Perayaan Grebeg Getuk 2026 di Magelang: Kehidupan Budaya yang Bersemangat
Puncak perayaan Grebeg Getuk 2026 di Alun-Alun Kota Magelang, Minggu, 12 April 2026, berlangsung dengan penuh semarak melalui pagelaran sendratari kolosal Babar Mahardika. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang dan sukses menarik perhatian warga dengan kemegahan visual, kekuatan cerita sejarah, serta keterlibatan ratusan seniman lintas komunitas.
Sendratari ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jantung narasi budaya yang menghidupkan kembali jejak sejarah lahirnya Magelang sebagai wilayah bumi perdikan. Sutradara sendratari, Gepeng Nugroho, menjelaskan bahwa tema tahun ini sengaja dibuat lebih tajam dengan menonjolkan prosesi penganugerahan bumi perdikan oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, raja besar Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang memerintah sekitar 898–910 M.
“Tema tahun ini kami pertegas pada prosesi bumi perdikannya. Dari awal di Taman Budaya Mantyasih ada fragmen kemegahan era Dyah Balitung dengan setting kerajaan, lalu di alun-alun ini settingnya masyarakat yang dianugerahi bumi perdikan,” ujarnya.
Menurut Gepeng, kisah yang diangkat berangkat dari sejarah Magelang sebagai wilayah transit penting pada abad ke-9. Saat itu, kawasan ini menjadi persinggahan para peziarah dan pelaku ritual dari Jawa bagian timur menuju Dieng dan Sindoro. Dari pertemuan berbagai kelompok masyarakat itu, terjadi akulturasi budaya yang memicu pertumbuhan ekonomi dan pertanian. Kehidupan masyarakat pun berkembang menjadi lebih makmur.
“Wilayah ini dulu gemah ripah loh jinawi. Perekonomian meningkat, pertanian ikut berkembang, lalu masyarakat hidup sejahtera,” katanya.
Narasi sejarah itu kemudian mencapai puncaknya saat masyarakat digambarkan bangkit melawan gangguan keamanan dan perampokan. Peristiwa tersebut sampai ke telinga Raja Dyah Balitung yang kemudian memberikan status bumi perdikan, yakni pembebasan dari pungutan pajak sebagai bentuk penghargaan.
Sebagai wujud rasa syukur, prosesi tersebut disambungkan dengan tradisi grebegan sebagai simbol syukuran bersama. “Jadi Grebeg Getuk dan sendratari ini satu kesatuan cerita, bukan acara yang terpisah,” tegas Gepeng.
Kemegahan pementasan juga tampak dari jumlah personel yang terlibat. Sedikitnya 600 an orang ambil bagian dalam acara ini, terdiri atas 250 penari kolosal, 35 pengrawit, 120 pasukan bergada, hingga para penampil dari berbagai sanggar seni dan sekolah. Sejumlah institusi pendidikan dan komunitas yang terlibat antara lain SMK Negeri 1, SMK Negeri 2, SMA Negeri 2, SMA Negeri 4, SMK Negeri 3, SMK 17, komunitas Sigrabawono, Komunitas Kiai Tuk Songo, Sanggar Sekar Hima dan Malanggati.
Latihan untuk pementasan ini dilakukan selama sekitar satu setengah bulan. Sementara itu, Walikota Magelang Damar Prasetyono mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam kemeriahan Grebeg Getuk tahun ini.
“Terima kasih kepada masyarakat, seniman, dan budayawan. Perayaan Grebeg Getuk 2026 berjalan rapi, lancar, dan menampilkan berbagai seni budaya lokal yang luar biasa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perubahan rute prosesi yang kini dimulai dari Pendopo Alun-Alun di eks Balai Diklat Kepemimpinan BPPK menuju Alun-Alun Kota Magelang dengan berjalan kaki bersama. Perubahan itu dinilai membuat rangkaian acara terasa lebih menyatu, sekaligus memperkuat pengalaman budaya bagi masyarakat.
Lewat Babar Mahardika, Grebeg Getuk tahun ini tak hanya meriah, tetapi juga berhasil menerjemahkan sejarah Magelang menjadi pertunjukan budaya yang hidup, dekat, dan mudah dipahami generasi muda.










