Siklon Tropis Vaianu Menghancurkan Pesisir Pulau Utara, Selandia Baru
Siklon tropis Vaianu menghantam daratan pesisir Pulau Utara, Selandia Baru, pada Minggu (12/4/2026). Badai yang dianggap oleh para ahli meteorologi sebagai salah satu sistem cuaca paling berbahaya di Pasifik Selatan tahun ini menyebabkan banjir bandang, pemadaman listrik massal, dan memaksa ratusan warga untuk mengungsi dari zona bahaya.
Kombinasi angin kencang, hujan lebat, dan gelombang laut raksasa menyebabkan kerusakan signifikan di berbagai wilayah strategis. Pemerintah setempat segera menetapkan status darurat agar bantuan personel dan alat berat dapat dikerahkan dengan cepat guna menyelamatkan warga.
Layanan cuaca nasional, MetService, telah mengeluarkan peringatan tertinggi. Meski pusat badai mulai bergerak menjauh menuju Hawke’s Bay pada Minggu malam, otoritas berwenang tetap meminta warga waspada terhadap ancaman tanah longsor dan luapan air sungai.
Siklon Vaianu Masuk ke Semenanjung Maketu dengan Angin Kencang
Siklon tropis Vaianu menyapu wilayah Semenanjung Maketu sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Badai ini membawa angin sangat kencang dengan kecepatan lebih dari 130 kilometer per jam. Berdasarkan pantauan satelit, putaran angin yang kuat ini mampu merobohkan pohon-pohon besar, memutuskan jaringan listrik, hingga merusak bangunan rumah di wilayah Bay of Plenty.
Selain angin yang merusak, hujan ekstrem juga mengguyur Kota Whangarei. Sementara itu, ombak raksasa setinggi lebih dari enam meter terpantau menghantam pesisir timur Pulau Utara.
“Siklon Vaianu masih berada di jalurnya dan akan membawa angin yang merusak, hujan lebat, serta gelombang besar. Kami mengeluarkan peringatan merah karena angin sekencang ini bisa mengancam nyawa akibat benda-benda yang beterbangan atau pohon tumbang. Kerusakan luas pada kabel listrik dan atap rumah juga sangat mungkin terjadi,” kata Meteorolog Senior MetService, John Law, dilansir Malay Mail.
Pemadaman Listrik di Lebih dari 5 Ribu Rumah
Dampak badai langsung terasa dengan terputusnya aliran listrik di lebih dari 5 ribu rumah. Hingga Minggu sore, petugas lapangan baru berhasil memulihkan jaringan untuk sekitar 2 ribu pelanggan. Kerusakan terparah terjadi di Distrik Whakatane, di mana naiknya air laut ke daratan memaksa 270 keluarga di Ohope dan Thornton segera mengevakuasi diri.
Pasukan Pertahanan Selandia Baru (NZDF) juga telah diterjunkan ke lokasi untuk membantu evakuasi warga yang terjebak banjir dan membersihkan akses jalan utama yang tertutup material badai.
Menteri Manajemen Darurat Selandia Baru, Mark Mitchell, memuji kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana ini. Kendati demikian, ia tetap memberikan peringatan serius mengenai ancaman pasang air laut yang menyertai badai.
“Badai ini bergerak lebih ke arah pinggiran dan ke timur, jadi dampaknya tidak separah yang kita takutkan sebelumnya. Ini kabar baik, tapi selama 12 jam ke depan kita harus tetap waspada karena badai akan semakin kuat saat bergerak dan mendekat,” ujar Mitchell, dilansir Channel News Asia.
Penerbangan Dibatalkan dan Pusat Bantuan Mulai Dibuka
Merespons krisis yang meluas, pemerintah telah membuka berbagai pusat bantuan darurat di Helensville, Warkworth, dan Ellen Melville Centre bagi warga yang tempat tinggalnya rusak. Cuaca ekstrem ini juga melumpuhkan sektor transportasi darat maupun udara. Maskapai Air New Zealand terpaksa membatalkan lebih dari 90 penerbangan domestik.
Di sektor maritim, Pelabuhan Tauranga ditutup total untuk seluruh aktivitas pelayaran demi alasan keselamatan. Sementara itu, pihak militer terus disiagakan di titik-titik rawan guna memastikan distribusi bantuan logistik bisa menembus daerah yang terisolasi akibat longsor.
Kepala Berita Cuaca MetService, Heather Keats, mengingatkan publik bahwa masa krisis belum sepenuhnya berlalu.
“Cuaca memang diprediksi akan membaik mulai nanti malam hingga besok. Namun, untuk saat ini, sistem cuaca tersebut masih sangat berbahaya dan mengancam keselamatan nyawa,” kata Keats.











