Seorang ibu dan bayi yang dikandungnya meninggal saat menjalani proses persalinan di sebuah rumah sakit (RS) di Jayapura, Papua. Kejadian ini memicu protes dari keluarga pasien terhadap tindakan medis, sementara pihak rumah sakit mengklaim bahwa penanganan sesuai dengan standar prosedur. Kasus ini kembali mengangkat isu tentang jumlah dokter yang terbatas di daerah-daerah terpencil.
Pada Senin (29/12), manajemen Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura, Papua, menggelar pertemuan dengan keluarga pasien untuk membahas kasus meninggalnya Martha Ngurmetan dan bayinya saat proses persalinan. Dalam pertemuan tersebut, pihak rumah sakit menyampaikan kronologi versi medis, hasil evaluasi awal internal, serta rencana pelaksanaan audit maternal yang akan melibatkan pihak eksternal. Namun, keluarga merasa tidak puas dengan penjelasan yang diberikan dan menyatakan kemungkinan menempuh jalur hukum untuk mendapatkan kejelasan dan pertanggungjawaban atas penanganan medis yang diterima almarhumah.
Peristiwa ini juga memunculkan kembali pertanyaan penting tentang keberadaan sistem kerja tim yang solid di rumah sakit daerah. Selain itu, kasus ini kembali menghidupkan isu jumlah dokter yang terbatas di daerah, sehingga membuat pelayanan rentan terganggu jika satu orang berhalangan.
Kronologi Versi Keluarga
Suami Martha Ngurmetan, Maikel Pariama, menceritakan bahwa istrinya dibawa ke RS Marthen Indey Jayapura sekitar pukul 09.30 WIT untuk menjalani persalinan. Menurut Maikel, saat berangkat dari rumah kondisi istrinya masih dalam keadaan sadar dan belum merasakan nyeri. Setelah sampai di rumah sakit, ia langsung diarahkan dari IGD.
Setelah pemeriksaan awal, seorang perawat menyampaikan bahwa kondisi istrinya masih berada pada pembukaan pertama. Pasien kemudian diarahkan ke ruang bersalin sekitar pukul 10.30 WIT. Maikel mengatakan bahwa setelah istrinya berada di ruang bersalin, ia diminta oleh pihak rumah sakit untuk membeli obat dan mengantar sampel darah ke laboratorium. Ia menyebut bahwa resep obat dikeluarkan dari IGD dan harus dibeli di luar rumah sakit.
Setelah kembali ke ruang bersalin, Maikel menyebut bahwa istrinya telah diberikan obat perangsang persalinan oleh perawat. Ia mengatakan keluarga tidak mendapatkan penjelasan tentang jenis obat yang diberikan maupun kemungkinan efek sampingnya. “Setelah perangsang itu, dia mulai merasakan sakit,” ujar Maikel.
Menurut Maikel, sejak siang hingga malam hari istrinya terus mengeluhkan nyeri. Ia menyebut dalam rentang waktu tersebut mereka tidak melihat adanya tindakan lanjutan yang signifikan selain pemantauan dasar oleh tenaga medis. Kondisi istrinya mulai memburuk menjelang subuh, sekitar pukul 02.00 WIT. Perawat disebut sempat memeriksa denyut jantung pasien dan bayi, dan menyampaikan bahwa denyut jantung masih terdeteksi. Namun, Maikel menyatakan tidak mengetahui adanya tindakan medis lanjutan setelah pemeriksaan tersebut dilakukan.
“Yang membuat saya kecewa, saat kondisi istri saya sudah kritis, dokter yang menangani tidak berada di tempat. Menurut saya, dokter baru datang ketika istri saya sudah tidak bergerak,” kata Maikel. Dokter yang dimaksud adalah dr. David Randel Christanto.
Kronologi Versi Rumah Sakit
Pihak Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura menyatakan telah melakukan evaluasi awal terhadap penanganan medis dalam kasus ini. Manajemen rumah sakit juga menyatakan akan membuka ruang audit untuk menelusuri penyebab kematian tersebut. Kepala RS Marthen Indey Jayapura, Kolonel Ckm dr. Rudy Dwi Laksono, mengatakan berdasarkan penilaian awal internal, penanganan pasien telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Meski demikian, pihak rumah sakit tetap akan melakukan audit maternal untuk memastikan seluruh tahapan penanganan dapat dipertanggungjawabkan. Audit tersebut rencananya akan melibatkan berbagai pihak eksternal, termasuk Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Jayapura dan Provinsi Papua, serta organisasi profesi.
Terkait keluhan keluarga mengenai kehadiran dokter spesialis saat kondisi pasien memburuk, dr. Rudy menyebutkan bahwa rumah sakit memiliki tiga dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Namun, pada periode Natal dan Tahun Baru, sistem pelayanan dilakukan dengan pengaturan giliran dan mekanisme on call.
Penjelasan Dokter yang Menangani Persalinan
Menurut penjelasan tertulis yang dibacakan langsung oleh dr. David Randel Christanto di hadapan keluarga pasien, Martha Ngurmetan bersama keluarga datang ke RS Marthen Indey Jayapura pada Jumat (26/12) sekitar pukul 09.40 WIT dengan usia kehamilan 37–38 minggu. Pasien datang membawa surat pengantar dari poliklinik obstetri RS Marthen Indey yang diterbitkan pada 18 Desember 2025, dengan rencana persalinan melalui induksi menggunakan misoprostol.
Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa tindakan operasi sesar akan dipertimbangkan apabila persalinan tidak terjadi hingga 26 Desember 2025. Dr. David membuat klaim, berdasarkan pemeriksaan awal di IGD kebidanan sekitar pukul 09.45 WIT, kondisi umum ibu dilaporkan baik dengan tekanan darah 127/87 mmHg, nadi 74 kali per menit, suhu tubuh 36,8 derajat Celsius, serta denyut jantung janin sekitar 150 kali per menit.
Pemeriksaan dalam menunjukkan pembukaan serviks satu sentimeter dengan ketuban masih utuh dan kepala janin mulai masuk pintu atas panggul. Sekitar pukul 11.00 WIT, pasien dipindahkan ke ruang bersalin. Menurut keterangan dr. David, pasien dan suaminya menyatakan ingin menjalani persalinan normal dan menyetujui tindakan induksi setelah mendapatkan penjelasan medis serta menandatangani persetujuan tindakan (informed consent).
Induksi dilakukan menggunakan misoprostol dosis seperdelapan tablet, sesuai protokol, dengan evaluasi berkala setiap enam jam. Dalam kronologi tersebut, kata dr. David lagi, sepanjang siang hingga malam hari, kondisi ibu dan janin masih terpantau stabil. Denyut jantung janin dilaporkan berada dalam rentang normal, sementara pembukaan serviks bertambah secara perlahan.
Pemberian induksi dilakukan dua kali, dan selanjutnya dihentikan ketika pembukaan mendekati fase aktif persalinan. Memasuki dini hari Sabtu (27/12), sekitar pukul 02.30 WIT, ketuban pasien dilaporkan pecah secara spontan dengan cairan ketuban jernih. Pemeriksaan menunjukkan pembukaan hampir lengkap, sekitar sembilan sentimeter, dan kepala janin sudah turun.
Tidak lama setelah itu, pasien disebut mengalami penurunan kondisi secara mendadak. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa pasien mengalami henti napas dan henti jantung. Tim medis segera melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP), pemberian oksigen, serta injeksi obat emergensi. Upaya resusitasi dilakukan berulang kali, namun kondisi pasien tidak menunjukkan perbaikan.
Sekitar pukul 03.30 WIT, pasien dinyatakan meninggal dunia. Dalam penjelasan kepada keluarga, dr. David menyampaikan dugaan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh emboli air ketuban, yakni komplikasi obstetri yang terjadi secara tiba-tiba dan sulit diprediksi, ketika cairan ketuban masuk ke aliran darah ibu dan memicu henti jantung mendadak.
Tanggapan Pemprov Papua
Kepala Dinas Kesehatan Papua, Arry Pongtiku, mengatakan kasus meninggalnya ibu dan bayi saat persalinan ini diharapkan menjadi pelajaran untuk memperbaiki mutu pelayanan kesehatan ke depan. “Mudah-mudahan dengan kasus-kasus seperti begini, pelayanan akan menjadi lebih baik lagi dan kewaspadaan juga akan lebih baik lagi,” kata Arry.
Ia menyebut pemerintah provinsi telah melaporkan kasus tersebut kepada Gubernur Papua dan memastikan akan menindaklanjutinya. “Kami sudah laporkan ke Bapak Gubernur dan tentu kasus ini akan kami follow up,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai tanggung jawab pemerintah provinsi dalam memastikan kesiapan rumah sakit rujukan, Arry menegaskan bahwa setiap rumah sakit minimal harus memiliki tenaga medis spesialis yang memadai. “Semua rumah sakit itu minimal harus punya dokter spesialis. Minimal seharusnya dua atau tiga,” katanya.
Namun Arry mengakui keterbatasan jumlah dokter spesialis masih menjadi tantangan besar di Papua. Karena itu, penguatan layanan kesehatan primer dan sistem rujukan dinilai menjadi kunci. “Karena keterbatasan dokter spesialis, kekuatan juga harus dari puskesmas dan dokter praktik umum dalam merujuk pasien. Selain itu, kita harus memperkuat SIRS online, sistem rujukan rumah sakit, supaya kalau ada pasien yang mau dirujuk, rumah sakit tujuan benar-benar siap,” jelasnya.
Pandangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Papua, dr. Donald Willem Aronggear, bilang tantangan terbesar pelayanan kesehatan di Papua tak hanya pada minimnya fasilitas kesehatan, tapi juga upaya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para dokter yang bertugas di wilayah terpencil. Menurut dr. Donald, banyak dokter enggan bertugas di Papua karena merasa kondisi kerja kurang mendukung. Padahal, kenyamanan dan keamanan bekerja sangat berpengaruh pada kinerja tenaga medis.
“Kalau mereka merasa nyaman, mereka akan bekerja dengan lebih baik. Kenyamanan itu bisa dalam bentuk insentif layak, jaminan pendidikan anak, dan kehidupan sosial yang stabil,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan sistem kerja tim yang solid di rumah sakit-rumah sakit daerah. Jumlah dokter yang terbatas membuat pelayanan rentan terganggu jika satu orang berhalangan.
“Kita harus memastikan ada cukup dokter agar pelayanan tidak lumpuh hanya karena satu dokter sakit atau cuti,” katanya. Selain itu, dr. Donald menilai bahwa tantangan koordinasi antartenaga kesehatan masih menjadi hambatan. Menurutnya, program-program nasional seperti penurunan stunting dan pemberantasan penyakit menular hanya bisa berhasil jika dokter, perawat, bidan, dan tenaga gizi bekerja sebagai satu tim.
Hal lain yang tak kalah penting, katanya, adalah memperkuat pendidikan kedokteran di Papua, termasuk untuk spesialis. “Saat ini, untuk jadi spesialis, dokter masih harus sekolah ke Jawa dulu. Ke depan, harus ada lembaga pendidikan spesialis di Papua agar regenerasi tenaga medis tidak tersendat,” tuturnya. Jika semua persoalan ini tidak ditangani secara sistemik, pelayanan kesehatan di Papua akan terus menghadapi masalah berulang. “Yang kita perlukan adalah sistem yang kuat, bukan solusi tambal sulam.”
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











