Masyarakat dan Kekurangan Darah: Tantangan yang Perlu Dihadapi
Masyarakat menuntut kesehatan sebagai hak, tetapi sering kali merendahkan salah satu profesi yang membuat hak tersebut bisa terwujud. Ini bukan sekadar masalah stigma, tetapi kegagalan moral kita dalam memaknai kerja manusia. Di Indonesia, terdapat kekurangan stok darah nasional yang hampir menyentuh angka 1 juta kantong per tahun. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya orang yang menolak donor darah hanya karena kurangnya edukasi, takut jarum, atau percaya mitos kesehatan yang sudah usang.
Kita hidup di era informasi yang terbuka, tetapi masyarakat tetap memilih rasa takut daripada fakta. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pengumpulan darah di Indonesia mencapai sekitar 4,1 juta kantong dari target 5,1 juta kantong, jauh di bawah standar WHO yang merekomendasikan 2% dari populasi sebagai pendonor aktif. Ini menunjukkan adanya hambatan dalam meningkatkan jumlah donor darah di dalam negeri.
Mengapa Stigma Terhadap Donor Darah Masih Ada?
Ketakutan terhadap jarum, kekhawatiran berlebihan, hingga mitos kesehatan terus diwariskan tanpa evaluasi. Riset Sari & Farista (2025) menunjukkan bahwa rasa takut yang tidak berdasar ini menjadi hambatan utama donor darah. Ironisnya, alasan-alasan itu terus diwariskan tanpa pernah diperiksa kebenarannya. Kita cenderung mempercayai informasi jika sesuatu terdengar masuk akal bagi kita, terutama ketika informasi tersebut berasal dari orang terdekatnya. Hal ini dinamakan cognitive ease yang berarti kecenderungan otak untuk percaya atau menerima sesuatu yang terasa familiar atau mudah diproses, daripada sesuatu yang membutuhkan pemikiran dan analisis mendalam.
Ketika pendengar juga dekat dengan pemberi informasi, ia merasakan kedekatan emosional sehingga menerima informasi tanpa memvalidasi hal tersebut. Sikap masyarakat seperti inilah yang menjadi akar persoalan. Kita menginginkan layanan kesehatan yang cepat dan memadai, tetapi enggan berkontribusi pada bagian paling sederhana dari sistem itu, yaitu menyumbangkan 350 ml darah.
Kurangnya Edukasi dan Mitos yang Menghambat
Kurangnya edukasi masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan stigma terhadap donor darah. Jika kita masih mengklaim diri sebagai warga yang peduli sesama, sudah waktunya berhenti mempercayai mitos dan mulai memahami. Mulai dari bagaimana darah diambil, dampaknya bagi tubuh, hingga siapa yang berwenang melakukan prosedurnya, semuanya adalah informasi penting yang perlu dipahami masyarakat dengan jelas. Masyarakat harus memiliki keinginan untuk mengerti. Edukasi tentang pelaku flebotomi semestinya membantu masyarakat memahami proses pengambilan darah yang aman dan profesional.
Tenaga Flebotomi sebagai Pelaku Pengambilan Darah
Tanpa kepercayaan dan pemahaman tentang peran pelaku flebotomi, sebesar apapun kampanye donor darah akan menjadi hal yang sia-sia. Pelaku flebotomi umumnya berasal dari jurusan Teknologi Laboratorium Medik (TLM). Mereka adalah tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan khusus dalam teknik pengambilan darah (flebotomi) dan pemahaman tentang pemeriksaan di laboratorium. Flebotomis bertanggung jawab melakukan prosedur pengambilan darah vena secara tepat, aman, dan higienis sebagai bahan pemeriksaan laboratorium. Pastinya, pelaku flebotomi sudah memenuhi standar dan etika kesehatan.
Meski begitu, saat proses donor darah, masih ada oknum yang mengalami rasa takut hingga membebankan perasaan itu pada pelaku flebotomi. Kita menyalahkan tenaga kesehatan sebagai penyebab rasa sakit atau trauma, tanpa berusaha menghilangkan ketakutan yang diwariskan tanpa berpikir. Ketidaknyamanan dan rasa takut itu hal yang wajar. Namun, perlu dipahami bahwa hal ini sebaiknya jangan dibebankan ke orang lain, termasuk pelaku flebotomi.
Di sisi lain, flebotomis sering dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat karena peran mereka yang “hanya mengambil darah,” sehingga dianggap kurang penting dibanding tenaga medis lain seperti dokter atau perawat. Cara pandang ini bukan hanya keliru, tapi merendahkan profesi yang setiap harinya memegang tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan pasien. Edukasi publik harus menempatkan flebotomis pada posisi yang layak, yaitu sebagai garda yang memastikan kualitas pemeriksaan laboratorium dan keamanan prosedur donor darah. Selama stigma ini dibiarkan, masyarakat akan terus buta terhadap betapa vitalnya peran mereka dalam pelayanan kesehatan.
Kesimpulan
Selama masyarakat masih meremehkan flebotomis, maka kita bukan kekurangan darah, kita kekurangan kesadaran. Membangun kesadaran dan pemahaman yang benar tentang donor darah dan peran pelaku flebotomi adalah langkah penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyumbangkan darah. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat melihat bahwa donor darah adalah bentuk kontribusi nyata dalam sistem kesehatan yang saling mendukung.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











