kemungkinan gadis itu masih dibayang-bayangi. Nieto sudah berkeluarga dan beranak dua.

Giovanna berjuang melawan diri sendiri dan cintanya. Akhirnya dia memberitahukan polisi tempat pertemuannya. Polisi kriminal dalam pakaian sipil menangkap gangster itu di sebuah cafe di Via Veneto. Nieto membela diri sehingga terjadi pergulatan.

Pers Italia kini memanfaatkan romansa itu, karena sudah bosan terus menerus menulis tentang brigade merah dan terror. Orangtua Giovanna merasa sedih. Kata ibunya, Anna Maria Amati, “Bagaimana dia bisa jatuh cinta kepada orang seperti itu. Anak saya sakit. Akan saya bawa ke dokter. Giovanni Amati juga terpukul. Beberapa hari lamanya si ayah ini mengurung diri di rumahnya, tidak mau bertemu orang lain.”

Hanya Vittoria, kakak perempuan Giovanna, yang ketika itu berusia 21 tahun berkata bahwa “Giovanna telah berubah menjadi baik. Pacar-pacarnya selama ini selalu anak laki-laki sebaya yang kurang dewasa untuk dia. Dia kembali dari penculikan sebagai seorang wanita”.

Giovanna sekarang bisa dituduh menghina pejabat negara dan hakim hakim Nieto ingin melakukan penyelidikan psikiatris untuk menerangkan bagaimana hubungan antara korban dan penculik itu sebetulnya.

Meski begitu, sebagaimana ditulis BBC.com pada 13 November 2015, Giovanna membantah berita “sensasional” terkait adanya hubungan asmara antara dirinya dengan Nieto, pria yang pernah menculiknya, itu. Dia juga sudah enggan membahas kembali masa kelam dalam hidupnya itu.

“Semua berita yang Anda baca di surat kabar itu salah, benar-benar salah. Saat saya bebas, saya hanya ingin kembali ke keluarga saya dan supaya seluruh komplotan itu ditangkap,” katanya. “Itu adalah cerita-cerita yang disebarkan oleh media.”

Bagi yang belum tahu, Giovanna Amati juga adalah seorang pembalap profesional wanita Italia. Dia adalah satu dari sedikit pembalap perempuan di dunia yang pernah ikut balap Formula One (F1).

Apa Itu Sindrom Stockholm?

Secara garis besar, Sindrom Stockholm adalah respons psikologis yang umumnya dikaitkan dengan penculikan dan penyanderaan. Korban yang mengalami sindrom ini memiliki perasaan positif terhadap sang penculik atau pelaku.

Menurut WebMD, Sindrom Stockholm bukan diagnosis psikologis, melainkan cara untuk memahami respons emosional beberapa orang terhadap penculik atau pelaku. Dalam beberapa kasus langka, orang yang tersakiti atau menjadi sasaran pelecehan memiliki perasaan simpati atau pemikiran positif lainnya terhadap sang pelaku.

Kondisi ini dapat terjadi selama berhari-hari, bahkan bertahun-tahun dalam interaksi erat dengan sang pelaku. Para peneliti telah mengidentifikasi Sindrom Stockholm dalam hubungan. Bahkan, dalam konteks kekerasan rumah tangga yang buruk.

Baik dalam kondisi penyanderaan ataupun hubungan, sindrom Stockholm dapat muncul saat pelaku tidak berbuat jahat atau menghentikan pelecehan dalam beberapa kurun waktu tertentu atau secara permanen. Dalam konteks hubungan, proses penghentian kekerasan itu disebut fase bulan madu, ketika pelaku meminta maaf dan berjanji untuk menghentikan pelecehan.

Sindrom Stockholm diduga telah terjadi sejak beberapa abad lalu. Namun, kondisi ini baru dikenal secara umum dan dinamai pada tahun 1973.

Ketika itu dua pria bernama Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson menyandera empat orang selama enam hari dalam perampokan bank di Stockholm, Swedia. Setelah para sandera dibebaskan, keempat sandera itu menolak untuk bersaksi melawan para penculik mereka dan bahkan mengumpulkan uang sebagai bentuk pembelaan.

Para sandera mengungkapkan bahwa Olsson dan Olofsson memperlakukan mereka dengan baik dan tidak menyakiti mereka.

Psikolog dan ahli kesehatan mental kemudian menetapkan istilah “sindrom Stockholm” untuk kondisi di mana sandera mengembangkan hubungan emosional atau psikologis dengan sang penahan.

Meski menjadi sebuah kondisi yang dikenal umum, sindrom Stockholm tidak diakui oleh The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi terbaru (DSM-5), yang merupakan panduan yang digunakan ahli kesehatan mental atau spesialis lain untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental.

Hingga saat ini, penyebab Sindrom Stockholm belum sepenuhnya diketahui oleh banyak peneliti, psikolog, ataupun kriminolog. Masih ada perdebatan jika sindrom ini merupakan sesuatu yang nyata.

Menurut Medicalnewstoday, para ahli menduga bahwa sindrom Stockholm dapat berkembang saat:
– penculik memperlakukan korbannya secara manusiawi
– tawanan dan penculik memiliki interaksi tatap muka yang signifikan, memberikan peluang untuk terikat satu sama lain
– para tawanan merasa bahwa aparat penegak hukum tidak melakukan pekerjaan mereka dengan cukup baik
– tawanan berpikir bahwa polisi dan pihak berwenang lainnya tidak memiliki komitmen yang kuat

Beberapa tanda yang dapat timbul pada penderita Stockholm Syndrome: korban mengembangkan perasaan positif terhadap pelaku; korban mengembangkan perasaan negatif terhadap polisi atau pihak berwenang lainnya yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari sang pelaku; korban mungkin menolak untuk bekerja sama melawan sang pelaku; korban mulai memahami pola pikir sang pelaku dan merasa mereka memiliki tujuan dan nilai yang sama; dan korban merasa iba dengan sang pelaku.

Setelah bebas, korban mungkin akan tetap memiliki perasaan positif terhadap sang pelaku. Namun, terdapat kemungkinan mereka juga akan mengalami: kilas balik, depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, perasaan bersalah, kebingungan, hingga rasa malu akan perasaan mereka terhadap pelaku.

Jika menduga bahwa Anda atau orang di sekitar Anda memiliki sindrom Stockholm, segera cari bantuan. Dalam jangka pendek, terapi dan perawatan psikologis untuk gangguan stres pascatrauma dapat membantu meringankan masalah langsung terkait pemulihan seperti kecemasan dan depresi.

Psikoterapi jangka panjang juga dapat menjadi alternatif penanganan. Ahli kesehatan mental akan mengajarkan cara yang tepat untuk memahami hal yang terjadi dan bagaimana cara untuk bergerak maju.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *