Kritik terhadap Transparansi Informasi Terapi Pengganti Ginjal di Indonesia
Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menilai pemerintah gagal memberikan transparansi informasi mengenai pilihan terapi pengganti ginjal, khususnya dalam momen peringatan World Kidney Day (WKD) 2026 yang mengusung tema “Kesehatan Ginjal untuk Semua – Merawat Manusia, Melindungi Bumi”. KPCDI menyatakan bahwa kurangnya akses informasi ini menyebabkan pasien terjebak dalam layanan mesin cuci darah (Hemodialisis/HD), sehingga memicu pembengkakan anggaran BPJS Kesehatan yang tidak terkendali.
Data Menunjukkan Dominasi Hemodialisis
Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024, dari total 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen hanya menjalani hemodialisis (HD). Sementara itu, terapi alternatif seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya mencakup 2 persen, dan angka transplantasi ginjal, yang secara medis merupakan solusi terbaik, masih tertahan di bawah 1 persen.
Menurut Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, hal ini menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal di Indonesia seolah digiring langsung ke mesin cuci darah tanpa penjelasan utuh mengenai opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar masalah medis, tetapi juga pelanggaran hak pasien atas informasi.
Ketergantungan pada HD Memicu Krisis Layanan
Tony mengungkapkan bahwa ketergantungan hampir total pada mesin cuci darah membuat Indonesia bergerak menuju krisis layanan. Dengan jumlah pasien yang terus bertambah, kapasitas layanan tidak mampu mengejar, antrean pasien semakin panjang, dan beban anggaran kesehatan berpotensi meledak.
Data BPJS Kesehatan tahun 2019 menunjukkan bahwa beban biaya penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun, dan melonjak tajam menjadi Rp11 triliun pada 2024. Jika tidak dilakukan perubahan strategi layanan ginjal nasional, tekanan terhadap sistem pembiayaan kesehatan berpotensi meningkat secara signifikan dalam 10–20 tahun ke depan.
Masalah Kualitas Hidup dan Tingkat Kematian
Selain itu, dari sisi kualitas hidup, terapi HD diketahui memiliki tingkat kesejahteraan pasien yang lebih rendah dibandingkan terapi pengganti ginjal lainnya. Data IRR menunjukkan angka kematian pasien HD masih sangat tinggi, yaitu lebih dari 90 ribu jiwa pada tahun 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada tahun 2024.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kebutuhan infrastruktur layanan juga akan meningkat secara signifikan. Penambahan pasien gagal ginjal setiap tahun menuntut penambahan mesin HD, ruang layanan, dan tenaga kesehatan terlatih. Tanpa peningkatan kapasitas layanan dan tersedianya pilihan terapi, nyawa pasien akan terus menjadi taruhan.
Kurangnya Edukasi dan Akses Informasi
Tony menyoroti bahwa selama bertahun-tahun ketimpangan informasi terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengenal CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas, bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi.
Bersamaan dengan momentum Hari Ginjal Sedunia tahun ini, KPCDI mendesak pemerintah untuk segera melakukan reformasi sistem layanan ginjal nasional. Ia menegaskan bahwa pasien harus menjadi subjek yang menentukan nasibnya sendiri, bukan sekadar objek pengobatan seumur hidup. Ketika informasi terapi disembunyikan atau dipersulit aksesnya, maka ini bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan.
Rekomendasi dan Tuntutan
Oleh karena itu, pemerintah dan tenaga kesehatan wajib memastikan setiap pasien mendapatkan edukasi lengkap mengenai seluruh pilihan terapi HD, CAPD, maupun transplantasi ginjal sebelum dialisis pertama dimulai. Di saat yang sama, akses transplantasi harus diperluas dan hambatan biaya diturunkan agar pasien memiliki peluang hidup yang lebih baik, bukan terjebak seumur hidup pada mesin cuci darah.
KPCDI juga mendorong Home Dialysis untuk mengurangi tekanan pada fasilitas kesehatan dan beban anggaran negara. Pencegahan dan deteksi dini, menurutnya, harus menjadi prioritas, mengingat 90 persen pasien tidak menyadari penyakitnya hingga stadium lanjut.
Tantangan yang Harus Diatasi
“Jika tema World Kidney Day tahun ini adalah ‘Kesehatan Ginjal untuk Semua’, maka sistem layanan ginjal di Indonesia juga harus memberikan pilihan terapi yang adil bagi setiap pasien,” tegas Tony.











