JAKARTA – Kepercayaan diri adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. Namun, apabila kepercayaan diri berlebihan, maka hal tersebut bisa menimbulkan dampak negatif. Salah satu dampak buruk dari kepercayaan diri yang berlebihan adalah gangguan kepribadian yang berkaitan dengan kesehatan mental. Gangguan ini dikenal sebagai gangguan kepribadian narsistik atau narcissistic personality disorder (NPD).
Pengertian NPD
Menurut informasi dari Help Guide, NPD adalah salah satu masalah kesehatan mental. Meski kata narsisme sering digunakan dalam budaya kita yang cenderung terobsesi pada diri sendiri, seseorang yang mengidap NPD memiliki perilaku yang lebih mengganggu. Gangguan ini ditandai oleh perasaan mementingkan diri sendiri secara berlebihan, kebutuhan akan perhatian yang tidak pernah puas, hingga perilaku eksploitatif dalam hubungan interpersonal.
Ciri-ciri Seseorang Mengidap NPD
Berdasarkan data dari Mayo Clinic, gangguan kepribadian narsistik melibatkan pola pikir dan perilaku yang egois, arogan, kurang empati, serta kebutuhan untuk selalu mendapatkan penghargaan dari orang lain. Orang dengan NPD seringkali dianggap sombong, manipulatif, egois, dan banyak menuntut oleh orang lain.
Beberapa ciri utama dari seseorang yang mengidap NPD antara lain:
Mementingkan diri sendiri, membutuhkan pujian, dan bersikap berlebihan
Merasa bahwa dirinya layak diperlakukan secara khusus dan istimewa
Berharap diakui sebagai orang yang lebih unggul dibandingkan orang lain meskipun tidak memiliki prestasi nyata
Terlalu sibuk dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kecemerlangan, kecantikan, atau pasangan sempurna
Menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain dan hanya ingin bergaul dengan orang berstatus tinggi
Bersikap kritis dan meremehkan orang yang dianggap tidak penting
Mengharapkan bantuan khusus dan menginginkan orang lain melakukan apa yang mereka inginkan tanpa pertanyaan
Keinginan untuk memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi
Kurangnya kemampuan untuk mengenali kebutuhan dan perasaan orang lain
Iri pada orang lain dan percaya bahwa justru orang lain yang iri padanya
Memiliki perilaku sombong, banyak membual, dan terlihat angkuh
Bersikeras untuk mendapatkan hasil yang sempurna atau terbaik dalam segala hal
Kesulitan NPD dalam Menangani Gangguan Kepribadiannya
Seseorang dengan NPD sering kali kesulitan dalam menghadapi kritik. Hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi tidak sabar atau marah ketika tidak mendapat pengakuan atau perlakuan khusus dari orang lain. Selain itu, mereka juga sulit berinteraksi dengan orang lain dan mudah merasa diremehkan. Reaksi kemarahan sering kali dilakukan untuk membuat dirinya tampak lebih unggul.
Mereka juga kesulitan mengontrol emosi, mengatasi stres, dan beradaptasi dengan perubahan. Di beberapa situasi, mereka cenderung menarik diri atau menghindari situasi di mana mereka mungkin gagal. Rasa tertekan dan ketakutan akan kegagalan sering kali menghiasi pikiran mereka.
Faktor yang Menyebabkan NPD
Beberapa faktor risiko yang dapat berkontribusi pada perkembangan NPD antara lain:
1. Faktor Genetik dan Biologis
Riwayat keluarga dengan gangguan kepribadian, termasuk NPD, dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kondisi ini.
2. Faktor Lingkungan
Pengalaman lingkungan selama masa perkembangan, seperti pengasuhan yang tidak konsisten, terlalu permisif, atau trauma dan pengabaian selama masa kanak-kanak, dapat berkontribusi pada perkembangan NPD.
3. Gangguan Kepribadian dan Kesehatan Mental Lainnya
NPD sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian lain seperti antisosial atau histrionik. Individu dengan gangguan ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan NPD.
Cara Mengatasi NPD
Menurut Healthline, tidak ada obat spesifik untuk mengatasi NPD. Namun, kondisi ini masih dapat dikelola melalui pengobatan, terutama melalui terapi bicara atau psikoterapi. Terapi ini dapat membantu individu belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain dengan lebih baik, sehingga hubungan tersebut menjadi lebih menyenangkan dan bermanfaat.
Selain itu, perubahan gaya hidup juga dapat membantu. Misalnya, menghindari zat yang memicu perilaku bermasalah, memahami kebiasaan hidup sehat, serta melakukan teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi untuk mengurangi stres dan kecemasan.











