Pengalaman Pribadi dalam Menghadapi Ancaman di Transportasi Umum
Sebagai seseorang yang sering menggunakan transportasi umum, saya merasa sedih dan kecewa ketika mendengar berita pemerkosaan yang terjadi di Jakarta. Ceritanya adalah seorang perempuan yang memesan taksi online pada pukul 03.30 dini hari menuju Bandara Soetta. Sayangnya, selama perjalanan, ia justru menjadi korban pemerkosaan oleh supir taksi tersebut.
Berita seperti ini membuat kami para perempuan merasa was-was saat menggunakan transportasi umum, khususnya di jam-jam rawan seperti tengah malam atau dini hari. Saya memahami bahwa banyak netizen yang cenderung mengkritik dengan komentar seperti “ya jangan naik di jam malam atau dini hari dong!” Namun, tidak semua situasi bisa dihindari. Ada kalanya kita harus menggunakan transportasi umum di jam-jam tersebut karena kebutuhan.
Misalnya, korban tadi mungkin harus pergi ke bandara untuk mengejar pesawat pagi. Saya sendiri pernah memesan taksi online di tengah malam karena kereta hanya beroperasi hingga jam tertentu. Di jam-jam seperti itu, kita tidak bisa mengandalkan commuter line. Meskipun setiap kondisi bisa diakali, ada juga situasi di mana kita tidak punya banyak pilihan selain menggunakan transportasi di jam-jam rawan.
Sejak merantau ke Jakarta, saya selalu waspada meski di luar jam rawan. Misalnya, ketika harus naik ojol di malam hari ke daerah yang belum saya kenal. Terkadang, abang ojol mengambil jalan pintas melalui gang-gang sempit yang terkesan mencurigakan. Meskipun akhirnya saya tidak diculik, selama perjalanan jantung saya berdebar-debar dan mulut saya terus berdoa.
Pernah juga saya mengantar suami ke agen bus bandara pukul 3 dini hari. Setelah bus berangkat, ada ibu-ibu panik karena kunci motor terbawa suaminya. Ia meminta diantar pulang ke rumah untuk mengambil kunci duplikat. Awalnya saya ragu, bukan karena tidak ingin menolong, tapi karena lokasi rumah si ibu melewati jalanan yang sepi dan terkenal banyak begalnya. Akhirnya, saya antar si ibu dengan posisi membonceng di belakang.
Saya sangat cemas selama perjalanan. Berbagai pikiran negatif bermunculan: bagaimana jika ini hanya skenario? Bagaimana jika saya dibegal? Syukurnya, si ibu tidak berbohong dan kami kembali ke agen bus lagi. Pengalaman ini cukup membuat saya trauma, meski tidak terjadi apa-apa.
Menghadapi situasi semacam itu, saya cukup parno. Saya sering melarang suami memesan taksi online ketika harus mengejar pesawat paling pagi. Lebih baik saya mengalah dan mengantarkannya ke agen bus bandara atau pesan taksi konvensional yang sudah jadi langganan.
Tips untuk Menjaga Diri Saat Naik Transportasi Umum
Berikut beberapa hal yang biasa saya lakukan ketika naik transportasi umum:
1. Berpura-pura Menelpon
Trik ini sering saya gunakan, terutama ketika naik taksi seorang diri. Jika sopir mulai bertanya hal-hal yang tidak nyaman, saya akan pura-pura menelpon. Contohnya, “Halo Mas, ini aku sudah sampai di jalan bla..bla..aku share live location ya!” Atau bahkan pura-pura mengatakan suami atau keluarga saya adalah polisi atau tentara.
2. Selalu Pastikan Share Live Location
Saya sering share live location ke orang yang saya percaya. Ini memberi rasa aman dan membantu orang lain memantau keberadaan saya. Jika kondisi mengkhawatirkan, saya bisa pura-pura menelpon seperti trik pertama.
3. Jangan Jujur-Jujur Amat
Jika diajak bicara, batasi pembicaraan dengan menjawab sewajarnya. Jangan biarkan pembicaraan berkembang terlalu jauh agar sopir tidak tahu kelemahan kita.
4. Pura-pura Jadi Warga Lokal
Kadang, saya bilang bahwa saya asli Jakarta meski sebenarnya perantau. Ini untuk menghindari supir mengetahui bahwa saya tidak punya banyak kawan.
5. Bawa Alat Pertahanan Sederhana
Saya biasa membawa parfum, cairan cabe, atau jarum pentul sebagai alat pertahanan. Hal-hal kecil seperti ini bisa membantu dalam kondisi darurat.
6. Banyak-Banyak Berdoa
Saya selalu berdoa agar perjalanan saya dimudahkan dan dijauhkan dari orang-orang jahat. Doa ini juga bisa membuat sopir sadar dan berhenti melakukan tindakan jahat.
Kesimpulan
Di luar tips-tips di atas, saya juga menerapkan strategi pemilihan transportasi. Misalnya, tidak menggunakan taksi online sendirian di malam hari, dan lebih memilih ojol atau taksi konvensional. Meski tidak sepenuhnya aman, saya merasa lebih nyaman karena bisa memukul kepala mereka jika diperlukan.
Di masa depan, saya berharap tidak ada perempuan yang menanggung trauma karena kejahatan di transportasi umum. Sudah saatnya setiap perempuan bisa beraktivitas dengan rasa aman.











