JAKARTA,
Konsumsi ikan dari perairan tercemar dapat membawa risiko serius bagi kesehatan manusia. Hal ini terutama berlaku jika kebiasaan tersebut dilakukan secara rutin dan dalam jangka panjang. Salah satu jenis ikan yang saat ini menjadi perbincangan adalah ikan sapu-sapu, yang merupakan spesies invasif yang hidup dan berkembang biak di sungai-sungai perkotaan Jakarta, termasuk Sungai Ciliwung.
Menurut Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, pakar penyakit dalam dari Universitas Indonesia, bahaya utama dari ikan sapu-sapu bukan terletak pada jenisnya, melainkan pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup. Ia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu bisa tercemar oleh berbagai bakteri, kuman, serta logam berat yang ada di lingkungan airnya.
“Pertama, tentu saja berbahaya jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam, logam berat yang ada pada ikan tersebut,” ujar Ari saat dihubungi.
Menurut Ari, masalah tidak berhenti pada tahap penangkapan ikan dari sungai tercemar. Risiko justru meningkat ketika ikan tersebut dikonsumsi tanpa pemahaman yang cukup mengenai kandungan cemarannya. Ia menegaskan bahwa banyak masyarakat beranggapan bahwa proses memasak dapat menghilangkan seluruh risiko kesehatan. Namun, dalam konteks pencemaran logam berat, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Di satu sisi kadar logam berat pun juga tidak bisa hilang dengan proses pemasakan,” kata dia.
Dampak konsumsi ikan tercemar bisa muncul dalam dua fase. Pada jangka pendek, gejalanya bisa langsung dirasakan oleh tubuh, seperti muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang sudah tercemar. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjang yang sering kali tidak disadari masyarakat karena berlangsung perlahan. Dalam jangka panjang, konsumsi ikan tercemar bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver pada pasien tersebut.
Ari menegaskan pentingnya kebijaksanaan masyarakat dalam memilih sumber pangan, terutama ikan. Ia menekankan bahwa paparan logam berat bersifat akumulatif. Artinya, meski dampaknya tidak langsung terasa, risiko kesehatan akan meningkat seiring frekuensi konsumsi.
Sejalan dengan peringatan medis tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) juga menegaskan bahwa ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari sungai tercemar tidak dapat disamakan dengan ikan konsumsi pada umumnya. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu secara biologis memang bukan ikan beracun. Namun, faktor lingkungan menjadikannya berisiko tinggi.
“Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar,” ujar Hasudungan.
Bahkan, dalam kondisi budidaya pun ikan tersebut tetap harus melalui pengujian ketat. “Dalam kondisi inipun masih harus disertai dengan uji laboratorium (logam berat maupun mikrobiologi),” kata dia.
Berbeda dengan ikan budidaya, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar menghadapi risiko berlapis. “Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi dan kontaminan lain seperti E-coli yang berbahaya jika dikonsumsi,” ujar Hasudungan.
Secara regulasi, ikan tangkapan liar dari sungai tercemar tidak memiliki jaminan keamanan pangan. Ikan tersebut juga tak dapat dipastikan keamanannya untuk dikonsumsi. Standar keamanan ikan di Indonesia mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), yang mengatur ambang batas maksimal kontaminan berbahaya.
Namun, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar umumnya berada di luar sistem pengawasan tersebut. Berdasarkan penelitian yang ada menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu dari sungai tercemar (misal Ciliwung) dapat mengandung berbagai logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan lainnya. Logam berat tersebut bersifat bioakumulatif dan cenderung terakumulasi dalam tubuh ikan, meningkatkan risiko keracunan kronis jika dikonsumsi rutin.
Selain logam berat, risiko biologis juga mengintai. Ikan yang hidup di perairan yang tercemar juga berpotensi membawa bakteri patogen atau parasit yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau infeksi jika tidak dimasak dengan benar.
Meskipun risiko kesehatan dan peringatan pemerintah sudah jelas, praktik penangkapan ikan sapu-sapu masih berlangsung di lapangan. Di tepi Sungai Ciliwung, tepatnya di bawah Jembatan Kalibata, Jakarta Selatan, sekelompok warga tampak sibuk mengolah ikan sapu-sapu di atas rakit apung berwarna hijau cerah. Dengan pisau kecil, mereka menyayat kulit keras ikan sapu-sapu yang menyerupai perisai. Kulit hitam dan kasar dipisahkan dari daging kemerahan yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Beberapa pedagang siomay juga menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan bakunya. Meski demikian, konsumen mulai selektif dalam memilih jajanan. Seorang pekerja bernama Rahma mengaku sebelumnya sering membeli siomay kaki lima, namun kini ia lebih waspada setelah mengetahui adanya pedagang yang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku.
Rahma berharap adanya keterbukaan dari pedagang kepada konsumen terkait bahan pangan yang digunakan. “Paling enggak kita sebagai pembeli dikasih tahu. Jadi bisa milih, atau enggak ada tulisan gitu di gerobaknya kalau dari ikan sapu-sapu,” ujar Rahma.











