Hari Ketika Kata “Terserah” Keluar
Ada hari ketika kata “terserah” keluar begitu saja dari mulut saya. Bukan karena pasrah. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena otak saya sedang penuh oleh begitu banyak hal yang perlu saya pikirkan sejak mata terbuka. Sebagai ibu dari dua balita, kata itu sering menjadi pelarian agar saya bisa bernapas sejenak. Sebuah jeda kecil di tengah padatnya ritme sehari-hari.
Terserah yang Datang dari Lelah
Banyak orang mengira “terserah” berarti memberi kebebasan memilih. Padahal, bagi ibu balita, itu sering berarti sebaliknya. Itu tanda saya sudah kewalahan oleh rentetan keputusan kecil yang muncul sejak pagi. Pertanyaan paling sederhana sekalipun bisa terasa rumit.
- Mau sarapan apa.
- Baju yang cocok untuk anak hari ini.
- Bekal siang yang harus disiapkan.
- Apakah si kakak sedang sensitif.
- Apakah si adik butuh lebih banyak pelukan.
- Apakah stok diapers masih cukup.
- Kapan harus mencuci baju berikutnya.
Tubuh saya bergerak. Tapi pikiran berlari lebih cepat. Ketika energi mental mulai menipis, “terserah” bukanlah malas menjawab. Itu adalah sinyal bahwa saya butuh istirahat dari memikirkan hal baru.
Ketika “Terserah” Berarti Tidak Mau Mikir
Ibu adalah manajer rumah tangga yang memegang kendali hampir di semua lini. Kami bisa mengatur banyak hal sekaligus. Namun, kami juga manusia yang bisa lelah. Ada saat ketika saya benar-benar malas berpikir. Malas menentukan pilihan. Malas memikirkan konsekuensi kecil dari setiap keputusan.
“Pilih kamu saja.”
“Bebas.”
“Atur saja.”
Kalimat itu muncul bukan dari sikap manja, tetapi dari keinginan sederhana untuk rehat sejenak dari banjir keputusan kecil.
Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue, atau kelelahan mengambil keputusan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa otak manusia bisa mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika harus membuat banyak keputusan dalam satu hari.
Sebuah riset dari University of Minnesota menunjukkan bahwa proses memilih yang berulang dapat menguras energi mental hingga 20–40%, bahkan untuk keputusan sederhana. Ibu balita adalah kelompok yang hampir pasti mengalami ini setiap hari, karena rutinitas mereka penuh dengan keputusan mikro yang intens.
Ketika “Terserah” Berarti Sedang Bad Mood
Ada hari ketika kata itu keluar bukan karena saya malas memilih, tetapi karena mood saya sedang turun drastis. Kurang tidur membuat emosi lebih rapuh. Tenggat pekerjaan menambah tekanan. Teriakan kecil anak bisa memicu reaksi berlebihan.
Kurang tidur bukan hal sepele. Menurut laporan National Sleep Foundation, orang tua dengan anak balita kehilangan rata-rata 1,5–2 jam tidur setiap malam selama tiga tahun pertama kehidupan anak. Kekurangan tidur memengaruhi mood, kemampuan konsentrasi, dan kestabilan emosi.
Pada titik itu, “terserah” menjadi pagar. Saya tidak ingin bertengkar. Saya tidak ingin salah bicara. Jadi saya mundur sejenak lewat kata itu. Namun sering kali orang menangkapnya sebagai kode misterius, padahal itu hanya ungkapan jujur bahwa saya tidak sedang baik-baik saja.
Mental Load yang Jarang Dibahas
Selain kelelahan fisik dan tidur yang minim, ada satu beban lain yang sering tidak terlihat: mental load. Beban mental yang menumpuk, meski tidak pernah dibicarakan secara langsung.
Ibu memikirkan jadwal dokter.
Ibu mengingatkan vaksin.
Ibu memantau perkembangan anak.
Ibu menyiapkan keperluan sekolah.
Ibu mengatur jam tidur.
Ibu merapikan kekacauan setelah badai bermain.
Semua itu terjadi bersamaan. Tidak ada jeda panjang. Ketika tumpukan ini mulai penuh, “terserah” muncul sebagai alarm. Samar, tapi jelas bagi mereka yang peka.
Momen Ketika Kata Kecil Itu Disalahpahami
Ada satu kejadian kecil yang sering terjadi di rumah saya. Suami bertanya, “Makan apa malam ini?” Saya menjawab singkat, “Terserah.” Baginya, itu berarti saya sedang marah. Padahal, saya hanya tidak ingin memilih lagi hari itu. Saya ingin ada yang mengambil alih. Saya ingin ada keputusan yang dibuat tanpa saya terlibat.
Inilah titik di mana salah paham sering muncul. Bukan karena komunikasinya buruk, tetapi karena banyak ibu terbiasa menahan diri. Banyak hal dipikirkan diam-diam sampai akhirnya kata sederhana menjadi pelampiasan rasa jenuh.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Terdekat
Sebenarnya, tidak sulit membantu ibu balita yang sedang berada di fase penuh tekanan. Tindakan kecil bisa memberi dampak besar.
Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
- Beri pilihan terbatas, bukan pertanyaan terbuka.
- Ambil alih satu atau dua keputusan harian.
- Tawarkan bantuan tanpa perlu menunggu ibu meminta.
- Berikan ruang lima menit bagi ibu untuk bernapas.
- Validasi perasaannya dengan kalimat sederhana seperti, “Kamu pasti capek.”
Kadang ibu tidak butuh solusi besar. Ibu hanya butuh jeda. Butuh ruang tanpa keputusan. Butuh hari tanpa pertanyaan yang sama berulang kali. Dukungan kecil saja sudah cukup untuk mengurangi frekuensi kata “terserah” yang keluar tanpa sadar.
Apa yang Bisa Dilakukan Ibu Itu Sendiri
Dulu saya pikir saya harus kuat. Harus mampu semuanya. Tapi itu ilusi. Kini saya belajar untuk jujur. Kalau lelah, bilang. Kalau butuh bantuan, minta. Kalau stres, akui.
Bukan untuk mengeluh.
Tapi untuk menjaga diri tetap waras.
Saya juga belajar membagi tugas dengan pasangan. Membiarkan ia terlibat dalam peran yang sebelumnya saya pegang sendiri. Tidak semua hal harus saya pikul. Tidak semua keputusan harus lewat saya. Kadang, merapikan isi kepala lebih penting daripada merapikan ruang bermain anak.
Kenapa Kita Perlu Bicara Soal Ini
Kata “terserah” mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, di baliknya ada kisah tentang lelah, tekanan, dan kebutuhan untuk dihargai. Ibu balita hidup dalam ritme yang padat. Mereka butuh ruang untuk berhenti sesaat agar tetap stabil secara mental dan emosional.
Dengan memahami makna kata kecil itu, kita bisa menciptakan rumah yang lebih ramah untuk ibu. Karena ibu yang tenang akan melahirkan suasana rumah yang lebih damai untuk semua anggota keluarga.
Ketika “Terserah” Adalah Permintaan Tolong
“Terserah” bukan kode rahasia. Bukan bentuk manipulasi. Bukan juga tanda tidak peduli. Bagi ibu balita, itu sering menjadi pesan kecil bahwa dirinya:
- Butuh dimengerti.
- Butuh disayangi.
- Butuh ditemani.
- Butuh dibantu.
Memahami kalimat sesederhana itu bisa membuat hari ibu jadi lebih ringan. Dan kadang, itu sudah cukup untuk menyelamatkan satu hari yang hampir runtuh.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











