"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Dua Rumah Sakit di Jakarta Pusat Negasi Tolak Pasien Baduy Korban Pemerkosaan

Penolakan Pasien Warga Baduy Dibantah oleh Dua Rumah Sakit di Jakarta Pusat

Dua rumah sakit di Jakarta Pusat, yaitu Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih dan Rumah Sakit Yarsi Cempaka Putih, membantah adanya dugaan penolakan terhadap pasien warga Suku Baduy. Hal ini dilakukan setelah munculnya isu bahwa seorang warga Baduy yang menjadi korban begal tidak mendapatkan pertolongan medis.

Direktur Utama RSIJ Cempaka Putih, dr. Jack Pradono Handojo, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak pernah menolak pasien, baik itu memiliki KTP atau tidak. Menurut dia, RSIJ didirikan untuk kepentingan masyarakat kurang mampu. “Kami ingin mengatakan bahwa kami tidak pernah menolak pasien. Punya KTP atau tidak punya KTP, dari Jakarta atau dari Tangerang atau dari Depok, atau dari Bekasi atau dari tempat yang lain,” ujar Jack.

RSIJ juga tidak bergantung pada dividen perusahaan. Surplus laba tahunan digunakan untuk membeli peralatan medis baru, kesejahteraan karyawan, dan dana sosial. Selain itu, RSIJ juga memberikan bantuan kepada warga yang tidak memiliki dokumen kependudukan.

RS Yarsi Cempaka Putih Juga Membantah Isu Penolakan

Selain RSIJ, RS Yarsi Cempaka Putih juga membantah pernah menolak pasien warga Baduy. Direktur Medis RS Yarsi, Muhammadi, menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah kedatangan pasien warga Baduy. “Tidak. Bukan kami,” kata Muhammadi.

Ia menjelaskan bahwa data kunjungan hari itu tidak menunjukkan kehadiran pasien tersebut. “Dan tidak ada data yang kita identifikasi dari teman-teman yang merawat kalau ada kehadiran tersebut,” tambahnya.

RS Yarsi memiliki komitmen untuk tidak menolak pasien mana pun yang sedang membutuhkan pertolongan mendesak. Manajemen RS menurut Muhammadi telah memiliki dana zakat untuk memberikan pertolongan bagi warga kurang mampu. “Jadi saya pikir tidak ada penolakan di RS Yarsi hanya dikarenakan tidak ada biaya itu. Semua kegawatdaruratan, emergensi, anonim, misalnya kan datang tanpa nama pun kita handling dulu. Jadi enggak ada penolakan dari emergency RS,” ucap dia.

Kesulitan Akses Pertolongan Medis oleh Warga Baduy

Sebelumnya, seorang warga Suku Baduy Dalam, Repan (16), kesulitan mengakses pertolongan medis saat mendatangi salah satu RS di Jakarta Pusat. Repan mengalami luka sayat di tangan kiri, sedikit luka di pipi, dan memar di punggung akibat pembegalan.

Repan menceritakan bahwa usai kejadian, ia langsung berjalan kaki menuju RS terdekat. Petugas RS sempat bertanya tentang kartu identitas dan surat administrasi. Namun, sebagai warga Baduy Dalam, Repan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan tidak memiliki surat pengantar karena tidak sempat bertemu warga setelah kejadian.

Petugas RS memberikan bantuan dengan membalut luka Repan menggunakan kain perban. Setelah itu, mereka memintanya menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun, karena tidak tahu alamat RSCM, Repan memilih berjalan kaki menuju rumah kenalannya, Johan Chandra (Nello).

Nello, yang dikenal oleh Repan dan ayahnya selama tiga tahun belakangan, merupakan pelanggan madu yang dijual oleh Repan dan ayahnya. Ketika Repan sampai di rumah Nello, petugas keamanan komplek membantu memencet bel di depan pagar rumah Nello.

Saat mengetahui kondisi Repan, Nello langsung memberikan pertolongan. “Pada saat itu dia (Repan) bilang, ‘sakit, sakit, sakit’. Bahkan sempat menangis. Saya akhirnya membawanya ke klinik di Tomang,” kata Nello menceritakan kejadian tersebut.

Klarifikasi dari Dinas Kesehatan Jakarta

Pada Selasa, pihak berwenang telah mengkonfirmasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, Ani Ruspitawati, perihal kasus yang dialami warga Baduy dan klarifikasi dari kedua RS. Namun, hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Kesehatan Jakarta belum memberikan respons.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *